"Serius?" pekik Bayu. Suaranya terdengar terlalu keras di lorong resort yang sepi.
"Iya! Zumi jadian sama Grey!" ulang Andra antusias, matanya berbinar, seolah ia adalah pahlawan yang membawa kabar kemenangan terbesar.
Albitra yang kebetulan lewat, sambil memainkan ponselnya di tangan, mendadak terdiam mematung. Tangannya yang tadi menggenggam erat ponsel, jatuh ke sisi tubuhnya. Kepalanya menoleh cepat, gerakan kaku dan tidak wajar, ke arah Bayu dan Andra.
"What just you said (apa yang barusan lu bilang)?" tanya Albitra, suaranya tercekat, nyaris tidak terdengar.
Bayu dan Andra yang baru menyadari kehadiran Albitra, terdiam sejenak, wajah mereka menunjukkan sedikit ketakutan karena intonasi Albitra yang dingin dan tajam.
"I-itu, Grey... sama Zumi," Bayu berbisik ragu. "Mereka jadian. Baru saja, katanya Zumi nembak Grey di depan semua orang di restoran."
Dunia Albitra seolah berhenti berputar. Kata-kata itu menamparnya telak. Ia mendadak linglung, ia bahkan tidak ingat kenapa ia berjalan di lorong itu. Padahal dia hanya menarik diri sebentar, untuk melakukan hal yang semestinya ia lakukan. Namun mengapa berita seperti ini malah menyergapnya tanpa aba-aba?
Satu-satunya pikiran yang memenuhi kepalanya saat ini adalah: restoran.
Ia segera bergerak. Bukan berjalan, melainkan setengah berlari, menyusuri jalan setapak berpasir menuju bangunan restoran terbuka yang masih ramai. Kakinya menapak cepat, jantungnya berdebar kencang, memompakan darah dingin dan rasa sakit.
Saat tiba di ambang pintu, langkahnya langsung terhenti. Seluruh suasana ribut di dalam seolah menjadi latar belakang yang sunyi bagi satu pemandangan di depannya.
Terlambat.
Ia sadar, ia sudah terlambat.
Di sebuah meja besar, tempat teman-teman mereka berkumpul, Grey dan Zumi sudah duduk bersebelahan. Silo dan yang lain di sisi kanan-kiri mereka tampak iseng. Mereka mendorong bahu Zumi dan Grey hingga bahu keduanya saling bersentuhan, membuat Grey terkikik malu dan Zumi tersenyum tipis, menerima keintiman baru itu.
Melihat Grey, gadis yang baru saja membuatnya gundah, yang ia kunjungi diam-diam karena khawatir, kini terlihat bahagia dalam sentuhan pria lain—semua itu seperti sebuah penolakan final yang brutal.
Wajah Albitra seketika pucat pasi. Matanya yang tadi tajam kini membulat kosong. Saraf di sekitar rahangnya menegang, mengeras tak tertahankan, seolah ia menahan bentakan yang tak akan pernah bisa ia lepaskan.
Ia berdiri di sana, di ambang pintu, sosoknya yang tinggi terbingkai dalam bayangan, seperti patung yang baru saja dipahat dari batu yang hancur. Bukan hanya kaget, kehancuran itu nyata; rasa sakit karena pengkhianatan yang ia rasakan pagi tadi di bus, kini bertambah berkali-kali lipat oleh sakit karena kenyataan. Inilah alasan Grey tak berada disisinya sepanjang hari ini berlangsung? Inilah alasannya ia harus duduk dengan Silo di bus tadi?
Ia sudah tahu sejak awal kalau Grey menyukai Zumi, karena itu juga dia selalu menyela interaksi keduanya, tak membiarkan ada kedekatan antara mereka. Tapi apa ini, dia kecolongan? Ada sesuatu yang terjadi di luar pengawasannya yang ia sudah buat seketat mungkin?
Nafasnya tertahan di tenggorokan. Ia merasakan sensasi dingin dan hampa, seolah seluruh udara telah tersedot keluar dari paru-parunya. Ekspresi wajahnya adalah perpaduan antara kebingungan akut dan kepedihan yang tidak terucapkan. Ia seperti baru terbangun dari mimpi buruk, hanya untuk menyadari bahwa kengerian itu adalah kenyataan. Satu-satunya tempat dia menuju: Grey, malah memilih untuk bersama dengan orang lain.
Albitra berbalik, secepat ia datang, tanpa seorang pun di dalam restoran menyadari bahwa ia telah menyaksikan kehancuran hatinya sendiri. Meski ada seseorang yang melihatnya dan menduga kalau cowok ini pasti saat ini sedang tak baik-baik saja. Ge, gadis itu langsung bangun dari tempat duduknya dan menyusul langkah Albitra dalam senyap.
Cowok itu bergerak ke pinggir pantai, nafasnya terengah, pandangannya mendadak kabur. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan.