Menjelang tengah hari, motor tua itu kembali di depan rumah di ujung gang kecil. Suara mesinnya yang khas sudah begitu akrab di telinga penghuni rumah Bu Tini.
Brumm...Brumm...
Bu Tini yang sedang mengiris timun langsung menoleh ke arah depan warung. Beliau tersenyum kecil. Tanpa perlu melihat lebih lama, beliau sudah tahu siapa yang datang.
"Sar..."
Beliau memanggil ke arah dalam rumah.
"Ada pelanggan, nih."
"Iya, Bik."
Suara Sari terdengar dari dapur.
Beberapa detik kemudian Sari keluar sambil merapikan celemeknya. Begitu matanya bertemu dengan Sofian langkahnya otomatis melambat.
Sofian berdiri di samping motor tuanya. Dengan senyum yang sama seperti biasanya. Senyum yang entah kenapa selalu berhasil membuat Sari ikut tersenyum. Pipinya langsung memerah.
Bu Tini melihat itu. Beliau tersenyum tipis. Lalu pura-pura sibuk.
"Ya udah...Bibi masuk dulu."
Sari semakin salah tingkah.
"Iya, Bik..."
Kini tinggal Sofian dan Sari berdua di depan warung. Sari berusaha terdengar biasa.
"Makan?"
Sofian mengangguk.
"Biasa."
Sari mengambil sepiring nasi uduk. Lauk yang masih tersisa.
Lalu diam-diam menambahkan beberapa gorengan yang baru saja diangkat dari wajan. Masih hangat. Teh hangat pun menyusul.
Semuanya diletakkan pelan di depan Sofian.