D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #3

3. See you tomorrow!

Bel tanda istirahat baru saja berbunyi tapi Gemini Eka atau Ge, dan Indra Wiguna, yang akrab dipanggil Iwe, sudah duduk santai sembari minum jus jambu sejak sepuluh menit yang lalu.

“Gue berani taruhan!” seru Ge tiba-tiba. Berhenti menyeruput jus jambunya. “Grey, pasti telat lagi hari ini.” Kali ini ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajah Iwe dengan sedotan yang ujungnya penuh bekas gigitan.

Iwe menggeleng dengan penuh percaya diri, “Nggak mungkin dia telat hari ini. Ini kan hari Jum’at.” Ia memastikan ucapannya dengan segera menilik kalender di ponselnya untuk memastikan. Padahal jelas-jelas ia memakai seragam batik hari Jum’at dan sudah melewati beberapa jam pelajaran yang jelas-jelas ada di hari Jum’at.

Tawa Ge meledak, “Widihhh, emang bener lu ya, We. Fans sejatinya Grey! Sampai tahu hari apa aja jadwalnya dia telat.” Ia menutul-nutul ujung sedotan ke wajah Iwe, yang pastinya langsung menarik wajahnya karena jijik terkena ludah Ge yang ada di sedotan. “Pokoknya kalo hari ini Grey telat, lu beliin gue batagor, We!” Ia melemparkan sedotannya ke Iwe.

Tuk! Segumpal kertas mendarat tepat di kepala Ge, ia menengok mencari dari mana asal kertas itu. Tak perlu berusaha sampai ia mendapati Grey yang tengah berjalan ke arah mereka dengan tangan kanan di pinggang dan muka menekuk kesal.

“Kebiasaan lu ya pada! Iya gue telat hari ini. Puas kan lu?”

“Weeets! We, buru beliin gue batagor. Buru!” desak Ge tak memperdulikan wajah Grey yang merengut bad mood karena tingkahnya, ia malah sibuk mendorong-dorong bahu Iwe yang ternyata benar kalah taruhan. Aji mumpung hari ini dia sudah kehabisan uang jajannya tapi masih ingin makan batagor. Makanya dia mengusulkan taruhan ini, yang jelas-jelas dia sudah tahu tadi pagi dari Mini kalau Grey telat masuk kelas.

Iwe memang langsung bangun dari tempat duduknya, tapi ia tak segera berjalan ke tukang batagor. Malah sibuk cengar-cengir di hadapan Grey yang sekarang sedang duduk bertopang dagu di seberang Ge. “Grey cantik,” panggilnya lembut, mendayu. “Mau aku beliin batagor juga?”

“Yeeee! Asbak!” Kaki Ge langsung terayun menendang kaki Iwe di bawah meja, “Malah kecentilan! Cepet beliin batagor!” tuntutnya, terus menendang-nendang. Sampai bibir cowok berkacamata dengan bingkai hitam tebal itu manyun dan beranjak pergi ke tukang batagor.

Meskipun di hadapannya ada keributan antara Ge dan Iwe, dan di sekeliling kantin riuh rendah suara siswa lain menyelimuti. Grey malah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Empat hari sudah berlalu, sejak isu Zumi ditantang oleh seseorang, dan katanya izin pulang cepat karena terluka. Tapi sampai hari ini, masih belum ada kejelasan siapa yang menantang dan siapa yang menang.

Grey pun, berhasil menghindari Albitra selama beberapa hari ini. Rasa bersalah, rasa kesal, dan rasa was-was nampaknya membangun pertahanan dalam dirinya. Matanya seolah mendapat sinyal khusus, ketika cowok itu muncul dalam jarak beberapa meter—yang masih terbilang jauh—dia sudah menangkap sosoknya dan bersiap menghindar.

Sampai saat ini pun dia belum bercerita ke siapapun tentang yang terjadi di Ruang Kesehatan hari itu, sambil terus berharap, si Albitra, anak baru—yang ternyata adalah anak dari orang tua Korea-Amerika yang Silo sebut, keberadaannya langsung jadi gosip panas di seantero sekolah dan bahkan Silo setiap hari selalu membahas sosoknya—itu tidak menceritakan kejadian hari itu ke siapapun. Pun berharap, orang yang menantang Zumi bukan Albitra, kalaupun ia, tiap hari saat membuka mata Grey berharap, cowok itu lah yang kalah.

Mengingat betapa babak belur wajahnya hari itu, bisa jadi dia yang kalah kan?

Tapi, masalahnya, sampai hari ini Grey belum melihat bagaimana keadaaan Zumi. 

Apa mungkin keadaannya lebih parah?

Memikirkan hal itu saja kepalanya sudah pusing. Tapi pagi ini, saat ia buru-buru berangkat sekolah, berlari ke luar rumah dengan sepatu yang belum dipakai sempurna dan akhirnya tersungkur jatuh di depan pagar rumahnya.

Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ia memperhatikan keadaan rumah Rino. Spanduk Ray White yang bertuliskan “Dijual / Disewakan” di depan rumah itu entah sejak kapan sudah tak tergantung di pagar.

Saat dirinya masih termenung di depan pagar, padahal Pak Anto sudah memanggil-manggil namanya dari dalam mobil dan mengingatkan kalau dia akan terlambat sampai di sekolah, pagar rumah itu terbuka.

Grey reflek menarik tubuhnya kembali ke balik tembok yang membatasi pekarangan rumahnya dan rumah Rino. Kepalanya sedikit dijulurkan, mengintip di antara sela pagar siapa orang yang keluar dari sana. Tak terlihat jelas, yang pasti dia laki-laki, mengenakan seragam putih abu-abu juga sama seperti dirinya. Menggunakan helm hitam dan mengendarai motor hitam besar yang. suaranya menderu-deru. Dari persembunyian Grey berusaha mempertegas pandangannya, tapi bahkan sampai motor itu lewat dan hilang di ujung jalan, ia belum melihat wajah orang itu dengan jelas.


Suara piring yang diletakkan lumayan kencang di atas permukaan meja di hadapan Ge, menyadarkan Grey dari lamunannya. Di hadapannya, kini Iwe sedang meletakkan sepiring batagor lagi dengan hati-hati dan senyum yang selalu tak dilepaskan setiap kali memandang Grey. “Di abisin ya Grey,” ujarnya cengar-cengir tak karuan, menyuap satu potongan batagor dari piringnya sendiri.

“Giliran ngasih piring gue di lempar, giliran ke Grey manis banget. Modus mulu lu, Buduk!” hina Ge, disambut lirikan sinis dari Iwe.

“Haiiii~” Suara manja dan mendayu seperti ini, di sekolah cuma satu orang yang punya. Siapa pun juga tahu kalau orang yang sedang berjalan mendekat itu adalah Silo, namun dia tak sendirian, ada Gemini Dwi, atau yang sudah akrab dipanggil Mini, menyusul di belakangnya. Karena kepribadian feminin mereka yang cukup mirip, mereka memang sering jalan bareng, dengan ‘urusan’ mereka yang kerap tak nyambung dengan Grey apalagi Ge.

Lihat selengkapnya