"Gwen?" ucap Grey, kebingungan di ambang gerbang. Ia melihat kakaknya duduk meringkuk di tangga teras depan rumah mereka.
Langkah Grey dipercepat. Ekspresi wajah Gwen terlihat suram, matanya sembab seperti baru selesai menangis hebat, dan tatapannya kosong. Jari-jari Gwen bertaut di atas lutut, gemetaran, sebuah tanda kekalutan yang mengkhawatirkan.
"Gwen, Kak, kenapa?" Grey berjongkok di depan kakaknya, mencoba meraih perhatiannya.
Belum sempat Gwen menyahut, telinga Grey menangkap keributan yang sudah amat ia pahami. Bunyi bentakan, diikuti suara piring atau benda yang menghantam lantai, bergaung dari balik pintu. Itu adalah suara Ibunya, Giva, dan Ayahnya, Reinhard Atmaja. Keributan itu adalah rutinitas yang seharusnya sudah membuat mereka kebal, namun tak pernah bisa membuat mereka terbiasa.
Grey menegakkan tubuh, mendengarkan pertengkaran pahit itu. Ayah kandungnya, Reinhard, yang jarang pulang, sudah lama terang-terangan ingin menikah lagi. Seluruh keluarga tahu, ia memiliki wanita lain dan dan menuntut perceraian.
Namun, Giva bukanlah wanita yang mudah menyerah.
Bagi Giva, melepaskan suaminya melalui perceraian sama saja dengan memberikan Reinhard keleluasaan penuh untuk menghancurkan mereka. Ia menolak cerai, menjadikannya satu-satunya kendali yang ia miliki. Secara diam-diam, Giva terus menerus berusaha mengalihkan harta benda keluarga ke atas namanya, menjadikannya tameng legal.
Selama pernikahan ini tidak putus, Giva bisa mengekang Reinhard, memastikan pria itu tidak akan pernah bisa mengakses aset-aset tersebut, dan yang terpenting, tidak akan bisa menelantarkan anak-anaknya secara hukum. Giva mengorbankan kedamaiannya sendiri. Ia bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan ini, bukan karena cinta, melainkan demi menekan suaminya agar tak bisa berkutik, demi memastikan masa depan anak-anaknya tetap terjamin.
Namun tak ada yang benar-benar tahu apa yang ada di hatinya, diluar dia mengucap hal itu sebagai alasan berkali-kali.
Grey memejamkan matanya lekat, merintih dalam hati. Ia sadar, harinya yang sudah berat ternyata masih bisa jauh lebih buruk lagi.
Ingatannya melayang ke perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan di dalam bus, Grey yang dipaksa duduk bersebelahan dengan Zumi, diam seribu bahasa. Di sampingnya, Zumi pun menunjukkan keheningan yang sama. Penumpang lain menafsirkan keheningan itu sebagai kecanggungan manis pasangan baru. Namun, Grey tahu, ia memahami keadaan: tampaknya bukan hanya dirinya yang merasa terperangkap. Zumi juga.
Pertanyaannya, kenapa Zumi membiarkan dirinya berada dalam jebakan tak nyaman ini?
Grey, yang biasanya tak berkutik di hadapan Zumi, kali ini bersikap berbeda. Didorong oleh rasa tak nyaman dan curiga yang ia tekan mati-matian—agar tak menyulut emosi yang memperkeruh keadaan—ia akhirnya memanggil Zumi begitu mereka sampai di sekolah dan turun dari bus.
Di belakang sekolah, di tempat yang sepi dari pandangan orang-orang, Grey langsung bertanya. "Nggak ada yang mau lu omongin?"
Di hadapannya, Zumi malah menarik napas panjang, menunduk dalam selama beberapa saat, bahunya tampak merosot. Postur itu menunjukkan beban dan keresahan, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya lagi. "Boleh minta waktunya besok malam? Gue mau jelasin."
Ingin segera memahami situasi, namun tak ingin mendesak, Grey akhirnya mengangguk. Pembicaraan singkat itu pun berakhir, dan keduanya melanjutkan langkah ke arah masing-masing.
Seiring langkahnya meninggalkan lokasi, dada Grey terasa nyelekit. Cara Zumi menarik napas dan menunduk tadi, memupuskan secuil harapan naif yang ia biarkan tumbuh dalam hatinya setelah insiden semalam. Penjelasan yang akan datang, ia yakin, pasti akan menyakitkan. Dan jauh sebelum ia mendengar akan hal itu, dia sudah menyiapkan dirinya, hatinya, untuk patah.
Rasa sukanya pada Zumi memang tidak begitu besar hingga ia membiarkan dirinya terperangkap dalam status palsu yang abu-abu ini. Namun, rasa suka itu juga tidak begitu kecilnya hingga dia bisa abai sepenuhnya. Masalahnya, sebelum Zumi menjelaskan dan sebelum keadaan benar-benar diluruskan, Grey merasa dirinya tak berhak untuk terpuruk—belum. Patah hati yang sudah ia persiapkan jauh di dalam mentalnya, belum semestinya ia hadapi. Situasi ini rumit, tapi yang lebih rumit justru pikirannya sendiri.
Tepat ketika ia melangkah ke pinggir jalan, sebuah motor melaju melewatinya. Motor Albitra, yang makin kesini makin bisa ia kenali hanya dari suara knalpotnya saja.
Cowok itu, tak berhenti, tak menengok, bahkan melirik lewat spion pun tidak. Padahal sewajarnya, ia akan mengajak Grey—yang jelas-jelas jalan kaki sendirian mencari taksi—untuk pulang bersama. Namun, Albitra juga menunjukkan gelagat yang tak biasa. Sejak semalam, sejak ia kembali dari restoran setelah kericuhan pernyataan mendadak dari Zumi, saat berpapasan dengannya di lorong resort, Albitra sudah memalingkan wajah.