Tiga hari berlalu sejak kejadian pertengkarannya dengan Albitra. Setiap malam, Grey sibuk menulis di diary tentang rasa gundah yang mengekang batinnya. Di satu sisi, ia merasa canggung setiap berpapasan dengan Albitra di sekolah; disisi lain, ia merasa bersalah atas tingkah impulsifnya hari itu. Biasanya, ia sangat tahu cara menjaga sikap, tetapi setiap menghadapi Albitra, ia seakan gagal menguasai emosi dan selalu berakhir dengan penyesalan.
Karena tingkahnya, ia gagal mendekati Albitra untuk mengorek informasi kisah cinta cowok itu, dan alhasil Silo pun merengek menuntut pertanggungjawaban yang masih belum bisa ia berikan segera. Jadi kini, Grey kembali menumpahkan unek-uneknya di diary digital-nya.
Namun, suara berisik dari ruang tamu—yang masuk karena pintu kamarnya terbuka—mengganggu ketenangannya. "Ih!" gerutu Grey, bangkit untuk menutup pintu.
Ia menduga di ruang tamu Gwen sedang menonton film dengan pacarnya, Dito, seperti biasa. Akan tetapi, saat berdiri di ambang pintu, Grey terdiam. Tangannya berhenti di kenop. Dahinya berkerut; ia memasang telinga lebar-lebar. Suara di ruang tamu itu bukan suara Dito. Suara asing, yang sekaligus entah mengapa terasa familiar.
Didorong rasa penasaran, ia bergerak keluar kamar, mendekat ke arah tangga, dan melongok ke ruang tamu di lantai bawah. Matanya langsung membelalak kaget. Ia menguceknya berkali-kali, takut salah lihat. Ternyata, pandangannya tak salah: orang yang sedang duduk di sebelah Gwen, bercengkrama sambil tertawa terbahak-bahak, adalah Albitra.
Kenapa cowok itu ada di sana? Kenapa mereka terlihat akrab? Padahal Gwen terbilang lebih judes daripada dirinya dalam berurusan dengan orang asing. Jika diingat-ingat, saat pertama kali Grey dipanggil ibunya ke rumah Albitra, Gwen bilang akan menyusul, tetapi tak pernah muncul. Selama ini, Grey secara tak sadar selalu menganggap mereka tidak saling mengenal.
Namun kini, mereka duduk bersebelahan, bertingkah akrab—bahkan lebih akrab daripada dirinya sendiri yang sudah sering berbicara dan berboncengan dengan Albitra berkali-kali. Aneh, sungguh aneh. Didorong hasrat untuk melihat dari dekat dan mengamati dengan sejelas-jelasnya, Grey memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
Ketika Grey mencapai anak tangga terakhir, selangkah menuju lantai satu, Albitra dan Gwen serentak menoleh ke arahnya. Grey langsung menyesali keputusannya; ia bingung harus berkata atau bertindak apa, karena ia belum pernah bertegur sapa dengan Albitra sejak pertengkaran mereka.
"Oh, udah bangun lo?" lontar Gwen.
Grey langsung merengut. "Siapa yang tidur!" dengusnya, lalu berjalan ke arah dapur. Saat langkah kikuknya mendekati pintu, telinganya menangkap bisikan samar Albitra yang diikuti cekikikan Gwen. Rasa dongkol menyeruak di dada Grey. "Sok akrab banget, sih, mereka!" gerutunya. Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin, padahal gelasnya di kamar masih terisi penuh.
Begitu berbalik badan, ia mendapati Albitra berdiri di ambang pintu dapur. Cowok itu—yang hari ini tampil santai, lebih mirip tetangga daripada teman sekolah, hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana cargo selutut—menatapnya teduh. Tatapan tenang itu membuat rasa bersalah yang selama seminggu ini Grey bekap diam-diam langsung membumbung ke puncak.
"My bad," ucap Albitra. "I'm sorry if I made you angry (maaf gue bikin lu marah)."
Hal itu jelas membuat Grey makin merasa bersalah. "Gue yang minta maaf, seharusnya nggak marah-marah sama lo kayak gitu." Ia menunduk malu.
Albitra tersenyum simpul, bergerak mendekat. "It's all good (gak apa-apa). Jadi, we're cool now, right (jadi sekarang, kita baikan)?" tanyanya memastikan.
Saat mengangkat wajahnya dan melihat Albitra selangkah di hadapannya, Grey teringat sesuatu. Mumpung ada kesempatan, ia harus segera menjalankan misinya. "Lusa ikut outing, kan?"
Meski tak menyangka akan muncul pembahasan di luar konteks seperti ini, Albitra akhirnya mengangguk. "Why, though (kenapa tapi)?"
"Kalau mau gue maafin, lu pastiin kalau di bus nanti, jangan ada yang duduk di sebelah lu, sebelum gue muncul," urai Grey, mengesampingkan rasa malunya.
Mata Albitra berkilau cerah. Tanpa mengonfirmasi apapun, ia langsung mengangguk. Ia memang sudah berencana meminta maaf sebelum acara outing tim basket dan cheer, dan kini ia malah mendapat sambutan yang jauh lebih baik dari yang diharapkan.
"Oke, kalau gitu!" tutup Grey, berjalan meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.
Sepeninggalan Grey, Albitra yang ikut keluar dari dapur langsung menoleh ke Gwen yang menunggu kabar darinya. "Gimana?" tanya Gwen pelan.
Sambil mendekat kembali ke sofa, Albitra mengangguk. "Awesome!" sahutnya dengan senyum merekah.
***
Beberapa hari kemudian, Albitra langsung menyesali senyum bodohnya hari itu.