Hampir dua minggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir Grey dengan Albitra, yang berakhir dengan pertengkaran tak terelakkan di pinggir jalan itu. Selama dua minggu penuh, mereka tak berkomunikasi sama sekali, menciptakan ruang kosong yang dingin. Seolah-olah seperti dirinya kembali ke kehidupan sebelum semester ini, tak mengenal Albitra, tak mendadak dekat dengan cowok itu dan terlibat dengannya disana-sini.
Status hubungannya dengan Zumi juga masih menggantung, belum diluruskan. Zumi, Albitra, dan seluruh anggota tim basket sedang berada di puncak kesibukan, berkompetisi untuk memperebutkan posisi di final piala Provinsi. Mereka sangat fokus hingga jadwal latihan pun tidak lagi berbarengan dengan tim cheers seperti biasa.
Selama rentang waktu itu, Grey memainkan sandiwara sempurna. Ia pura-pura hubungannya dengan Zumi baik-baik saja. Setiap kali ada yang menggodanya, menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan mereka, Grey hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa getir. Ia menjaga rahasia itu dari siapapun yang bertanya, termasuk Silo atau Mini, kecuali Ge—yang merupakan satu-satunya orang yang tahu betul masalah Grey, meskipun dia sendiri memilih untuk tidak berbagi keluh kesah secara eksplisit. Sebagai teman yang paham situasi, Ge tak ikut menggoda, namun juga tak bertanya.
Sayangnya, hari ini, di hari Jumat yang panas terik dan rasanya nyelekit di kulit, mereka akhirnya berkumpul lagi di Aula sekolah untuk pertama kalinya. Pertemuan itu diadakan untuk pembacaan naskah drama yang akan mereka pentaskan.
Tepat di Aula yang terasa gerah, ada dua kabar yang Grey dengar, dan kedua-duanya terasa menusuk dan sama sekali tidak enak di hati.
Kabar Buruk Pertama: Tim basket gagal mengambil posisi di final.
Obrolan yang beredar luas di sekolah menuding kegagalan ini datang dari kesalahan Albitra, yang dianggap tidak mampu memimpin timnya sebaik Zumi. Meskipun tidak ada satupun anggota tim yang secara terbuka menyatakan hal tersebut, tak ada pula yang membantah saat desas-desus itu terdengar oleh mereka.
Gosip ini menyebar liar, dan Grey merasakan tusukan rasa bersalah karena ia hanya diam saat mendengarnya. Di satu sisi, ia merasa tidak suka Albitra dijadikan kambing hitam—padahal ia sendiri tidak tahu kebenarannya. Namun, disisi lain, ia merasa tidak berhak untuk ikut campur dan meluruskan.
Satu-satunya hal yang ia sadari ia bisa lakukan adalah menghibur Albitra. Ia tak bisa membayangkan betapa terpuruk dan sedihnya seseorang yang berada di posisi tersebut. Namun, ia tidak bisa melakukannya, bukan hanya karena hubungan rapuh mereka sudah hancur sebelum sempat terjalin, tetapi juga karena adanya Berita Kedua yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri: Albitra dan Danish semakin dekat.
Tadi, dalam perjalanan menuju aula, pandangan Grey tersangkut pada pemandangan di kantin. Ia melihat Albitra dan Danish duduk berhadapan, hanya berdua. Kehadiran mereka begitu mencolok, dikelilingi keramaian kantin, membuat siapapun yang lewat mau tak mau akan memperhatikan. Mereka tampak asyik mengobrol. Seolah dunia hanya milik berdua.
"Bikin sakit mata aja!" gerutu Grey, kesal itu ia telan mentah-mentah. Pemandangan itu membuat kata-kata Albitra malam itu terus terngiang-ngiang di otaknya: "Lu nggak masalah even kalau gue dekat sama cewek lain? Sama Danish sekalipun?"
Apa maksud cowok itu bicara seperti itu waktu itu? Apa dia memang sudah merencanakan sejak awal untuk lebih dekat dengan Danish? Ataukah sebenarnya pernyataan cinta yang dilontarkannya hanyalah salah satu dari sekian banyak pernyataan yang ia lakukan kepada perempuan lain—termasuk Danish?
Hati Grey terasa dongkol dan sesak karena harus mengira-ngira mana yang benar. Gara-gara hal ini, pikirannya sepenuhnya teralih. Padahal, niat awalnya hari ini adalah untuk buru-buru mengatur ulang pertemuan dengan Zumi yang tertunda—untuk mengkonfirmasi hubungan mereka. Tetapi sekarang, dia malah terjebak dalam pusaran situasi menyebalkan ini, di mana perasaan cemburu dan kecewa terhadap Albitra mencuri seluruh fokusnya.
"Nih Grey, naskah lu," Ge menyodorkan sejilid kertas, membangunkan Grey dari lamunan yang membuatnya sesak.
Dengan gerakan tidak bersemangat, Grey mulai membolak-balik lembaran kertas di tangannya. Matanya memicing, membaca sekilas dialog-dialog di sana. "Ge!" serunya kemudian, nadanya penuh ketidakpercayaan. "Bukannya lu bilang gue cuma jadi pembantu?"
Ge hanya mengangguk santai, sibuk membagikan sisa naskah ke anggota lain.
"Terus kenapa dialog gue banyak banget?!" todong Grey, benar-benar tak paham. Kerutan di dahinya semakin dalam.
Ge berjalan kembali ke arah Grey, tersenyum lebar. "Iya, kan judulnya Pembantu and Her Prince."
"HA?!" pekik Grey, suara terkejutnya menarik perhatian beberapa orang di Aula. "Bukannya The Prince and Princess?" Ia buru-buru membalik naskah itu ke halaman pertama, matanya langsung menyapu judul di sampul.
"Katanya basi, ya gue ganti lah! Keren, kan? Jangan terharu gitu dong mukanya," seloroh Ge, waktu melihat Grey melotot terperangah. Wajah Grey menunjukkan kombinasi antara syok dan rasa dikhianati yang lucu.
"Terus Silo? Silo jadi apa?" Grey akhirnya teringat. "Eh, Silo di mana, deh?" Ia baru sadar salah satu teman dekatnya itu tidak ada di sekitar, padahal biasanya Silo lah yang paling menempel.
"Tetap jadi Princess, tapi dialognya dikit, lagian dia juga nggak mau datang baca naskah." Ge mendekat dan berbisik pelan, matanya mengawasi sekitar. "Lagi broken heart dia gara-gara mergokin Albitra sama Danish."
Seketika, bibir Grey kelu, tak bisa berkomentar. Semua gertakan dan keluh kesah yang ia rasakan terhadap Albitra dan Danish langsung terasa munafik dan sepele. Bisa-bisanya ia lupa sama sekali bahwa orang yang akan paling sakit hati ketika mendengar kabar kedekatan Albitra dengan cewek lain adalah Silo, dan malah sibuk berkutat dengan rasa cemburu pribadinya.
Sekarang, rasa bersalah itu mencekiknya. Ia merasa tidak berhak menghibur Silo. Pun, ia tidak bisa menyalahkan Albitra, karena secara tidak langsung, dialah yang mendorong cowok itu untuk melakukan hal tersebut dengan penolakan dan pengakuan palsu bahwa mereka hanya teman.
Dan speak of the devil, sosok Albitra langsung memasuki ruangan.