Pukul tiga dini hari. Jakarta masih tertidur. Gang-gang kecil masih gelap. Suara kendaraan hampir tak terdengar. Sesekali hanya ada suara kucing yang melompat dari atap ke atap.
Di rumah Bu Tini sebuah lampu kecil menyala di salah satu kamar. Sari sudah bangun.
Gadis berkulit kuning langsat itu berjalan perlahan menuju tempat wudu. Air yang dingin membasuh wajah dan kedua tangannya. Lalu mengalir melewati rambut dan kedua kakinya.
Selesai berwudu Sari mengenakan mukena putih yang sudah sering dipakainya.
Rumah masih sunyi. Bu Tini masih tidur di kamarnya dan Yadi masih tidur di ruang tengah beralaskan kasur tipis dan tikar.
Sementara Sari membentangkan sajadah di kamarnya. Lalu berdiri menghadap kiblat. Takbir. Dua rakaat. Bacaan demi bacaan mengalir pelan dari mulutnya. Tenang. Lalu pada sujud terakhir Sari tidak segera bangkit. Dahinya tetap menempel di sajadah lebih lama daripada biasanya. Seolah ada sesuatu yang masih ingin ia titipkan. Sesuatu yang terlalu besar untuk diputuskan sendiri.
Setelah salam Sari tetap duduk. Kedua tangannya terangkat. Matanya terpejam. Pelan-pelan ia berdoa. Yang ia pinta bukan harta atau kemudahan hidup, tapi petunjuk.
"Ya Allah...Kalau memang dia baik untuk agamaku...baik untuk hidupku...dan baik untuk masa depanku...dekatkanlah."
Sari menghela napas sesaat. Lalu melanjutkan doanya.
"Kalau tidak baik untukku...maka jauhkanlah."
Doanya terhenti sesaat. Tanpa diminta sebuah wajah muncul di dalam benaknya.
Sofian.
Dengan senyumnya yang selalu lebih dulu datang daripada kata-katanya. Sofian yang tidak pernah kehabisan bahan cerita. Yang selalu mampu membuat suasana menjadi ringan tanpa pernah terdengar sombong.
Sofian yang datang setiap siang meski hanya untuk menikmati nasi uduk yang sudah dingin.
Pemuda yang suka ceplas-ceplos saat bicara, yang entah sejak kapan mampu membuat dirinya ikut tersenyum setiap kali mendengar suara motor tuanya memasuki gang.
Air mata tipis mulai menggenang di sudut mata Sari.
"Ya Allah..." batinnya lirih.