D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #11

11. Tamu Tak Diundang

“Nyiprat, kampret!” hardik Ge ke Iwe yang berlarian di pinggir pantai di hadapannya. Padahal dirinya sedang duduk santai sambil memandangi lautan luas di hadapan.

Begitu sampai di penginapan—setelah melalui perjalanan cukup panjang dengan bus dan menyeberang dengan kapal yang sudah mereka sewa, mereka langsung check in dan makan siang. Tim Basket kemudian melakukan sesi sharing dengan pelatih mereka. Sedangkan tim cheers yang masih tanpa pelatih—bagai anak ayam tanpa induk—langsung menghabiskan waktu di pantai.

Jadi saat Ge dan Iwe—yang sejak tadi memang sudah tak sabar untuk ikut menyambangi bibir pantai langsung heboh berlarian di garis pertemuan antara laut dan darat itu—berlarian sambil bermain air dengan kaki telanjang, Grey sudah mulai merasa kepanasan. Ia pun beranjak dari pasir, dan bergeser menjauh. Duduk berteduh dibawah pohon terdekat yang cukup rindang.

Ia menengok ke sisi lain pantai, lalu menemukan Silo yang sedang mengekor di belakang Albitra. Temannya yang berkaki cukup pendek itu, kelihatan kesulitan menyamakan langkah dengan Albitra yang berkaki panjang. Sudut bibir Grey terangkat, di matanya, mereka kelihatan menggemaskan. Albitra yang kelihatan cuek, Silo yang terang-terangan mengejar, membuatnya iri. Seandainya saja ia punya sedikit saja sifat berani Silo terhadap orang yang ia suka, mungkin ia tak akan terjebak pada cinta bertepuk sebelah tangan ini.

Namun senyum Grey hilang seketika, saat di sisi lain pantai, matanya menangkap sosok tinggi langsing yang familiar mendekat. Sontak ia berdiri, memakai sandalnya yang sejak tadi ia duduki dan bergerak menyambangi orang itu dengan gerak tergesa.

“Ngapain lu disini?” Sembur Grey bahkan sebelum mereka berhadapan, rahangnya mengejang, matanya melotot kesal.

Danish membuka kacamata hitamnya dan menyunggingkan senyum miring. “Lu lupa gue masih anggota cheers? Jadi gue berhak dong ikut outing ini!”

Silo yang berjarak beberapa belas meter dari mereka langsung melotot panik. “Sial!” decitnya, langsung berlari ke arah Grey, untuk pertama kalinya meninggalkan sisi Albitra sejak selesai makan siang tadi.

Albitra ikut memperhatikan arah itu, matanya menyipit, menegaskan pandangan. Tak terlalu tahu apa yang sedang terjadi, tapi dari ekspresi wajah Grey yang tak bersahabat, ia bisa mengira kalau ada masalah serius di sana.

“Lu ngaca pake triplek? Sampe nggak tahu malu kayak begini?” ketus Grey sambil bertolak pinggang, “Oh!” Ia tertawa sinis. “Kemana temen-temen lu? Lagi ngumpet buat ngambil video kalau lu diusir lagi?”

Semua yang ada di sekitar mulai menyadari keadaan panas ini. Ge langsung berlari menghampiri, Mini yang sedang duduk di depan penginapan juga langsung bergerak. Anggota cheers lain ikut mendekat. Beberapa anak basket baik yang cewek atau cowok yang menyadari keadaan, langsung sibuk memberi info ke yang lain, kehebohan itu dengan cepat sampai ke telinga Zumi. Cowok yang tengah menikmati teh hangat di restoran penginapan itu pun langsung bangkit dari kursinya, tahu seberapa serius situasi ini.

“Gue biarin lu sekali bukan berarti gue bakal biarin terus-terusan ya!” tekan Grey, wajahnya merah bukan karena terbakar matahari lagi, tapi karena emosi yang menekan dadanya.

“Emang lu bisa apa? Lu kan tau lu gak bakal menang lawan gue kalau di sekolah!” tantang Danish sambil mendorong bahu Grey dengan jari telunjuknya.

“Emang dasar setan lu ya!” balas Grey, mendorong lebih kencang, hingga tubuh Danish jatuh duduk di atas pasir. “Mentang-mentang anak ketua yayasan tingkah lu semena-mena!”

Danish langsung bangkit dan melayangkan tamparan telapak tangannya ke pipi Grey dan menimbulkan bunyi nyaring yang terdengar hingga radius beberapa meter. Grey hendak membalas, tapi Ge dan Mini buru-buru menariknya mundur. Sementara itu, Silo berusaha menarik lengan Danish agar menjauh, tetapi tubuhnya yang mungil terhempas dengan mudah dan hampir tersungkur ke pasir, jika saja Albitra—yang sedang berjalan mendekat—tidak langsung menangkapnya.

"Udah, Grey, jangan kepancing lagi!" Larang Mini.

"Gue aja yang tampar Grey!" cetus Ge, langsung dipelototi Mini.

Tak terima dengan kelakuan Danish yang makin membuatnya muak, Grey melepaskan diri dari pegangan. Hanya butuh dua langkah kaki lebar baginya untuk melayangkan tamparan balasan ke wajah Danish.

Tepat saat Danish mengangkat tangan lagi, Albitra menggeser Silo dari hadapannya dan menahan tangan Danish yang sudah melayang di udara. Ia menempatkan tubuhnya yang tinggi sebagai dinding pemisah di antara mereka, membelakangi Grey dan menghadap Danish, memblokir konflik dua gadis yang sedang emosi itu.

Lihat selengkapnya