D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #7

7. Masuk Jebakan

Grey mengetuk-ketukkan ujung sepatunya di aspal lapangan. Meski rasa cintanya pada negara sangat besar, meski ia sangat menghormati para pahlawan, namun ia tak pernah suka dengan yang namanya upacara. Bukan pengibaran bendera atau hal lainnya yang ia tak suka, melainkan sambutan ini dan itu. Terlebih ia paling tidak bisa berdiri diam terus menerus, otot-otot tubuhnya akan kaku dan ia akan menderita kebosanan teramat sangat.

Ia tak mendengarkan pidato Kepala Sekolah yang memberikan ucapan selamat pada tim basket atas keberhasilannya memasuki tahap semifinal di lomba antar SMA se-Jakarta yang diadakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta dan tim pemandu sorak yang akan mewakili sekolah untuk kompetisi tingkat regional, padahal banyak mata menatap ke arahnya, tapi Grey justru menatap kosong ke arah aspal yang di pijaknya. Memikirkan kejadian kemarin.

“Ugh!” Untuk sekian kalinya ia memukul dahi. “Bego banget sih gue!” gerutunya.

Kemarin sore seusai latihan, ia merasa pergelangan kakinya makin nyeri. Beruntung begitu keluar dari pagar sekolah, Albitra yang tengah duduk bersama dengan anggota lain dari tim basket di depan warung sambil meneguk minuman isotonik segera menghampirinya.

“Mau pulang bareng, Grey? Kita ke klinik dulu.” Lirik Albitra ke pergelangan kaki Grey.

Saat itu tak ada pikiran lain di otaknya selain segera pergi berobat karena takut luka di kakinya mengganggu proses latihan cheers. Ditambah Silo sudah pulang lebih dulu, jadi sahabatnya itu tak akan menuntut jawaban lebih tentang kenapa lagi-lagi dia harus bersama Albitra—karena sudah susah payah Grey menjelaskan kejadian di pagi hari itu, susah payah ia berusaha agar Silo tak merajuk karena cemburu. Jadi, tanpa perlawanan ia langsung mengangguk.

“Tunggu di sini. Gue ambil motor dulu,” tekan Albitra sebelum langsung lari ke parkiran.

Sesaat setelah Albitra menjauh, Grey baru sadar kalau di antara anggota tim basket yang duduk di depan warung, ada Zumi—yang ternyata entah sejak kapan sedang melihat ke arahnya.

“Hai, Zum!” sapanya kikuk, disambut senyum dingin dari pria itu.

Kenapa Zumi terlihat dingin?

Padahal biasanya cowok itu selalu ramah dan bersahabat.

Seketika jantung Grey berdentum panik. Mulai menduga-duga alasannya. Apa karena dia terlihat terlalu dekat dengan Albitra? Karena bagaimanapun juga Zumi pernah menanyakan hal itu beberapa hari lalu, perihal dirinya yang terlihat akrab dengan Albitra. Padahal meskipun juga sekarang mereka terlihat akrab, tak bisa dilupakan bahwa Albitra adalah orang yang ‘memukul mundur’ Zumi dari posisinya. Sangat wajar kalau Zumi tak suka dengan cowok itu, kan? Sangat wajar kalau dia tak suka melihat Grey yang notabene leader cheers, yang sister klub dari klub basket, malah dekat-dekat dengan cowok itu.

Grey mendadak panik, langsung berpikir untuk membatalkan rencananya untuk pergi ke klinik bersama Albitra. Namun terlambat, cowok itu, dengan motornya, sudah tiba di hadapan.

“Ayo!” ajak Albitra, membuka kaca helmnya.

Grey terdiam kaku, bingung harus melakukan apa. Ia ingin menengok ke arah Zumi namun tak berani. Ingin langsung menolak Albitra, namun kakinya sakit teramat sangat.

“Hei! Ayo!” tegur Albitra.

Grey memejamkan matanya lekat. Mengepal kedua tangannya di samping badan. Lalu menarik nafas dalam dan akhirnya menyerah. Ia langsung bergerak naik ke motor Albitra, dengan kepala menunduk dalam, seolah ingin menyembunyikan wajahnya dari semua orang. Sayangnya di depannya Albitra malah dengan lantang menderukan motornya dan berseru. “Duluan, ya!” Ke semua anak basket yang ada di warung. Mau tak mau, Grey jadi ikut menengok. “Bye, guys!” pamitnya pada akhirnya, dengan suara pelan, nyali ciut, dan wajah merah karena malu.


“Argh!” erang Grey frustasi, ia berjalan sambil menghentakkan kakinya kencang di antara rombongan para siswa yang juga sedang meninggalkan lapangan.

Upacara sudah selesai, namun tidak dengan kemelut di pikirannya.

Bagaimana kalau Zumi benar-benar berpikir ia dekat dengan Albitra? Bagaimana kalau Zumi memandangnya tidak loyal? Lebih buruk lagi, bagaimana kalau Zumi berpikir dia genit ke sembarang pria? Bisa-bisanya pulang-pergi bareng cowok yang baru dikenal beberapa hari. Hal-hal negatif membanjiri pikirannya, membuatnya makin resah dan gelisah. Sampai tak mendengar kalau sejak tadi ada orang yang sudah menyerukan namanya berkali-kali.

“Grey!” Tepuk Luna, si Ketua Osis.

Grey yang tersentak kaget, langsung menengok dengan mata bulat. “Ya?”

“Lu dipanggil sama Pak Dani!” papar Luna pelan, seolah tak ingin didengar oleh orang di sekitar.

Lihat selengkapnya