The calm before the storm (ketenangan sebelum badai).
Barangkali itu perumpamaan yang paling cocok untuk menggambarkan secara singkat bagaimana perasaan Grey saat ini.
Ia menunggu di Coffee Roast, di meja pojok yang entah mengapa juga sama persis dengan pertemuan mereka yang gagal dua minggu lalu. Namun, hari ini, ia tidak mengenakan gaun cantik dan berdandan maksimal. Ia hanya mengenakan loose jeans dan kemeja flanel biru yang dibiarkan terbuka, memamerkan kaos polos hitam di dalamnya. Rambutnya digerai cuek di balik topi hitam yang menutupi dahinya, dan sepatunya adalah sneakers putih kets yang biasa ia pakai sehari-hari. Penampilannya mencerminkan suasana hatinya: santai di luar, tetapi tanpa ada usaha atau semangat.
Akhir-akhir ini, keadaan berjalan serba mengejutkan dan membingungkan. Dimulai dari Zumi menyatakan perasaan, Albitra menyusul melakukan hal yang sama tetapi malah dekat dengan Danish, dan Mini yang sampai saat ini masih tak membalas chat atau mengangkat teleponnya. Grey merasa tak punya cukup energi lagi untuk berdebar menyambut pertemuannya dengan Zumi malam ini. Pun merasa melankolis untuk menyambut patah hati.
Tak seperti sebelumnya, kali ini Zumi muncul hanya berselang tiga menit setelah Grey tiba. Ia mengenakan kemeja krem oversize dan celana jeans pendek, menyapa sekadar dan langsung duduk. Kini, mereka berhadapan dalam keheningan yang canggung.
Zumi berkali-kali mencuri lirik ke arah Grey. Ketenangan Grey tampak tidak sebenarnya damai; diamnya membuat resah, was-was dan membuatnya makin merasa serba salah. Gadis ini mirip laut dalam yang sepi, berbahaya, dan menyimpan banyak rahasia.
Sebenarnya Grey sendiri, meski tak terlihat, ia mati-matian berusaha memunculkan kembali api semangat untuk pertemuan ini. Ia ingin merasakan percikan asmara yang membakar seperti sebelumnya—yang membuatnya menyingkirkan pikiran-pikiran negatif dan memilih mengikuti kata hati. Namun, setelah semua yang terjadi, ia gagal. Ia menyadari betapa rumitnya keadaan ini, dan tahu, ia tidak boleh mengedepankan hatinya lagi. Meskipun kenyataannya, jauh di dalam dadanya, seperti sudah ada bongkahan batu besar yang siap pecah. Grey tahu betul perasaan ini. Ia tahu, ini adalah ketenangan menakutkan sebelum badai besar yang siap menghantam seluruh usaha untuk tetap damai.
"Katanya ada yang mau lu jelasin.” Ketenangan Grey jelas sudah berkurang, ia memilih untuk memulai pembicaraan karena tak tahan terus menerus diam. Sekilas suaranya terdengar dingin dan terkontrol, namun jelas ada gejolak di dalam sana yang ditekan kuat-kuat. Ia merasa, keheningan di antara mereka bukanlah penyebab utama kekecewaan yang ia rasa, tapi menunda-nunda menyampaikan kebenaran yang dilakukan Zumi, menambah sesak di dada.
"Gimana kalau kita habisin es krimnya dulu?" Saran Zumi, berusaha tetap terplihat santai, walaupun gestur tubuhnya jelas gelisah—jari berulang kali menyentuh tepi meja, dibawah, lututnya bergerak naik turun—jelas menunjukkan ketegangan.
Tak menyahut, Grey langsung menyendok lagi es krim di dalam mangkuknya. Ia memasukkan ke dalam mulut, dan melumatnya tanpa menikmati, terus menerus, tanpa jeda. Tak ada manis yang ia rasa. Benda dingin yang memenuhi mulutnya itu malah terasa pahit dan tajam, seperti duri. Indra pengecapnya menyelaraskan indera penglihatannya yang sudah mengirim sinyal sakit ke hati lebih dulu. Tatapan Zumi—tatapan penuh rasa bersalah yang tak terhindarkan itu—membuat dada Grey terasa terhimpit kuat. Ia ingin segera menyelesaikan rasa sesak ini, ingin semua hal mengganjal ini usai dan pulang ke rumah.
"Ayo," ucapnya kemudian, suaranya nyaris monoton, setelah menghabiskan es krim di mangkuknya tak bersisa dalam waktu kurang dari tiga menit. Ia langsung berdiri, tanpa mempertimbangkan Zumi yang masih memegang sendok dan es krimnya masih setengah penuh, cowok itu terbelalak menatapnya, terkejut oleh ketergesaan yang ia tak sangka.
"O-oke." Dia akhirnya ikut bangkit.
Mulanya ia mengekor Grey keluar kafe dengan sedikit linglung. Namun, ketika gadis itu tiba-tiba berhenti di satu titik, dua meter sebelum mencapai jalan raya dan terdiam, seperti sedang berjuang memikirkan sesuatu yang membuatnya hilang fokus, Zumi bergerak mendahului. "Kita ngobrol disana gimana?" Nunjuknya ke halte bus yang sepi.
Grey mengangguk, selama beberapa detik tadi, yang ada dipikirannya justru pertengkarannya dengan Albitra di tempat ini. Sadar harus kembali fokus ke masalah utama, dia bergerak lebih tegas, berjalan dua langkah di belakang Zumi. Bongkahan batu yang berat di dalam hatinya, mulai bergerak, pelan-pelan bergeser, di dorong dari kedua sisi. Baik perasaannya ke Zumi, dan pikirannya tentang Albitra.
"Sorry, gue nggak tahu kalau lu buru-buru, tadinya gue mau ngobrol di kafe." Buka Zumi, ketika akhirnya mereka duduk di bangku yang terbuat dari beberapa batang besi berbentuk tabung.
Masih tak menyahut, Grey dengan ekspresi berat yang menggantung di wajahnya, hanya menatap permukaan aspal yang membentang di depan mereka.
Sadar tak sepantasnya ia menunda lagi, karena gadis sesantai dan seramah Grey sekarang sudah kelihatan tak kerasan di sampingnya, Zumi pun akhirnya menarik napas panjang. Ia menegakkan punggung, memutar tubuh, dan menoleh tegas ke arah Grey yang masih menatap aspal.
"Sorry, Grey, Sorry kalau malam itu gue lancang tiba-tiba ngajak lu pacaran. Gue akuin gue pengecut, sebenarnya gue—"
"Suka sama Silo, kan?" potong Grey, suaranya datar, tanpa emosi, seolah hanya mengkonfirmasi fakta cuaca. Kalimat yang tertahan ini akhirnya keluar juga. Detik dia menengok ke arah Zumi—yang tatapannya gemetar, penuh rasa tertangkap—bongkahan batu itu mulai bergerak liar dan terperosok jatuh ke dalam perutnya, menciptakan sensasi kosong yang menakutkan di dalam dadanya.
"Iya," Zumi mengaku, langsung tertunduk dalam, penuh penyesalan dan rasa malu. "Cuma gue nggak berani ungkapin perasaan gue malam itu, dan anak-anak semua bilang kalau kita dekat. Gue tahu gue salah, tapi saat itu gue berpikir gimana caranya biar gue dan lu sama-sama nggak malu karena keadaan itu. Maaf, seharusnya gue nggak kayak gitu, harusnya gue ngelurusin kalau kita nggak ada hubungan dan perasaan apa-apa."
"Tapi lu tahu, gue suka sama lu," sela Grey, suaranya sedikit bergetar meski tatapannya dingin. "Ya, kan? Lu ngelakuin itu karena tahu gue nggak bakal bisa nolak lu malam itu."
Wajah Zumi terangkat pelan, saat akhirnya mata mereka bertemu lagi. Ia tak bisa memberikan jawaban lain selain anggukan.
Saat itu juga, bongkahan batu di perut Grey itu hancur, meledak, berkeping-keping. Setiap bagian pecahannya terpelanting ke setiap sudut tubuh Grey, menciptakan rasa perih yang meluas karena kenyataan yang menghantam.
"Nggak apa-apa, gue paham situasi lu," dusta Grey kembali menatap ke aspal. Tatapannya kosong. Suaranya terdengar mendadak stabil, sebuah kesengajaan untuk terlihat baik-baik saja padahal tengah mengalami patah hati yang paling pertama, paling jelas, dalam hidupnya.
Lucunya, karena ia sudah menduga sejak awal—sudah merasa tak boleh berharap terlalu banyak, karena hampir tak pernah harapannya menjadi kenyataan dengan mulus—ia tak merasa kesal pada Zumi.
Seluruh badannya sekarang terasa sakit, seperti memar yang meluas. Dadanya tak terasa tersayat-sayat oleh kenyataan bahwa dirinya hanya pemeran pengganti atau, lebih parahnya, stuntman dalam adegan itu. Tapi semua itu, tak membuat dirinya hancur. Jiwanya tak terguncang.
Saat ini ia hanya merasa getir, sebuah rasa pahit yang menjalar karena sadar mulai detik ini ia harus menyingkirkan jauh-jauh rasa sukanya pada Zumi.
Merasa tersinggung. Karena secara tak langsung dirinya sedang dipermainkan oleh cowok ini.