“GREYSIA!”
Panggilan keras itu membuat Grey terperanjat. Ia tersentak bangun dari lipatan tangannya, langsung disambut suasana kelas yang sudah tidak asing.
“Kenapa kamu tidur? Jam pelajaran saya sudah dimulai!” bentak Pak Jarwo, guru Biologi yang terkenal galak.
“Ma-maaf, Pak. Saya pusing,” kilat Grey refleks, mencari alasan.
Alis Pak Jarwo berkerut. Awalnya ia ingin lanjut mengomeli Grey karena yakin itu hanya alasan klasik murid yang tertangkap basah tidur. Namun, begitu melihat dahi Grey yang benjol biru keunguan, hatinya melunak. “Kalau begitu tidur di ruang kesehatan, jangan di sini!” dengusnya sambil berbalik menuju meja guru.
“Siap, Pak!” Grey segera beranjak, menutupi wajahnya dari tatapan meledek teman-teman sekelas—yang pasti sengaja tidak membangunkannya tadi.
“Aduh, pusing beneran kepala gue!” gerutu Grey sambil berjalan menuju UKS.
Tiba-tiba tertidur, mimpi masa lalu, lalu dibangunkan guru killer dengan kepala pening. “Ada apa sih sama hari ini?” keluhnya pada udara kosong.
Ia memasuki ruang kesehatan yang dingin dan bersih, lalu langsung menuju kasur favoritnya di pojok ruangan. Tanpa sempat menutup gorden, ia merebahkan diri. “Mending tidur sebentar. Pusing!” gumamnya sambil menutupi mata dengan lengan kanan.
BRAK!
Pintu UKS terhentak terbuka. Grey yang baru setengah terlelap langsung terperanjat lagi, membelalak dan terduduk. Matanya membulat bingung melihat beberapa staf sekolah dan satpam masuk membopong seorang siswa.
Dahi Grey otomatis berkerut. Ia yakin belum pernah melihat siswa ini sebelumnya. Badannya sangat tinggi—mungkin lebih dari 180 cm. Zumi yang kapten basket saja pasti akan terlihat pendek jika berdiri di sampingnya.
“Diam di sini sampai jam sekolah selesai!” bentak salah satu staf sebelum keluar ruangan. Tampaknya mereka tidak sadar ada Grey di pojok ruangan.
Jantung Grey berdegup kencang karena kaget, kepalanya makin berdenyut karena mendadak bangun. Ia masih berusaha mencerna keadaan saat tatapannya bergeser pada cowok yang kini duduk di kasur lain, berselang satu ranjang darinya.
Rasa penasaran mulai merayap. Grey turun dari kasur dan mendekat perlahan ke arah cowok yang duduk membelakanginya itu.
“Ehem!” Grey berdehem pelan.
Hening. Cowok dengan bulu mata lentik dan alis rapi itu tidak bergerak seinci pun. Hanya suara detik jam dan desis AC yang mengisi ruangan.
Grey menggaruk kepala, lalu membungkuk sedikit untuk melirik wajah cowok yang kulitnya bahkan lebih putih darinya itu. “Anak baru, ya?” tanyanya, berusaha ramah dengan senyum yang dipaksakan.
Tetap tidak ada jawaban.
“Gue Grey,” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan.
Kali ini, cowok itu menoleh. Namun, tatapannya dingin dan masam.
“EH!” pekik Grey, menunjuk wajah cowok itu. “Lu kenapa? Berantem?”
Saking terkejutnya, Grey sampai tidak sadar baru saja ditanggapi dengan sinis. Ia memperhatikan luka lebam yang cukup parah di wajah cowok yang—menurut papan namanya—bernama Albitra V. ini. Hidungnya mancung, rahangnya tegas, namun bibir tipisnya masih terkatup rapat.
Grey mulai bertanya-tanya, ada berapa banyak anak baru hari ini? Dua orang berantem di lapangan, dan sekarang muncul satu lagi yang babak belur. Melihat luka di pipi dan bibir Albitra, Grey tiba-tiba merasa iba. Luka di dahinya sendiri jadi terasa tidak ada apa-apanya.
Saat Grey sibuk dengan pikirannya, diam-diam Albitra melirik ke arah papan nama di seragam Grey.
“Heh!” seru Grey refleks menutupi dadanya saat sadar arah pandangan Albitra.
Albitra langsung membuang muka, seolah tidak peduli Grey salah paham atau tidak.
“Eh, lu belum jawab! Lu berantem? Atau kenapa?” todong Grey lagi.
“Not your business (bukan urusan lu)!” sahut Albitra ketus.
Mata Grey melebar, giginya beradu menahan kesal. Hampir saja ia menyemburkan umpatan kalau tidak buru-buru mendinginkan kepalanya. Dalam hati, Grey benar-benar menyesali keputusannya untuk datang pagi hari ini. Ternyata rajin itu memang membawa petaka. Ia kembali ke kasurnya, merebahkan diri dengan kasar lalu menutup matanya lekat-lekat. Masa bodoh dengan keadaan disekitarnya yang serba berantakan ini, ia mau tidur saja.