Mungkin semuanya dimulai dari hari itu.
Seumur hidupnya, Silo selalu memastikan bahwa dirinya tak pernah ‘menjilat ludah sendiri’. Ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, ia pastikan tak ada yang terlupa. Namun, rasa sakit akan pengkhianatan dan dusta, menggerogoti hati nuraninya.
Beberapa hari sebelumnya...
"Min, Grey kenapa?" tanya Silo, nadanya sedikit jengkel saat ia mendekati Mini.
Di pojok Aula, Grey duduk sendirian, menunduk, meringis sambil memegangi perutnya. Silo merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun sadar kalau Mini sejak tadi mengabaikan hal itu.
Mini menoleh sekilas ke Grey, lalu kembali menatap Silo. "Kayaknya lagi nggak enak badan."
Bibir Silo mengerucut, terang-terangan tak senang dengan respons yang ia terima. "Kok kayaknya? Di kelas tadi kayak gimana?" cecarnya, sorot matanya menuntut kejelasan. "Lu berantem sama Grey? Gara-gara Iwe?"
Mini langsung menarik lengan Silo dengan panik, agar sahabatnya itu berdiri lebih dekat di sisinya. "Kok lu tahu?" bisiknya, tak ingin terdengar orang lain.
"Ck!" decak Silo frustasi, bersedekap tak nyaman. "Gue kira obrolan anak-anak basket kemarin tentang lu marah sama Grey di depan Iwe cuma gosip, makanya biarpun males dateng ke sini karena masih sakit hati lihat Albitra sama Danish, gue mau ngawasin kalian dan buktiin gosip itu nggak bener!" Ia menatap Mini teguran tajam. "Gimana sih lu, Min! Apapun itu, bisa-bisanya lu ngesampingin temen lu gara-gara cowok?" tegurnya frontal, nadanya penuh kekecewaan.
Ia langsung meninggalkan Mini yang terdiam dan menyambangi Grey.
"Grey, lu nggak apa-apa?" tanyanya. Silo menunduk, memegang kedua bahu Grey, dan mengamati wajah sahabatnya yang kelihatan sayu dan pucat.
Grey menggeleng lemah. Tidak, dia tidak baik-baik saja.
Saat bangun pagi, ia sudah merasakan perutnya tak enak. Sehari sebelumnya, pikirannya kusut karena Mini marah, sehingga ia tak berselera makan siang. Saat bertemu dengan Zumi di malam harinya, dia juga hanya memakan semangkuk es krim—yang bukan mengenyangkan, malah membuat perutnya sakit dan mual dalam kondisi stres. Lalu tadi pagi, sialnya, dirinya yang tak nafsu mengisi perut dengan makanan, melihat segelas minuman berwarna hijau yang ia pikir jus buah. Seteguk ia coba, rasanya menyegarkan dan enak di mulutnya yang sedang tak berselera menyantap apapun. Dan tepat ketika gelas isi gelas itu habis, Gwen muncul dan berseru.
"Ngapain lu minum itu, Grey? Itu minuman diet gue!"
Dan begitulah Grey tahu kalau minuman yang ia minum adalah pelancar buang air besar untuk menunjang program diet Gwen. Alhasil, sekarang perutnya melilit, sakit, seperti hendak mengeluarkan seluruh isinya, namun sayang tak ada isi apa-apa di dalam perutnya kecuali organ-organ tubuhnya sendiri.
"Perut gue," Grey meringis kesakitan, berpegangan erat pada lengan Silo. "Sakit."
"Ayo-ayo kita ke UKS!" Silo mencoba membantu Grey berdiri, namun tubuhnya yang mungil tak sanggup menopang Grey yang lemas. Kepanikan melintas di wajah Silo.
Dari kejauhan, Ge yang sedang sibuk meminta pendapat Albitra perihal naskah drama, langsung menyenggol lengan cowok itu dengan sikunya. Begitu Albitra menengok menatapnya, ia langsung mengedikkan dagu sambil menatap ke arah Grey dan Silo. Tanpa perlu bicara apapun lagi, keduanya langsung bergerak menghampiri.
"Kenapa, Grey, lu sakit?" tanya Ge, meskipun ia masih beberapa langkah lagi tiba di hadapan Grey, nada suaranya menunjukkan kekhawatiran yang khas dari dirinya yang jarang serius.
Albitra berdiri di samping Ge, berdiam diri, hanya mengawasi.
"Ge, tolong anter gw," ucap Grey lemah.
Dengan sigap, Ge langsung berjongkok membelakangi Grey. Ia menyilangkan kedua tangan Grey di depan dadanya, lalu berdiri dengan sentakan kuat. Ge menggendong Grey di punggungnya keluar aula dengan langkah cepat, seolah sahabatnya itu seringan tas ransel sekolahnya sendiri.
Silo dan Albitra mengekor di belakang. Langkah kaki Albitra yang panjang dengan mudah mengimbangi kecepatan Ge, sementara Silo yang mungil harus berlari-laki kecil agar tidak tertinggal jauh.