D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #19

19. SILOVA

Remuk, serasa seluruh tulang di badannya remuk. Grey tak pernah menyangka akan mendengar ucapan ini dari Silo—sahabat yang sudah menemani suka dukanya sejak kelas sembilan.

Ia tahu dirinya bersalah, telah menutupi fakta bahwa Albitra menyukainya, dan ia mengambil kesempatan untuk berpikir ulang—sekadar formalitas—untuk mempertimbangkan perasaan cowok itu yang jelas-jelas sudah ia tolak sebelumnya.

Sejauh ini, dia tak pernah benar-benar menatap Albitra lebih dari teman—ia berusaha kuat untuk hal itu. Cowok itu memang setia di sampingnya saat tak banyak mata mengawasi—sesuai permintaannya. Beberapa waktu belakangan mereka melalui berbagai susah senang bersama, cukup banyak berbagi waktu. Dan memang, sejujurnya, hati Grey sempat goyah, sedikit goyah. Kadang terbesit di benaknya: apakah jadinya kalau dia menjawab "ya" ketika tiba waktunya Albitra menagih jawaban? Apa jadinya kalau hubungan mereka lebih dari sekadar teman? Padahal, sejak awal mengiyakan untuk memikirkan ulang, dia sudah berniat untuk menolak lagi. Tak ada berniat serius mempertimbangkan.

Tapi, jelas ia sempat goyah.

Di depan Albitra, ia seakan tak perlu terlihat baik-baik saja, tak perlu berusaha menutupi bagian-bagian buruk dalam dirinya. Albitra menarik keluar seluruh kepribadian yang ia sembunyikan, menerimanya seakan itu adalah hal yang paling wajar.

Betapa sebenarnya ia mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah berburuk sangka. Sisi buruknya itu dan yang lainnya, tak pernah malu untuk keluar ketika bersama cowok yang notabene paling asing dalam kehidupan sehari-harinya itu.

Kenyamanan itu, sehangat selimut tebal yang membuai, sempat menggoyahkannya. Sedikit, hanya sedikit. Grey berusaha keras agar tak berkembang lebih besar.

Karena sungguh setiap hal itu terjadi, di hatinya tetap tak ada keleluasaan untuk benar-benar goyah. Silo, yang hatinya menjadi prioritas utama—selalu muncul di benaknya. Jadi dia sekuat tenaga berusaha agar tak kehilangan fokus, agar tak terhanyut, tak terbawa suasana dan sepenuhnya goyah, terus mengingatkan dirinya kalau hubungannya dengan Albitra tak boleh lebih dari sekadar teman.

Ia berusaha, sungguh berusaha, untuk memberitahu Silo tentang hal ini. Namun, bagaimana bisa ia menceritakan secara gamblang, menjelaskan secara eksplisit, menjabarkan dengan tepat agar Silo memahami situasinya?

Sahabatnya itu terang-terangan selalu menunjukkan ketertarikannya yang teramat sangat ke sosok Albitra sejak cowok itu muncul. Dan berkali-kali pula mengingatkan agar dirinya tak menyukai Albitra.

Bagaimana caranya dia menjelaskan bahwa cowok yang Silo sukai, ternyata menyukainya? Sungguh ia berpikir lagi dan lagi setiap kali melihat wajah Silo yang ceria. Namun ia tak kunjung menemukan cara, tak punya jawabannya. Makin hari, rasa bersalahnya makin menggelembung dan tumbuh subur, mencekiknya perlahan. Dan waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan.

Yang menjadi jalan keluar di benaknya hanya satu: doa. Ia berdoa agar Albitra buru-buru menagih janji, agar dia bisa menolak cowok itu sekali lagi, menolak dengan tegas sehingga mereka tetap menjadi teman. Dengan begitu, dia tak perlu menjelaskan apapun yang rumit ini kepada Silo. Entah apa yang cowok itu tunggu, entah apa yang dia pertimbangkan, sudah cukup lama sejak saat dia minta Grey berpikir ulang, namun ia tak kunjung bertanya.

Dan kenapa keadaan tiba-tiba menjadi seperti ini?

Kapan sebenarnya semua kekacauan ini dimulai?

Saat Grey tenggelam dalam pusaran pikiran yang penuh harap dan rasa bersalah itu, Silo, yang berdiri di hadapannya, memecah keheningan yang mencekik di antara mereka.

"Gue akan keluar dari cheer," ucapnya, nada suaranya final dan dingin. Tatapannya tegas, menusuk lawan bicaranya.

Di depan Silo, dunia Grey seakan runtuh. Wajahnya pucat pasi, menatap kosong dengan mata yang kering dan enggan beralih. Suaranya tertelan di tenggorokan, meninggalkan mulutnya mengatup kaku dalam bisu. Ada kerutan dalam di dahinya, tanda luka yang tak kasatmata. Dadanya sesak, napasnya seolah terperangkap, memenjarakan Grey dalam satu momen kejut yang melumpuhkan seluruh tubuhnya.

Inikah alasan Silo menjaga jarak selama ini? Semua pesan dan teleponnya yang diabaikan, bukan karena Silo sedang berlibur bersama keluarganya dan tak sempat mengecek ponsel, melainkan karena ia memang ingin memutus hubungan dengannya?

Lihat selengkapnya