“GREY! ADUH GREY LU DARI BAYI SAMPAI GEDE GINI TIDUR MULU KERJANYA! BANGUN WOY!” Perintah Gwen—kakak Grey yang empat tahun lebih tua—sambil menarik jauh selimut dan menggoyang-goyangkan bahu Grey dengan kasar. “Bangun ayo, temenin gue!” tuntutnya, tak peduli kalau adiknya langsung pusing karena belum kumpul nyawanya sebangun tidur, tubuhnya sudah diguncang-guncang kasar.
“Aduh apaan sih!” keluh Grey, menggaruk kepalanya kasar. Frustasi.
“Buruan, lu kan udah janji nemenin gue beli baju!” tuntut Gwen.
Sambil mengerjap-ngerjap matanya, Grey berusaha memahami maksud dari perkataan Gwen, sekarang dia baru ingat. Minggu lalu, saat Gwen bilang dia akan beli baju untuk acara after party wisudanya, Grey mengiyakan waktu diminta untuk menemani. Sebuah keputusan tanpa pikir panjang, yang langsung ia lupakan, dan sekarang jelas ia sesali.
“Ayo buruan!” desak Gwen, lagi-lagi mengguncang bahu Grey.
“Iya, iya, ah!” dengus Grey sambil mengangkat kepalanya dari bantal.
Jelas, kegiatan yang akan dia lakukan ini tak akan menyenangkan. Berbeda dengan kebanyakan cewek yang suka muter-muter Mall untuk sekedar ‘mencuci mata’, Grey tipikal orang yang langsung menuju tempat yang menjual barang yang hendak dia beli—benar-benar memang ingin ia beli, pilih dengan cepat, langsung pulang setelahnya.
Tapi Gwen, jelas tipikal cewek kebanyakan, bisa dibilang malah lebih parah.
Dan benar saja, dua jam kemudian, saat kaki Grey sudah mulai pegal karena terus menerus keliling Mall, Gwen masih belum membeli satupun baju, masih saja memilih-milih warna yang dimata Grey tak terlalu kentara apa beda antara satu sama lainnya.
Berkali-kali Grey mengetuk-ketukkan ujung sepatu ketsnya di lantai. Awalnya ia hanya bersandar di dinding. Lalu dalam beberapa menit, ekspresinya mulai terlihat mulai gelisah, ia mulai terus menerus melirik jam tangannya, dan dalam dua menit terakhir sudah mulai diiringi dengan decak resah.
Di hadapannya Gwen melirik sebal, makin diperhatikan Grey bukannya membantu malah mengganggu. “Ngapain sih ngeliatin jam mulu?” tanya kakak keduanya ini, meletakkan kembali baju yang sedang dipilih-pilihnya ke rak. “Mau pulang? Mau tidur lagi? Nggak capek apa lu dari bayi sampai tua begitu tidur mulu kerjaannya!” tambah Gwen yang sudah mulai kumat sifat bawelnya. “Mending lu pilih-pilih baju juga! Dandanan lu makin hari makin gak proper tau gak!” Tudingnya ke outfit yang Grey kenakan hari ini. T-shirt biru dongker yang oversized, dan celana kulot warna khaki yang juga gombrong dan ujungnya menggantung di bawah lutut.
Grey melirik sebal, kembali berdiri tegak sambil menarik tali tas selempangnya yang ada di bahu. “Gue tuh ada latihan cheers tahu! Bisa telat nih!” Ia menunjuk-nunjuk jam di tangannya.
“Ye, bukan bilang dari tadi lagian. Yaudah sana pergi!” usir Gwen tak acuh, kembali sibuk memilih-milih baju.
Grey tersenyum girang, tahu akan semudah ini dari sejam lalu saja dia izin pergi. “Gue pergi dulu ya, Kak!” ujarnya langsung berlari pergi.
Tangan Gwen yang sedang memegang blouse warna peach berhenti di udara, dia melongo, menengok ke arah Grey yang sedang berlari menjauh. “Sejak kapan dia manggil gue kakak, dia kan adik durhaka!” gumamnya, lalu mengedikkan bahunya dengan bibir bawah maju dan dagu berkerut. “Bocah penampilan begitu jadi ketua cheers, masih gak abis pikir gue,” lanjutnya, sambil kembali memilah-milah blouse yang berwarna peach dan jingga.
***
Beruntung siang hari di akhir pekan kali ini jalanan tak semacet biasa. Meskipun telat hampir belas menit, Grey masih bisa sampai di sekolah lebih cepat dari yang diperkirakan. Ia langsung menyeberangi lapangan tempat anak-anak basket sedang latihan dan menabrak pintu aula tempat mereka latihan cheerleader. Dan berdiri di ambang pintu dengan terengah.
“Sorry gue telat!” seru Grey sungguh-sungguh merasa bersalah.
Beberapa di antara anggota cheers tak memperhatikan kedatangannya, karena musik yang diputar lewat penyuara begitu kencang dan menggema. Meski begitu, ada juga di antaranya yang hanya tersenyum dan mengangguk mafhum.
Namun bukan berarti ia tak mendapat masalah, Danish, orang yang paling suka mencari gara-gara dengannya, langsung bangkit dari kursi dan menghampiri. Dengan tatapan memicing dingin dan kedua tangan dilipat di depan dadanya yang membusung sombong. Ia melenggang mendekat dengan intimidatif.
“Sorry lu bilang? Nggak becus banget sih lu! Baru jadi leader beberapa bulan aja udah dateng latihan seenaknya,” serangnya menghakimi. “Mentang-mentang pelatih nggak ada.”
Grey mengerutkan dahinya. Peluh di dahinya belum kering karena berlarian menuju aula tadi. Nafasnya pun belum sepenuhnya lancar. Ia tak ingin terlibat pertengkaran yang menambah lelah badannya. “Apaan sih lu, Dan? Gue juga nggak sengaja telat, gue udah buru-buru!” sahutnya, berusaha mengabaikan.
“Sengaja atau nggak mana gue tahu,” sindir Danish, sebelah bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
Rahang Grey refleks merapat, “Jadi lu nuduh gue sengaja datang telat?” Suaranya langsung meninggi.
Seisi ruangan yang semula riuh dan tak menaruh perhatian, mulai teralihkan. Musik dimatikan, semua mata tertuju pada Grey dan Danish, yang sejak awal memang tak pernah akur dan terang-terangan menunjukkan rivalitas yang sengit. Bahkan di pemilihan leader akhir di awal tahun ajaran baru enam bulan lalu, suara jajak pendapat di antara keduanya hanya berselisih tipis. Dimenangi oleh Grey yang memang berusaha sangat keras untuk posisinya ini.
“Jujur? Iya!” Tuduh Danish, makin mendekat.
“Mau lu apa sih, Dan? Asal lu tau ya, gue juga nggak bakalan jadi leader kalau selama periode penentuan kemarin lu becus!” Serang Grey, juga mendekat, dengan dagu terangkat tinggi.
“Jangan sembarangan lu kalau ngomong!” Danish berang, tangan kurus dan panjangnya mendorong bahu Grey kencang.
Tersentak selangkah ke belakang, Grey langsung maju lagi. “Apa? Mau berantem lu?” Grey balas mendorongnya dengan lebih keras.