Silo mencoba bertahan pada kesimpulan baiknya selama beberapa hari. Namun, potongan demi potongan kecurigaan itu, yang tadinya hanya duri, kini menyebar liar dan menyelimuti setiap relung hatinya saat dia dan beberapa orang lainnya—termasuk Ge, Mini, Iwe, Zumi, dan Arman—menjenguk Grey yang akhirnya dirawat di rumah sakit karena tipes.
Pemandangan itu adalah pukulan telak yang berikutnya: Albitra berada di sisi Grey, menjaga gadis itu dengan intensitas yang tidak wajar untuk sekedar teman.
“Gwen masih di luar kota, dan mama gue lagi pulang sebentar, jadi minta tolong Albitra untuk jaga sebentar, padahal udah gue bilang nggak usah,” jelas Grey saat ditanya, suaranya lemah karena sakit.
Silo mendengarkan, tetapi matanya lebih liar dan jujur. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling kamar inap itu, dan menemukan tas punggung milik Albitra di sudut ruangan. Tas itu terlihat penuh sesak, buncit, seperti banyak benda berjejal di dalamnya—mungkin buku-buku pelajaran lebih dari satu hari, mungkin baju ganti.
Apapun isinya, tas itu menggambarkan sebuah kejelasan yang menyakitkan. Albitra terlihat seperti seseorang yang bukan baru datang, atau berencana segera pergi seperti yang Grey bilang. Entah dia sudah menginap, atau memang hendak menginap malam ini. Tas itu, dengan segala bebannya, adalah konfirmasi bisu yang merobohkan benteng pertahanan Silo.
“Grey,” panggil Silo. Ia menunggu, sesaat sebelum meninggalkan ruangan, setelah semua yang lain—termasuk Albitra—sudah keluar ruangan karena mereka hendak menuju restoran untuk makan malam.
Ia mendekat ke sisi Grey yang kelihatan begitu lemah. Amarah yang mulai mendidih di dalam dadanya, kini berjuang melawan rasa iba melihat sahabatnya yang payah di hadapan. Ia tahu Grey sakit, ia tahu ia akan terlihat picik dengan mempermasalahkan perasaannya pada waktu seperti ini. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia masih ingin berpegangan pada pikiran positifnya yang semakin tipis.
Ia bergerak ke sisi ranjang. "Gue mau tanya sekali lagi," suaranya pelan, tegang, seolah memberi Grey kesempatan terakhir untuk jujur. "Lu sama Albitra, nggak ada hubungan apa-apa, kan?"
Grey terdiam sejenak. Wajahnya yang pucat membuat keheningan itu terasa lebih panjang dan memberatkan. Matanya berkedip beberapa kali, memandang Silo dalam, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Nggak, kan gue udah bilang sama lu," sahutnya kemudian.
Sebuah senyum hampa, penuh kepahitan, tersungging berat di bibir Silo. Ia mengangguk. Entah karena lega, atau karena sudah tahu ia sedang dibohongi. Ia memegang bahu Grey pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau mereka bagaimanapun juga adalah sahabat dekat, sebelum akhirnya pamit pergi menyusul yang lain, membawa serta gema kebohongan yang baru saja ia dengar.
Tapi ternyata, semesta seakan sedang berusaha untuk membuatnya paham.
“Albitra suka sama Grey, lu pasti udah sadar, kan?” ucap Danish keesokan harinya.
Entah kapan Danish masuk ke toilet. Entah di matanya Silo yang sedang termenung di depan wastafel terlihat seperti apa sampai tiba-tiba bicara seperti itu tanpa basa-basi sebelumnya. Namun, ucapan Danish itu jelas memicu ledakan dari bongkahan-bongkahan bom waktu yang sudah mengendap di dalam dada Silo selama beberapa hari. Seperti peta untuk dirinya yang tersesat.
Ia memang tak menyukai Danish; apapun yang cewek ini ucapkan selalu membuatnya kesal. Namun kali ini, kemunculannya yang tiba-tiba dan ucapannya yang bisa saja memang sengaja ditujukan untuk membuat dirinya dan Grey berseteru, terasa sangat jujur, terasa menjawab seluruh keraguannya yang menyiksa.
Ia menoleh, mempertahankan ekspresi datarnya agar Danish tak berpikir kalau dirinya langsung jatuh ke dalam perangkap dangkal yang ia pasang. “Kenapa lu ngomong ini ke gue?”
Danish tersenyum sinis. “Lu kan tahu gue nggak suka sama Grey, gue nggak tahan lihat kemunafikan dia yang biasa-biasa aja di depan lu. Padahal satu sekolah tahu lu suka Albitra, dan padahal semua juga berpikir kalau dia pacaran sama Zumi. Tapi bisa-bisanya di belakang dia tetep deket sama Albitra. Cih! Cewek murahan!”