Bunyi alarm menggema di seluruh penjuru kamar, memekakkan telinga. Dengan mata yang belum bisa terbuka sepenuhnya, Grey meraba-raba sekitarnya untuk mencari benda berisik itu, yang ternyata tergeletak di samping laptop.
Masih sambil mengerjap, ia duduk bersandar di kepala ranjang. Setelah mematikan alarm dengan mata separuh terpejam, pandangannya beralih ke laptop yang masih terbuka di atas kasur. Ia baru sadar kalau dirinya ketiduran saat sedang menulis diary—mencoba mengurai rasa sumpek di kepalanya lewat tulisan.
Telinganya tiba-tiba menangkap deru mobil di depan rumah. Refleks, matanya langsung melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu.
"Duh!" Grey terperanjat. Ia segera melompat dari kasur, membuka jendela, dan melemparkan pandangan ke balik pagar rumah.
"Yah, yah, yah!" serunya panik saat melihat mobil Volkswagen kuning milik Ge sudah bergerak menjauh.
Tanpa pikir panjang, ia menyambar jaket dan asal menjejal kakinya ke dalam sepatu, membiarkan bagian belakangnya terinjak tumit lalu berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
GUBRAK!
Mendengar suara hantam keras itu, Giva yang baru saja tiba di depan pintu langsung bergegas masuk. Ia mendapati Grey tengah terduduk di anak tangga terbawah sambil nyengir kuda.
"Grey? Mama kira kamu sudah berangkat!" ujarnya seraya mendekat. Ia membantu putri bungsunya itu berdiri—pemandangan yang tak asing karena Grey memang sering terjatuh di tangga sejak kecil.
"Aku ketiduran, Ma," jelas Grey meringis, merasakan nyeri di pergelangan kakinya.
"Pantesan, Mama panggil tadi kamu nggak jawab. Jadi pas teman kamu datang, Mama bilang sepertinya kamu sudah berangkat."
"Ah? Ah iya, enggak apa-apa! Aku berangkat dulu ya, Ma!" pamitnya cepat. Ia mengecup pipi ibunya sekilas, lalu kembali berlari keluar.
Karena tak enak hati meminta Ge putar balik, Grey memutuskan memesan taksi online. Sialnya, sudah sepuluh menit berlalu, belum ada satupun pengemudi yang mengambil ordernya.
Dengan pergelangan kaki yang makin berdenyut nyeri, Grey berdiri gusar di depan pagar. Ia mulai menyesali kebiasaannya yang tak enak hati, seharusnya ia langsung menelepon Ge tadi, sekarang bisa jadi mereka sudah hampir sampai di sekolah. Keringat mulai membasahi kaos kerah V putihnya, sementara betisnya yang hanya tertutup celana jeans tiga perempat terasa terpanggang matahari.
Ia terus-menerus melirik jam tangan. Mondar-mandir dengan kaki pincang justru membuat nyerinya makin menjadi.
Tiba-tiba, deru motor dari rumah sebelah memecah lamunannya. Tubuh Grey bereaksi otomatis; ia mundur teratur, berniat sembunyi di balik pagar demi menghindari Albitra—yang ia baru ingat akan pergi latihan basket ke sekolah. Namun sayang, kakinya yang cedera tak bisa diajak bekerja sama.
Albitra muncul dari balik pagar rumahnya dan langsung memergoki Grey—yang bergerak lambat dan kepayahan—tengah berusaha kabur darinya.
"Grey!" seru Albitra. "Mau ke sekolah, kan? C'mon, ride with me (Bareng gue aja)!"
"Eh, lo!" Grey menoleh kaku, berpura-pura terkejut walau usahanya gagal total.
"Mau bareng?" tanya Albitra lagi, mengabaikan akting buruk Grey.
Grey mengibas kedua tangan. "Nggak, no, thanks." Penolakannya terlalu dramatis.
"Yakin? Latihan mulai sebentar lagi, you know."
Grey memutar bola mata. "Nggak. Gue naik taksi saja."
"Bener? Gue rasa bakal lama, deh. It's gonna take forever (bakal lama banget)."
"Gue jalan ke depan aja. Taksi di sana banyak yang lewat," Grey masih bersikeras, sambil mencoba berdiri lebih tegak.
Albitra menatap kaki Grey yang pincang. "With those legs (pake kaki yang kayak gitu)?" sindirnya. Ia jelas menyadari kepayahan Grey menahan nyeri.
Sial, gengsi banget, batin Grey. Namun, ia harus mengakui Albitra benar. Kaki sakit, sudah telat, dan taksi tak kunjung tiba.
"Ayo, Grey, udah gue bilang bukan? Gue nggak jahat. I told you," bujuk Albitra.
Grey melirik, mulai merasa bersalah lagi.