Jam menunjukkan pukul delapan belas lewat lima belas menit. Grey melesat keluar kamarnya, langkah kakinya terdengar terburu-buru menuruni anak tangga, seperti dikejar oleh waktu yang terasa sangat berharga.
Malam ini, ia mengenakan pakaian yang baru dibelinya sore tadi, sebuah sundress elegan berbahan brokat warna broken white. Gaun itu dihiasi aksen bunga-bunga kecil berwarna peach dengan daun hijau lumut di tepi bawahnya, memancarkan aura lembut dan feminin. Garis leher yang sedikit rendah memperlihatkan tulang selangkanya, menambah kesan anggun. Sepatu mary jane hitam mengkilap yang ia kenakan menyelaraskan penampilan, memberi sentuhan klasik. Di bahunya tersampir tas dengan tali rantai tipis berwarna coklat tua.
Rambutnya dibiarkan tergerai natural. Untuk menambah manis, ia mengambil sebagian kecil rambut di kedua sisi depan, mengikatnya longgar di belakang dengan jepitan kecil berwarna putih mutiara. Wajahnya dipoles tipis, menonjolkan mata dan bibirnya, tapi cukup untuk membuat perbedaan signifikan.
Penampilannya malam ini benar-benar total, hampir terasa asing dan sangat kontras dengan Grey yang biasa.
Gwen, yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah sambil menonton televisi, langsung terperangah. Matanya membulat, ia bahkan refleks mengucek matanya, seolah memastikan pandangannya tidak keliru. Ada campuran takjub dan keheranan yang kentara di wajahnya. Ia tidak percaya bahwa sosok feminin dan anggun yang baru saja melesat turun dari tangga dan melewatinya dengan tergesa-gesa itu adalah Grey, adiknya.
"G-Grey?" Gwen hanya mampu menggumamkan pertanyaan itu tanpa suara, terlalu tercengang untuk memanggil adiknya yang sudah setengah jalan menuju pintu utama.
“Mau kemana itu anak,” gumamnya curiga.
Begitu kakinya menyentuh luar rumah, Grey segera mendapati taksi yang telah ia pesan, menunggu tepat di depan gerbang. Dengan langkah-langkah panjang—gerakan anggunnya sedikit dirusak oleh ketergesaan—ia segera masuk ke dalam mobil.
Perjalanan dari rumahnya menuju Coffee Roast, cafe baru yang sedang populer di sekitar sekolah mereka, semestinya tidak memakan waktu lebih dari setengah jam. Namun, ia lupa memperhitungkan kondisi lalu lintas padat yang disebabkan oleh jam pulang kerja. Ketakutan menanti, kekhawatiran merusak momen, menjalar dalam benaknya. Ia takut membuat Zumi menunggu terlalu lama di sana, takut kencan pertama mereka harus dimulai dengan kesan yang terburu-buru.
Grey tampaknya sudah sepenuhnya terseret masuk ke dalam pusaran harapan naif yang biasanya selalu ia singkirkan. Sepanjang sore hingga kini, di dalam taksi, ia duduk gelisah. Kedua lututnya bergerak-gerak naik turun tanpa henti, sebuah manifestasi fisik dari badai resah yang berkecamuk di dalam hatinya.
Ia tahu, ia telah berhasil menipu dirinya sendiri. Logika-logika keras yang biasa ia pegang erat kini sengaja dikesampingkan, dilumpuhkan oleh gejolak perasaannya. Ia memilih untuk menikmati dan menjalani momen saat ini sepenuhnya. Jauh di dalam alam bawah sadarnya, Grey menyadari betul bahwa ia sedang berjalan di atas es tipis—bahwa keterlibatan emosional sebesar ini mungkin tidak akan berakhir baik baginya.
Namun, untuk sekali ini, Grey memilih untuk menutup mata dan menulikan telinga dari suara peringatan itu. Ia membiarkan kegembiraan menaklukkan kekhawatiran.
Tepat seperti yang diharapkan—dan yang melegakan—ternyata lalu lintas tidak sepadat yang Grey takutkan. Ia turun dari taksi, berdiri di depan pintu masuk Coffee Roast, sebuah kafe modern yang memancarkan aroma kopi panggang yang halus.
Ia mengecek jam tangan. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum pukul tujuh. Sebuah desahan lega terlepas dari bibirnya. Ia tidak terlambat.
Sebelum melangkah masuk, ia berdiri sebentar di depan pintu, sibuk merapikan gaunnya. Tangan halusnya dengan cekatan menyentuh bagian bawah gaunnya yang sedikit lecek akibat duduk terburu-buru di taksi. Ia menarik nafas dalam, mencoba meredakan sisa-sisa kegelisahan dalam dadanya. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan tapi penuh antisipasi, ia akhirnya mendorong pintu kaca, dan melangkah masuk ke dalam kafe. Denting lonceng yang tergantung di atas pintu mengiringi kedatangannya. Semerbak harum kopi bercampur dengan aroma makanan lainnya bersatu padu dengan kehangatan kafe.
Lampu cafe berwarna kuning hangat, memancarkan cahaya lembut yang memeluk seluruh ruangan. Di dindingnya yang di cat broken white—senada dengan gaun brokat yang ia kenakan—tergantung beberapa lukisan kontemporer yang menambah kesan artistik. Nuansa kafe ini begitu nyaman dipandang mata.
Grey melangkah pelan, matanya menyebar ke seluruh penjuru ruangan yang ternyata cukup ramai oleh pengunjung. Keningnya sedikit berkerut, mencari sosok yang ia nantikan.
Seorang pramusaji bertubuh mungil mendekatinya dengan senyum ramah. "Maaf, untuk berapa orang? Atau sudah memesan tempat sebelumnya? Karena saat ini kami sedang penuh," tanyanya sopan.
"Ah," Grey mengangguk kikuk. "Atas nama Zumi." Ia ingat Zumi telah memberitahunya bahwa meja sudah dipesan.
"Oh, baik. Silahkan di pojok sana, ya. Kalau mau pesan, panggil aja." Pramusaji itu menunjuk ke sudut ruangan. Itu adalah meja tengah, di antara tiga deret meja yang berjejer di samping tembok. Hanya ada dua bangku yang mengapit meja kecil yang masih kosong itu. Melihat konfigurasi intim tersebut, jantung Grey seketika berdetak lebih halus, namun lebih kencang. Ia membayangkan sebentar lagi, ia akan duduk berhadapan, hanya berdua, dengan Zumi di sana.
Dengan gerakan anggun, ia melepaskan tali tas dari bahunya, kemudian mendudukkan diri di bangku. Tas kecilnya itu diletakkan di pangkuan. Ia berusaha keras agar punggungnya tetap tegak sempurna, tidak bersandar pada sandaran kursi. Ia sudah tampil anggun; kini, gestur tubuhnya pun harus sejalan, mencerminkan citra yang ia ciptakan malam ini.
Matanya berkeliling, mengamati orang-orang di meja lain. Rata-rata adalah pasangan yang sedang berkencan, meski tak sedikit juga yang datang bersama sahabat. Tawa ceria sesekali menggema, mengisi udara. Grey, yang biasanya tidak suka kebisingan, kini justru menikmati hiruk pikuk ini. Seandainya suasana hening, ia yakin ia akan jauh, jauh, sangat lebih gugup daripada sekarang. Kegaduhan di ruangan ini menjadi distraksi yang menyelamatkan, berhasil mengalihkan fokusnya dari ketegangan yang menunggu di meja ini.
Satu menit, lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit berlalu. Waktu terasa merangkak lambat, setiap detiknya menambah berat beban kekhawatiran Grey. Ia sudah memesan minuman, dan sudah hampir habis isi gelasnya, namun sosok Zumi belum juga terlihat. Grey mulai merasa matanya kering karena terus-menerus melirik cemas ke arah pintu masuk. Lehernya pun sudah terasa pegal karena harus menjulur berulang kali untuk menengok ke jendela. Sesekali ia mengecek ponselnya, layar terang menunjukkan realitas pahit: tak ada pesan, tak ada kabar.
"Ah, mungkin dia kena macet," gumamnya pelan, sebuah upaya penenangan diri. Ia mengembalikan ponselnya ke dalam tas.