Di pinggir lapangan, Grey duduk terdiam di antara Mini, Ge, Iwe, dan Bayu. Ia sama sekali tak menyimak obrolan seru tentang Bayu yang ternyata sudah lama memendam rasa pada Danish. Ia tak peduli pada sumpah serapah Ge yang menghakimi selera Bayu, karena fokusnya tertuju pada satu titik di seberang lapangan: Zumi yang sedang duduk berdua dengan Silo.
Orang bilang, saat jatuh cinta pikiran kita cenderung naif dan sering salah mengartikan perhatian kecil sebagai sinyal cinta. Tapi itu tak berlaku bagi Grey. Ia terlalu waspada dan terlalu logis untuk percaya Zumi menyukainya.
Alasannya sederhana: di depan Grey, Zumi selalu tampil ramah, sopan, dan penuh kharisma. Kedengarannya sempurna memang disitu daya tarik Zumi terletak, tapi bagi Grey, itu adalah "jarak". Ia sering mengamati bahwa Zumi hanya menunjukkan sisi kekanak-kanakan, tawa lepas, dan ejekan konyol pada orang-orang yang benar-benar dekat dengannya. Dan kini, di seberang sana, Zumi sedang menunjukkan sisi "asli" itu pada Silo. Sisi yang tak pernah Grey dapatkan. Atau belum?
“Grey? Grey?” panggil sebuah suara.
“Ah, iya!” sahut Grey nyaring. Ia tersentak kaget, tak menyadari sejak kapan Albitra sudah berdiri menjulang di hadapannya.
Suara Grey sukses menarik perhatian seisi lapangan. Ge dan Iwe berhenti menceramahi Bayu, bahkan Silo dan Zumi di seberang sana pun ikut menoleh. Panik karena ditatap Zumi, Grey refleks menarik kedua tangan Albitra. Gerakan mendadak itu memaksa Albitra membungkuk, membuat wajah mereka berjarak hanya beberapa sentimeter.
Niat hati ingin bersembunyi di balik tubuh Albitra, Grey malah terjebak dalam tatapan intens yang membuat napasnya seolah berhenti. Mata Grey melebar, paniknya mencapai puncak.
“Ah! Sorry!” serunya panik. Ia langsung berdiri tegak, mengatupkan bibir rapat-rapat, dan melarikan diri dari lapangan secepat mungkin. “Duh, bego!” hardiknya pada diri sendiri di sepanjang jalan.
Albitra yang masih dalam posisi membungkuk hanya menoleh ke arah Ge yang mulutnya masih menganga. Bibirnya melengkung membentuk senyum penuh arti, diikuti satu angkatan alis. Ge refleks mendesis tawa sambil menggeleng—keduanya berbagi isyarat rahasia yang tak dimengerti Iwe yang menatap bengis karena merasa kecolongan dengan interaksi Albitra dan Grey tadi, maupun Silo yang alisnya bertaut di seberang lapangan.
“Mereka deket, ya?” cetus Zumi tiba-tiba.
“Siapa?” sahut Silo. Nadanya naik satu oktaf, tatapannya berubah ketus, padahal baru saja mereka asyik membahas film Suicide Squad.
“Albi sama Grey,” jelas Zumi pendek.
“Tetangga,” jawab Silo singkat. Ia langsung bangkit tanpa pamit, meninggalkan Zumi sendirian, dan berjalan menghampiri Albitra.
Zumi hanya mengamati dalam diam. Ia melihat Silo menyapa Albitra dengan senyum lebar yang dibalas tak kalah ramah oleh cowok itu. Keduanya segera larut dalam obrolan seru. Meninggalkan dirinya yang sendirian, dan seperti tak pernah berarti sejak awal. Ia merasa seperti pemain cadangan, yang duduk diam dan tak bisa protes, cukup menunggu dipanggil gilirannya. Dan Albitra yang ada disana, jelas punya pesona pemain utama.
Ia mengerjap lambat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. Matanya tertuju pada lorong tempat Grey menghilang tadi. Tanpa memikirkan lebih lama, ia melangkah meninggalkan lapangan, mengikuti arah ke mana Grey pergi. Ingin memastikan sesuatu.
“Kaki lu... udah sembuh?” tanya Zumi.
Grey yang sedang menenggak air mineral hampir saja tersedak. Matanya membulat bingung saat Zumi dengan santai duduk di sampingnya. Ia sudah susah payah kabur dari lapangan, memilih aula yang sepi untuk menenangkan rasa malunya. Tapi kenapa Zumi malah menyusulnya ke sini? Di tempat sunyi, saat ia benar-benar sendirian?
“Masih sakit?” tanya Zumi lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Nggak,” sahut Grey buru-buru. “Udah mendingan.”
“Em.” Zumi mengangguk, matanya menatap pergelangan kaki Grey yang masih terbalut perban elastis.