D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #14

14. Naskah Di luar Nalar

Setelah akhir pekan yang menyesakkan—Grey yang akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Albitra dengan canggung hari itu—merasa amat malu untuk berhadapan lagi dengannya di sekolah. Ia sebisa mungkin menghindari area kelas Albitra, tak ke kantin saat jam ramai, dan tak ke toilet di luar jam pelajaran.

Namun, sialnya, seluruh anak basket dan cheers malah dipanggil oleh Bu Dita, wakil kepala sekolah bidang kesenian, di aula.

Dengan kondisi hubungannya dengan Zumi yang belum diluruskan, kecanggungannya menghadapi Albitra setelah insiden emosional kemarin, dan riuh ceria dari anggota kedua tim yang masih bersemangat menggoda hubungannya dengan Zumi, Grey tak punya pilihan lain.

Ia segera merapat, mencari perlindungan di antara kembar Gemini. Setelah apa yang terjadi di restoran malam itu, bersebelahan dengan Silo terasa terlalu berbahaya. Grey mencari perlindungan di antara orang yang paling netral menyangkut kisah cintanya, yang tidak terlalu menggebu-gebu membantu sampai melakukan trik-trik mengejutkan seperti Silo.

"Ini ngapain sih kita dikumpulin di sini?" gumam Grey di telinga Mini. Ia tak tahan berlama-lama berada di situasi yang penuh kecanggungan ini.

Mini hanya mengedikkan bahu. Ia pun tak tahu.

Tak lama kemudian, Bu Dita—salah satu guru perempuan paling muda di sekolah yang kerap jadi bahan obrolan siswa laki-laki karena kecantikan dan gaya pakaiannya yang modis—masuk ke ruangan. Ia mengenakan blus merah marun yang pas badan dipadu celana kulot krem. Pipinya terlihat merona lembut, senada dengan warna bibirnya.

"Halo semua! Maaf ya dikumpulin mendadak di sini!" ujar Dita dengan senyum ramah.

"Halo Bu Dita! Cantik banget sih, Bu!" goda Simon, yang kepalanya langsung dipukul ringan oleh Arman.

Dita tersenyum simpul dan mengucap terima kasih, lalu menepuk tangannya sekali. "Oke!" ujarnya. "Jadi, alasan kalian tim basket dan cheers dikumpulkan di sini, saya mau mengabarkan kalau sekolah akan mengadakan pentas seni pada akhir bulan depan. Dan setelah berdiskusi dengan para guru, kami memutuskan untuk memilih kalian, yang tak lain adalah anggota klub yang paling mewakilkan sekolah ini, untuk mementaskan drama."

Dita berhenti sejenak, meninjau respons. Namun, audiens di depannya semua hening. Wajah mereka ada yang kosong, bingung, dan yang paling parah, terperangah tak percaya.

Dita pun nyengir kuda, ia menggaruk pipinya dengan ujung telunjuk. "Penampilan kalian akan dianggap sebagai nilai pelajaran seni. Jadi, kalian nggak perlu ikut ujian seni lagi di akhir tahun ajaran nanti."

"Oooohhhh..." Suara lega itu langsung memenuhi ruangan. Mereka baru paham, dan baru merasa tugas mengejutkan yang sama sekali bukan gaya mereka ini masuk akal. Meski tak sepenuhnya bisa menerima, setidaknya keuntungan untuk bebas ujian sudah jelas.

Zumi mengangkat tangannya, "Bu, tapi saya sudah ditunjuk untuk tampil solo akustik."

"Ah, iya, Zumi, kamu nggak perlu ikut," Angguk Dita, membebaskannya.

Bukan karena hendak memandangi Zumi seperti biasa, kali ini, Grey menatap ke arah cowok itu murni karena ia sedang bertanya. Namun, saat pandangannya bergeser ke arah lain, tatapannya tak sengaja bertemu dengan Albitra. Cowok itu berdiri di barisan paling pinggir, melirik ke arahnya dengan ekspresi datar, namun tatapannya terasa tajam.

Entah mengapa, Grey malah langsung berpaling. Aneh, sungguh aneh, tak biasanya dia salah tingkah seperti ini saat menatap orang lain. Perasaan canggung apa ini? Yang membuatnya tak mampu menengok lagi ke arah Albitra. Apa mungkin karena kejadian pelukan kemarin? Grey langsung memegang tengkuknya sambil menggeleng, berharap rasa aneh yang menyelimutinya itu terhempas keluar dari dalam dadanya.

"Oke kalau gitu, untuk pemimpin dramanya," Dita bersuara lagi, memecah keheningan. "Saya mau pilih satu orang yang ikonik, yang bisa mewakilkan kita berdua. Jadi, ketuanya, yang bisa menentukan tema, naskah, dan pemeran, juga tugas-tugas lainnya, saya pilih Gemini Eka."

"Ha?" Suara bingung itu langsung memenuhi ruangan. Semua mata termangu.

Kalau bicara yang paling mewakili kedua klub, yang paling ikonik, tak bisa dipungkiri, Ge lah orangnya. Dia adalah anggota klub basket, dan kedekatannya dengan tim cheerleader—mengingat sahabat dan kembarannya ada di sana—jelas tak bisa dipandang sebelah mata.

Namun, menjadikannya pemimpin untuk tugas sebesar pentas drama? Sama sekali tak cocok. Mungkin stand-up comedy atau sirkus lebih sesuai dengan karakternya, namun drama? Bukankah itu sama saja seperti memberikan tanggung jawab budidaya ikan air tawar kepada seorang pemahat kayu—sama sekali tak nyambung.

Namun, di luar perkiraan, cewek yang tak pernah bisa ditebak kelakuannya ini malah bertepuk tangan heboh. "Oke! Siap!" serunya penuh percaya diri. "Serahkan semuanya sama saya, Bu! Aman!" Ia mendeklarasikan sanggup mengemban tanggung jawab besar ini tanpa sedikitpun keraguan.

"Aman, aman, kepala lu aman!" gerutu Grey, lalu menengok ke Mini yang ada di sisi kanannya. Kembaran Ge itu sudah bergeser jauh, menyibukkan diri mengobrol dengan sembarang orang, kelihatan jelas malu dengan kelakuan Ge.

Lihat selengkapnya