Begitu tiba di lapangan, Grey langsung tercengang. Rahangnya hampir terjatuh saking kagetnya melihat pemandangan tak terduga yang ia dapat.
Ia sudah bergegas, menyantap porsi makanan seminimal mungkin—hanya cukup sebagai sumber energi tanpa memicu rasa sakit saat dia berlari. Ia berangkat ke lapangan tepat setelah bel masuk berbunyi, bahkan saat sebagian besar murid belum kembali ke kelas dan masih menyantap makanan di kantin. Namun, begitu sampai di lapangan, Albitra sudah lebih dulu berkeliling. Wajahnya memerah, dan bajunya basah kuyup oleh keringat.
Sudah sejak kapan anak ini memutari lapangan? Pikir Grey heran.
Ia berjongkok, mengencangkan ikatan tali sepatu, lalu mengikat rambutnya. Sial, ia tak lupa membawa ikat rambut hari ini—seolah semesta memang sudah merancang hukuman ini. Setelah siap, Grey mulai bergerak mengelilingi lapangan.
“Bi,” panggilnya mensejajarkan posisi mereka.
Dengan peluh membanjiri wajah, Albitra masih bisa membalas sapaan dengan senyuman, “Hai!” ucapnya sambil memperlambat langkah agar selaras dengan gerak Grey.
“Lu dihukum juga? Kenapa?” tanya Grey sambil menyipitkan matanya, sinar matahari begitu terik. Ia bertanya bukan karena benar-benar tak tahu, tapi karena hanya ingin memastikan dugaan.
Albitra nyengir kuda, “Bukannya lu udah tahu?”
“Zumi?” mata Grey melebar.
“Zumi?” Albitra bertanya balik. “What about him (dia kenapa??"
“Zumi nggak dihukum?”
“Oh!” Albitra tersenyum lagi, entah mengapa cowok ini malah kelihatan sumringah, padahal wajahnya merah terbakar sinar UV, dan rambutnya sudah basah oleh keringat. "He's the victim (dia kan korbannya).”
“Bukannya lu juga korban? Arman CS ga kena hukuman?” timpal Grey.
Langkah Albitra terhenti. "Sebentar, how much do you actually know (sebenernya seberapa banyak lu tahu)?" Kali ini senyum menghilang dari wajahnya, berganti ekspresi kaget campur was-was.
Grey ikut berhenti, menengok ke Albitra yang sudah tertinggal tiga langkah dibelakang. “Segitu doang, emang kenapa?” balasnya heran, namun sedetik kemudian bola matanya berputar, sadar akan sesuatu. Ia baru ingat kalau cerita itu adalah rahasia diantara tim basket, tabu untuk dibicarakan oleh mereka dan dilarang untuk disebarkan keluar.
Ia langsung berjalan mendekati Albitra, “Eh, anggap aja lu gak denger pertanyaan gue barusan, anggap gue nggak tahu.”
Tawa langsung menyembur dari mulut Albitra, “Lu takut Ge kenapa-kenapa, ya?” terkanya.
“Kok lu tahu, gue tahu dari Ge?” Mata Grey melotot bingung.
“Ya siapa lagi yang bisa kasih tahu lu! It's obvious (jelas banget)!” sahut Albitra, sambil menepuk kepala Grey pelan lalu kembali bergerak.
Grey segera menyusul, “Eh tapi lu— Au!” pekiknya pelan, berhenti lagi. Kakinya yang kemarin sudah di cek di klinik dan katanya hanya sedikit terkilir, sudah tak terasa sakit sejak dia bangun tidur tadi pagi, kini mulai terasa perih lagi.
Sadar Grey tak berada disampingnya lagi, Albitra menengok. “Grey?” Panggilnya.
“Ah! Iya!” sahut Grey, langsung kembali berlari. Padahal pergelangannya terasa nyeri.
“Lu juga dihukum keliling lapangan kayak gini? Cewek juga?” tanya Albitra begitu Grey sampai disisinya lagi.
“Iya!” sahut Grey singkat. Sakit di kakinya membuatnya tak leluasa untuk bicara seperti tadi. Ia kini sibuk menahan agar tak meringis.
“How many laps (berapa putaran)?” tanya Albitra, menyusul.
“Banyak,” jawab Grey, lagi-lagi singkat.
Albitra menilik wajah Grey yang kelihatan tak bersahabat seperti sebelumnya, menyimpulkan mungkin gadis ini kepanasan, kesal, dan ingin buru-buru menyelesaikan hukumannya jadi tak mau diajak bicara. Jadi dia, memilih diam. Langsung mempercepat langkah kakinya, untuk meneruskan penebusan dosanya sendiri.
Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit. Waktu terus berjalan tapi Grey baru mengelilingi lapangan sepuluh kali, masih ada sepuluh putaran lagi. Nafasnya sudah tersengal, wajahnya memerah dan dahinya basah oleh keringat dingin. Ia berhenti berlari, namun kakinya justru makin terasa nyeri. Beberapa meter di depannya Albitra masih bergerak dengan kecepatan yang konsisten, sementara dirinya malah mulai merasa pening.
Saat ia mengangkat wajahnya menatap langit, matanya malah kunang-kunang. Ia menggeleng, menunduk lagi. Menggerakkan kakinya lagi untuk berjalan, tapi kepalanya makin pusing. Ia bergeleng lagi, seolah berharap rasa itu terhempas keluar dari kepalanya, tapi yang ada malah semakin menjadi-jadi.
Detik kemudian ia mulai merasa kakinya tak lagi berpijak, tubuhnya terasa ringan, pandangannya yang berkunang berganti gelap. Ia mendengar suara Albitra menyerukan namanya, tepat sebelum ia tak melihat apapun lagi.
***
“Grey lu dah sadar?”
Wajah Ge menjadi yang pertama kali Grey saat dia membuka mata.
“Lu pingsan Grey!” jelas Ge sebelum diminta. “Lu gila ya? Terima aja hukuman kayak gitu! Gak bilang-bilang sama kita lagi! Untung Albitra langsung nahan badan lu pas lu udah kelihatan mau jatuh, kalau nggak kepala lu bisa kebentur lapangan!” Omel Ge.
“Oh.” Grey memegang dahinya, masih merasakan pusing yang keterlaluan.