Hari-hari penuh dengan keterpurukan itu, akhirnya terlewati juga.
Setelah meninggalkan pesta ulang tahun Silo dengan keadaan syok, Grey sempat mengurung diri di kamar selama dua hari, menjadikan ruangan itu gua perlindungan sekaligus penjara. Giva mengirim kabar ke sekolah bahwa anak bungsunya itu masih dalam masa pemulihan pasca rawat inap. Padahal jelas tidak. Baik dia, maupun Gwen—setelah tahu asal muasal depresi Grey—bahkan sudah meminta tolong ke teman-teman Grey yang lain untuk membujuk Grey keluar dari kamarnya, namun usaha tersebut malah memperkeruh keadaan.
Grey memang mengabaikan Ge dan yang lain, namun saat Albitra yang nekat mengetuk pintu kamarnya, emosinya kembali meledak-ledak, meluapkan semua frustrasi yang menumpuk. Pertengkaran tak terelakkan terjadi lagi di antara mereka.
Grey, frustasi karena tak bisa menemukan cara menjelaskan ke Silo agar sahabatnya itu bisa mengerti dan tak kecewa padanya lagi. Ia sedang dalam masa patah hati karena sadar ia kemungkinan saja kehilangan salah satu sahabat terbaik untuk selama sisa hidupnya.
Silo selalu ada untuknya, ia bahkan orang pertama yang menyadari kesedihan yang ia pendam saat mengetahui tentang rahasia Ayahnya yang punya wanita lain di luar sana, saat menjelang ujian akhir sekolah di kelas sembilan. Dia selalu setia untuk Grey, selalu ada dan menghibur, dan memastikan Grey baik-baik saja dan tak kesulitan sendirian. Sekalipun di luar kelihatan dia yang selalu bertingkah manja, faktanya, Grey yang lebih bersandar padanya. Kehilangan sahabat seperti itu, karena dirinya yang pengecut, karena dirinya yang tak berani mengambil sikap, membuatnya hancur lebur.
Sementara Albitra, mulai kehilangan kesabaran karena terus-menerus disalahkan. Sebenarnya ia tak masalah dicaci maki, tak memasukkan hati saat Grey menumpahkan amarah padanya. Tapi ia tak terima saat perasaannya disalahkan. Bagaimana bisa Grey mempermasalahkan dirinya atas rasa suka yang ia punya? Kenapa Grey selalu merasa kalau tindakannya mengungkapkan perasaannya secara gamblang adalah hal yang tak sepatutnya dilakukan? Padahal dia berhak atas perasaannya sendiri, padahal apa yang ia rasa tulus dari dalam hati.
Dan begitulah akhirnya pertengkaran antara keduanya meledak, hingga akhirnya mereka tak berkomunikasi sama sekali. Selama ujian pertengahan semester, mereka tak pernah saling bertegur sapa jika bertemu di sekolah, menganggap satu sama lain sebagai udara dingin. Seolah tak pernah mengenal.
Selain menarik diri dari kesehariannya yang normal, Grey juga mundur dari klubnya. Meski ditahan oleh pelatih dan teman-temannya yang lain, ia bersikukuh untuk meninggalkan klub yang sudah membesarkan namanya itu. Ia tak ingin Silo yang pergi hanya karena dirinya. Karena awalnya memang Silo dan Mini yang memaksanya ikut klub itu, dan Silo yang paling menyukai kegiatan pemandu sorak itu—bukan dia. Jadi bagaimana bisa dia tetap bertahan di sana, terlebih sebagai ketua, setelah ia menghancurkan hati sahabatnya.
Mini sendiri, akhirnya mendekat kembali secara natural, ia tak pernah membahas kemarahan dia ke Grey yang sebelumnya. Di matanya, situasi Grey jauh lebih mengenaskan daripada secuil rasa kecewa yang pernah ia tanggung. Bersama Ge, dia setia mendampingi Grey, penuh perhatian dan pengertian, seolah tak pernah ada pertengkaran kecil itu di antara mereka, seolah tak pernah ada sikap Grey yang membuatnya sakit hati.
Sedangkan Silo, benar-benar berpisah dari mereka sepenuhnya, ia nampak membentuk lingkaran baru. Kalau tidak dengan Zumi, maka dia terlihat dengan Danish di sekolah.
Seisi sekolah sempat ramai memperbincangkan kejadian di ulang tahun Silo. Berita yang beredar tak sedikit yang dilebih-lebihkan. Namun yang paling jelas dan gamblang adalah fakta bahwa sekarang semua orang tahu kebenaran yang paling menyakitkan: tentang Grey yang dijadikan pemain pengganti, oleh Zumi yang sebenarnya memang sejak lama menyukai Silo. Kalau cerita tentang Albitra yang menyukai Grey sendiri, tak banyak yang menyebut, bahkan terbilang hampir tak pernah terdengar bahkan selenting. Meski sebenarnya miris untuk harga dirinya, Grey justru bersyukur akan hal itu. Karena fakta yang terpendam itu, bukan hal yang membanggakan untuk disuarakan keras-keras, bukan juga sesuatu yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik, atau membersihkan namanya yang kini tercemar oleh prasangka.
Dan disinilah akhirnya Grey, Ge dan Mini malam ini, di acara pentas seni yang akhirnya digelar juga di sekolah setelah huru-hara kehidupan mereka.
“Gue masih nggak nyangka, bukan drama gue yang tampil di situ!” ratap Ge, pura-pura merengek, kelihatan jelas sedang berusaha mengais-ngais kesedihan yang ia rasa agar tampak di wajahnya. Ia menunjuk ke atas panggung di mana klub marching band dan paskibra lah yang akhirnya menampilkan drama. Setelah apa yang terjadi antara Grey, Silo, dan Albitra, ia—yang kehilangan pemain utama, dan ditinggal mundur oleh pemain pendukung lainnya—mau tak mau harus mengibarkan bendera putih ke hadapan Bu Dita. Tanda menyerah atas tugas yang diembannya.
Di samping kirinya, Mini menepuk-nepuk punggungnya. “Nggak apa-apa, good choice! Gue juga dari awal nggak pengen kita yang tampil di situ.”
Ge langsung melirik bengis, bibir bawahnya maju ke depan, sementara hidungnya berkerut kesal. “Lu mah nggak pernah dukung saudara sendiri.”
“Gue dukung selama lu nggak bikin malu,” sindir Mini, nadanya santai tapi menyebalkan.
“Hmm!” Geram Ge.
Mini sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, melongok Grey yang ada di sisi kanan Ge. “Grey, gue mau kasih tahu sesuatu!”
“Dia pedekate sama Iwe, Grey!” sela Ge buru-buru, balas dendam atas sikap menyebalkan Mini barusan—dengan mendahuluinya memberi kabar yang sudah ia tunggu-tunggu untuk diungkap ke Grey.
Untuk pertama kalinya sejak hampir dua minggu, Grey menunjukkan sorot mata antusias yang jujur. Dia menengok ke Mini dengan wajah tercerah sejak kejadian ulang tahun Silo. “Serius?”
“Iya, dia yang mulai duluan–” serobot Ge lagi, langsung dipukul kencang punggungnya oleh Mini.
“Bisa diam nggak sih lu, ngeselin banget!” protes Mini, kemudian mencomot bibir Ge dan memelintirnya sampai kembarannya itu meringis kesakitan dan menepuk-nepuk pergelangan tangannya tanda menyerah.
Tawa Grey pecah dan renyah. Tawa itu terdengar asing setelah sekian lama ia menguburnya. Sekelumit rasa sesal tiba-tiba saja menguar dari dalam hatinya, karena sadar telah menyepelekan keberadaan Ge dan Mini selama beberapa waktu terakhir, hanya karena dirinya telah kehilangan satu sahabat lain.
Sejenak, ia teringat bahwa Ge adalah orang pertama yang mengenalnya, sejak mereka duduk di kelas tujuh. Kemudian, Ge memperkenalkan MIni padanya, yang saat itu bersekolah di tempat lain. Dua orang ini, terbilang yang tahu betul seluk-beluknya, tak pernah menunjukkan keraguan sedikitpun, sejak pertengkarannya dengan Silo pecah. Di saat Silo dan seluruh penghuni sekolah beropini salah tentangnya, Ge dan Mini tetap berdiri di sampingnya, menjadi pegangan yang kokoh, tanpa syarat, dan tanpa perlu penjelasan.
“Ge–” Grey hendak berucap, saat tiba-tiba saja Iwe muncul. Dengan gerakan grasak-grusuk cowok itu langsung duduk di samping Mini, membuat Mini reflek bergeser, yang otomatis membuat bangku beton yang mereka tempati langsung sesak.