D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #5

5. RINO?

“Main kemana kek gitu, males banget gue kalau langsung pulang. Berasa anak bener deh gue rasanya kalau pulang siang,” rengek Ge, menghentak-hentakkan kedua kakinya bergantian di aspal, mirip anak kecil yang merajuk minta beli mainan. Ia bergeming untuk meninggalkan sisi mobil Grey, yang sejak tadi memilih diam seribu bahasa dan sudah siap langsung pulang, karena tak mood main.

Grey kehilangan keseluruhan semangatnya hari ini.

Setelah pertengkaran memalukannya dengan Danish, kejutan pengumuman dari Zumi yang sangat tak ia harapkan, ia dan timnya pada akhirnya memutuskan untuk tak melaksanakan latihan hari ini. Beberapa orang langsung pulang, sisanya duduk-duduk di pinggir lapangan untuk melihat tim basket latihan pertama kali dengan kapten baru. Termasuk Grey dan para sahabatnya.

Namun untuk Grey, apa yang ia lakukan tadi tak sepenuhnya sukarela. Sesungguhnya ia enggan berlama-lama disana, ia kesal tiap kali melihat Albitra. Di dadanya terasa muncul bongkahan batu yang mengganjal aliran darah dan membuat kepalanya terus berdenyut-denyut saat melihat Zumi memberikan penjelasan ke cowok bongsor itu, serah terima tanggung jawab.

Sepanjang latihan, Albitra yang mulai menerima instruksi dari pelatih, namun kelihatan betul kalau anggota timnya masih memilih mendengarkan Zumi ketimbang dirinya.

Dan sialnya, melihat hal itu Grey malah kasihan padanya, padahal jelas-jelas Grey ada di pihak yang sama dengan anggota tim basket yang tak mau menerima keberadaan Albitra sebagai pemimpin baru mereka itu, tapi dasar hati lemahnya, malah tergerak oleh kesungguhan Albitra berlatih hari ini. Ia jadi makin kesal dengan dirinya sendiri. Benar-benar ingin segera meninggalkan tepi lapangan.

Akan tetapi sudah menjadi peraturan tak tertulis bagi Grey dan kawan-kawannya, tentang mereka yang harus pulang bersamaan setiap selesai kegiatan klub—tak ada yang boleh lebih dulu kecuali ada urusan jelas. Dan Ge, termasuk di dalamnya. Sebagai satu-satunya di antara sahabatnya yang beda sendiri klubnya, Ge jelas sedang berlatih bersama tim basketnya. Jadi Grey tak punya pilihan lain selain ikut bergabung dengan Mini dan Silo, meskipun dia tak mood untuk menatap ke arah lapangan. Padahal Zumi ada di sana, tapi Albitra juga di sana. Jadi dia memilih mengotak-atik ponselnya sembarang.

“Emang lu pernah jadi anak baik?” celetuk Silo bersandar di pintu mobil Grey, langsung mendapat lirikan sinis dari Ge.

Bukan hanya Ge, sebenarnya Grey juga melirik tak kentara ke Silo.

Tadi sepanjang menunggu Ge. Di sebelahnya, Silo tak henti-hentinya meneriakkan nama Albitra dengan histeris, teramat semangat, mengesampingkan malu. Hampir seolah Albitra adalah salah satu anggota dari boyband Korea favoritnya yang sedang ada di depan mata. Silo sungguh menunjukkan ketertarikannya terang-terangan dan membabi buta. Tak memperdulikan orang sekitarnya. Terutama Grey, yang sebenarnya dalam hati tak senang dengan hal itu.

Apa dia tak mengerti? Pikir Grey. Padahal Silo tahu kalau Grey menyukai Zumi. Tapi bisa-bisanya dia jadi orang yang paling semangat mendukung sosok Albitra yang menggantikan posisi Zumi di lapangan tadi.

“Kerumah lu aja yuk Grey, udah lama nggak main ke rumah lu!” Bujuk Ge, masih berusaha. Ia meraih tangan Grey yang sejak tadi bersedekap, dan mengayun-ayunkannya.

Jarang terjadi, kali ini Silo mengangguk, sependapat dengan perkataan Ge. “Gue juga pengen ke rumah lu!” Ia langsung meraih tangan Grey yang lain, mengalungkan tangannya sendiri, menggoyang-goyangkannya dengan manja. Tatapannya menyipit penuh harap.

Beberapa detik menatap bergantian ke kedua sahabatnya yang jarang-jarang sepaham ini, Grey akhirnya menghela nafas pelan. Muncul rasa bersalah karena diam-diam kesal ke Silo hanya karena sahabatnya ini menunjukkan ketertarikan pada Albitra. Padahal perasaannya sama sekali bukan tanggungjawab Silo, kan? Grey merasa dirinya teramat picik.

“Ayo!” Angguknya kemudian. Berbalik badan dan hendak membuka pintu mobilnya saat matanya menangkap gerakan cepat melesat dari seseorang yang menuju ke arahnya.

“Pada mau kemana?” tanya Iwe, sampai di hadapan dengan nafas terengah yang tak bisa diabaikan.

Dengan alis terangkat sebelah, Silo yang maju untuk menjawab, “Kerumah Grey. Kenapa emang?”

“Oke!” seru Iwe sambil menepuk tangannya sekali. Membuat ketiga gadis dihadapannya memandangnya heran. “Kalau gitu ayo!”

“Yeeee, Baskom!” Tahan Ge dengan kedua telapak tangannya. “Siapa yang mau ngajak lu! Pulang lu pulang! Hush!” usirnya, mendorong-dorong bahu Iwe agar ia menjauh dari depan pintu mobil, sementara Grey dan Silo langsung masuk ke dalam mobil.

Ge menyusul masuk, duduk di sebelah bangku supir dan, Pak Anto, seperti sudah bisa membaca pikiran gadis-gadis ini, buru-buru mengunci pintunya.

Iwe gagal membuka pintu mobil, berusaha memanggil-manggil dari luar mobil, tapi ketiga gadis itu hanya tertawa sambil melambaikan tangan sementara mobil bergerak maju.

“Oh iya, jadi Mini sebenarnya kemana sih, Ge?” tanya Grey, karena sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi, ia lupa belum mengkonfirmasi alasan ketidaklengkapan formasi mereka kali ini.

“Iya, kok tumben kalian punya urusan gak sama,” timpal Silo.

Ge berhenti menertawakan Iwe, masih berusaha untuk terlihat biasa padahal matanya memancarkan kekhawatiran.

Meski hanya melihat punggungnya, Grey bisa merasakan kejanggalannya. Jeda diam ini terlalu lama untuk orang seukuran Ge yang ceplas-ceplos dan jarang berpikir saat bicara. Ia memajukan badannya sedikit, mencolek punggung Ge dari sela antara sandaran kursi dan pintu mobil. “Kenapa?” tanyanya pelan.

“Entar aja,” sahut Ge, sedikit menengok ke arah Silo yang tengah sibuk memilah-milah hasil foto Albitra yang ia ambil di lapangan tadi. Grey bisa menangkap maksudnya, Ge tak ingin Silo tahu tentang hal yang akan ia sampaikan, jadi ia pun mengangguk paham. Lalu ketika Silo memandang ke arah mereka, dan bertanya ‘kenapa’ keduanya secara alami langsung kembali membahas Iwe dan tertawa cekikikan, sepanjang sisa perjalanan hingga tiba di rumah Grey.


Seperti biasanya, begitu sampai dirumah Grey yang asri karena banyak pepohonan di halamannya. Ge menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi dengan kencang. Berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen yang lebih murni dari tempat manapun yang hari ini dia datangi. Sambil berjalan mendekati pintu rumah, ia menikmati sejuknya udara yang bergerak menjadi angin, meniup dahan-dahan pepohonan, dan menerpa wajahnya.

Begitu memasuki ruang tamu, tanpa malu-malu Ge langsung melempar tubuhnya di sofa ruang tamu yang berwarna putih tulang yang bersih terawat dan samar-samar tercium bau harum. Silo juga langsung duduk bersandar sembari memeluk bantal kursi yang nampak terlampau besar untuk ukuran tubuh mungilnya. Dan Grey, seperti biasa yang selalu ia lakukan, langsung naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya untuk mengganti baju.

Tak berapa lama Giva, Ibu Grey, keluar dari dapur tangannya sudah membawa nampan yang ada dua gelas jus jeruk, juga makanan ringan di atasnya, menyapa Ge dan Silo dengan senyum ramah.

“Sore, Tante! Ya ampun nggak usah repot-repot,” ujar Ge basa-basi padahal tangannya langsung menyambar gelas yang baru sedetik menyentuh meja, dan menyeruput jus jeruk itu dengan suara berisik yang membuat Silo reflek melirik sinis.

Giva yang cenderung pendiam hanya tersenyum melihat tingkah laku Ge yang selalu seperti bocah laki-laki sejak awal dia mengenal anak ini. Ia duduk di sisi lain sofa, kemudian menanyakan hal-hal seperti biasa; bagaimana hasil ulangan semester kemarin, bagaimana keadaan sekolah dan apa kesulitan yang akhir-akhir ini mereka alami. Seperti selalu, Silo yang lebih banyak menjawab, ia langsung mendahului ketika Ge hendak membuka mulutnya untuk bicara, karena menurutnya lebih baik dia yang menjawab, ketimbang Ge yang omongannya suka melenceng tak pada tempatnya.

“Ayooo! Mama gangguin temen Grey ya?” Grey muncul di belakang. Sudah mengganti seragamnya dengan kaos hitam polos dan celana pendek putih. Kedua tangannya menepuk pelan bahu ibunya.

Giva tertawa renyah. Menggenggam kedua tangan Grey di bahunya sejenak sebelum langsung melepaskannya lagi. “Ya udah, mama pergi dulu sebentar ya, kalian main aja!” Ia beranjak dari kursi.

Alis Grey naik sebelah. “Mau kemana Ma?” tanyanya heran.

“Ke tetangga sebelah,” jawab Giva sambil berjalan keluar rumah dengan alami. Seakan-akan itu adalah hal yang biasa terjadi. Padahal, di tempatnya berdiri, Grey langsung mematung sangsi.

Ibunya, bukan tipe orang yang suka bersosialisasi dengan orang lain, cenderung teramat introvert dan tertutup kepribadiannya. Bahkan untuk urusan diskusi tentang urusan komplek saja, ibunya menyerahkan ke Gwen, kakaknya itu yang masuk ke grup obrolan orang-orang kompleks, yang menjadi perwakilan dari keluarga ini. Sementara ibunya, hampir tak pernah terlibat.

Satu-satunya orang yang Grey ingat—meski samar-samar—bisa membuat ibunya keluar rumah untuk bertamu ke tetangga, untuk mengobrol dan berbasa-basi, hanya ibu Rino, semenjak keluarga Rino pergi, tak pernah Grey melihat ibunya dengan suka rela mendatangi tetangga. Kalaupun pergi keluar rumah untuk menyambangi rumah lain di blok ini, itu karena ia terpaksa, karena Gwen sedang berhalangan, dan butuh segera ada orang yang menjadi perwakilan dari keluarga ini, entah menjenguk yang sakit, atau menyambut tetangga baru. Tapi hari ini, Gwen ada di rumah. Dan wajah ibunya barusan, tak kelihatan terpaksa sama sekali. Jadi kemana dan kenapa sebenarnya ibunya pergi? Tetangga yang mana? Rumah Rino? Sosok orang baru yang kemarin Grey sempat lihat kehadirannya?

Lihat selengkapnya