Petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat. Dari balik jendela yang tirainya sengaja dibiarkan tersingkap, Albitra terpaku menatap jutaan bulir hujan yang menghantam kaca dengan ritme yang tak beraturan. Ia berbaring miring di atas kasurnya yang empuk, tenggelam dalam keheningan yang hanya diinterupsi oleh gemericik air dari luar. Memainkan ponselnya, memandang sebuah foto yang sudah bermenit-menit ia pandangi.
Kamarnya bukan sekedar tempat beristirahat; itu adalah sebuah sanctuary melodi.
Cahaya lampu pijar berwarna kuning temaram membasuh setiap sudut ruangan, menciptakan bayangan-bayangan lembut yang menari di dinding. Suasana hangat ini membungkus Albitra dalam kenyamanan yang ganjil, seolah-olah ia sedang berada di dalam sebuah kafe musik tersembunyi di sudut kota London tahun 90-an. Aroma kayu tua dan kertas dari koleksi majalah musiknya samar-samar tercium, bercampur dengan dinginnya udara hujan yang merembes lewat celah jendela.
Deretan kaset piringan hitam (vinyl) tertata rapi di rak kayu. Pantulan cahaya lampu jatuh pada permukaan plastiknya, memamerkan sampul album legendaris yang warnanya mulai sedikit memudar namun tetap berwibawa. Poster-poster band seperti Oasis, The Beatles, dan Red Hot Chili Peppers dan lainnya tertempel dengan presisi. Wajah-wajah personilnya seolah mengawasi Albitra dari balik bingkai, memberikan nyawa pada ruangan yang sunyi itu.
Sebuah gitar elektrik tergantung anggun di dinding bagian barat. Senar-senarnya berkilau tertimpa cahaya temaram, siap untuk dipetik kapan saja inspirasi datang mengetuk. Namun benda itu tak pernah disentuh sejak ia tiba di Jakarta, fokusnya bukan lagi ke musik, ia mendadak berkegiatan sebagai atlet, terobsesi untuk menjadi kapten tim basket, hanya untuk meraih hati seseorang, seorang gadis, yang fotonya sejak tadi sedang ia pandangi.
Ponselnya yang semula diam, tiba-tiba bergetar, getaran kecil yang memutus rentetan pikiran yang menenggelamkannya. Notifikasi panggilan masuk menggantung di atas layar.
“Grey?”
Ia tidak membiarkan dirinya sedetik pun untuk berpikir ulang, langsung menekan tombol hijau di layar ponselnya, dan menempelkannya ke telinga yang dingin.
"Bisa ketemu?" ucap Grey, tanpa mengucap salam sapa, nada suaranya terdengar mendesak dan tanpa basa-basi.
Albitra seketika terlonjak dan langsung duduk tegak. Saking tak menyangka, ia sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga untuk memeriksa nama yang muncul di layar sekali lagi sebelum menjawab. "Sekarang?" tanyanya, suaranya dipenuhi keterkejutan.
"Em," sahut Grey singkat.
Albitra menoleh ke jendela, melihat derasnya hujan yang ada di luar. Suara hujan di kamarnya kini terasa jauh lebih jelas. "I mean, right now?" tanyanya lagi, memastikan bahwa Grey paham kalau saat ini sedang hujan deras.
"Em," ulang Grey. Ada getaran samar dalam suaranya. "Gue di depan rumah lu."
"What?" Pekik Albitra, langsung melompat dari kasur dan berlari ke jendela kamarnya.
Di antara rintik hujan yang menghalangi pandangan, dan gelapnya malam, sosok Grey terlihat tengah berdiri di depan pagar rumahnya. Di bawah temaram lampu jalan, gadis itu kelihatan basah kuyup, air hujan menetes dari topi dan pakaiannya.
"Shit!" umpat Albitra, ekspresinya langsung berubah panik dan marah pada dirinya sendiri karena sudah membuang waktu untuk ragu. Ia segera berlari keluar kamarnya dengan tergesa. Saat mendengar suara hujan di telepon Grey tadi, ia kira itu hanya suara hujan yang ia dengar sendiri dari dalam kamarnya; tak disangka, cewek itu ternyata benar-benar meneleponnya dari bawah hujan.
Ia menyambar payung yang ada di keranjang di samping pintu dengan tangan kiri, lalu membuka pintu rumah dengan tangan kanannya. Sambil berlari keluar sambil membuka payung dan memakainya. Kaki telanjangnya menapaki halaman rumahnya yang basah karena hujan, langkahnya sama sekali tak diperlambat sekalipun pijakannya licin. Ia terus mempertahankan kecepatan langkahnya, hingga sampai di depan gerbang dan langsung membukanya. Mendekati Grey agar tubuh gadis itu bisa berada dalam naungan payung, sambil berseru dengan nada khawatir yang bercampur dengan kemarahan: "What the fuck are you doing here?" Reflek mengumpat karena panik.
"Mau minta maaf," jawab Grey sambil nyengir kuda.
"What the—" Mata Albitra bergerak cemas. "Ayo, masuk dulu!" Ia langsung berbalik badan, menaruh tangannya di punggung Grey dan membimbing gadis itu masuk ke rumahnya.
Semula Grey mengira kalau Albitra akan menyuruhnya duduk di ruang tamu, jadi kakinya sempat memperlambat langkah ketika ia tiba di ruangan itu. Namun ternyata cowok ini masih tak melepas rangkulan di bahunya, masih terus menggiringnya untuk melangkah lebih dalam. Sampai akhirnya ia sadar kalau dia akan dibawa ke mana, ia langsung benar-benar berhenti, dan mengunci tubuhnya di tempatnya berdiri.
"Kenapa ke kamar?!" pekik Grey, mendadak panik. Ia berpegangan di bingkai pintu kamar Albitra, seperti bocah yang meronta saat dipaksa pulang dari taman bermain oleh ibunya, dan bersikeras tinggal dengan memegangi tiang ayunan.
"What are you doing?" tegur Albitra tak paham. "Your clothes are soaking wet (baju lu basah banget), lu harus ganti." Ia mendorong tubuh Grey agar masuk ke kamarnya.
"Rumah gue di sebelah, ngapain gue harus ganti baju di sini!" Grey memeluk tembok sekuat tenaga.
"Oh, God, Grey!" seru Albitra frustasi. "Kenapa malah kayak cicak gitu sih?"
"Ya lu ngapain ngajak gue ke kamar!" keluh Grey.
Alis Albitra terangkat. Ia memandang Grey yang berpegangan kuat di bingkai pintu dan dinding kamarnya selama beberapa saat. Detik kemudian ia baru paham. Karena terlalu cemas dan khawatir dengan keadaan Grey yang basah kuyup, ia lupa kalau budaya di Indonesia berbeda dengan Amerika. Tak ada yang langsung mengajak ke kamar kalau mengunjungi rumah teman di negara ini, apalagi lawan jenis. Ia lupa dengan hal itu, karena di Amerika, tak peduli siapapun itu, semua temannya akan langsung masuk ke kamar, diajak ataupun tidak.