Albitra tengah berbaring terlentang di kamarnya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Seluruh otot di tubuhnya cenat-cenut kelelahan, sisa dari sesi basket yang tak terhitung jumlahnya yang sengaja ia lakukan untuk mengalihkan pikiran.
Berusaha menjaga jarak dan tak melihat Grey, sungguh tak sesederhana kelihatannya, menekan hasrat untuk menemui gadis itu, benar-benar menyiksanya hingga ke batas fisik. Ia benar-benar ingin menemui Grey lagi, ingin segera memperbaiki keadaan yang teramat buruk karena dia kelepasan menyerukan, “Whatever!” ke Grey yang sedang emosi dan terus memakinya.
Tapi belum bisa.
Padahal jarak mereka hanya beberapa meter—baik di sekolah maupun di rumah. Tapi ia merasa belum bisa mendekat. Setelah dinasehati Gwen—yang menyaksikan keributan antara dirinya dan Grey, ia memutuskan untuk berhati-hati, lebih menahan diri, memberi waktu untuk Grey agar sembuh dari lukanya terlebih dulu. Karena itu dia bertahan untuk tak menyambangi. Mati-matian menunggu, menunggu kondisi Grey lebih baik, menunggu kabar dari Ge atau Gwen kalau-kalau Grey sudah kembali seperti semula; sudah tak banyak melamun, sudah tak naik turun emosinya.
Sayangnya ternyata kesedihan Grey bertahan lebih lama dari yang ia kira. Ia harus menahan lebih lama dari yang ia duga. Jadi dia memilih sebuah pelarian, menyibukkan diri, mengalihkan fokus ke hal lain, sampai melakukan hal-hal yang membuat tenaganya terkuras habis. Tujuannya hanya satu: agar ia terlalu lelah untuk menyambangi Grey, sekalipun hatinya meronta-ronta.
Karena itu akhir-akhir ini dia sering menghabiskan waktu di lapangan basket sendirian. Bola yang ia pantulkan dan lempar itu seakan menjadi teman mengisi waktu sekaligus musuh yang harus ia taklukan. Segala resah yang mengekang batinya ia harap bisa luruh bersama peluh keringat yang membanjiri tubuhnya, tapi ternyata, lagi-lagi ia salah kira. Bahkan sekarang, saat otot-ototnya yang terasa panas meraung-raung minta diselamatkan, hatinya tetap ingin menemui Grey. Lelah yang ia gunakan sebagai benteng pertahanan agar melupakan keinginannya itu, tak bekerja sebaik yang ia harapkan. Saat ini, ia bahkan ingin menyeret tubuhnya sendiri—sekalipun harus merangkak atau berguling-guling di tanah, ia ingin keluar kamarnya, ingin menyambangi Grey di rumahnya.
Ponsel di samping bantalnya berbunyi, ia meraihnya malas-malasan. Namun, saat melihat nama Gwen yang muncul di bilah notifikasi, geraknya langsung bersemangat.
“Gue nggak tahu seharusnya gue ngabarin lu apa nggak,” kata Gwen.
Albitra menatap layar ponselnya lekat-lekat, menahan napas, menunggu kelanjutannya. Gwen masih mengetik, terlalu lama untuk dirinya yang penasaran setengah mati ada kabar apa dari Gwen tentang Grey. Telapak kakinya bergerak-gerak panik, bibirnya digigit resah.
“...tapi Grey baru aja keluar rumah.” Lanjut Gwen.
“Kemana?” balas Albitra buru-buru, jarinya mengetik dengan kasar.
“Zumi dateng,” balas Gwen lagi.
Albitra langsung terlonjak duduk. Saraf-sarafnya menegang seketika. “What the—!” serunya. "You got any idea where they took off (lu ada gambaran mereka kemana)?" kirim Albitra lagi, berharap banyak kalau Gwen tahu ke mana mereka pergi.
"No clue (nggak ada)," balas Gwen. "But it seems close. She wears pajamas tho (tapi kayaknya deket, dia aja pake piyama)!"
“Shit!” Albitra langsung bangkit dari kasurnya. Tekadnya mendominasi rasa lelahnya. Ia berlari keluar kamar dan bergegas meninggalkan rumah. Tubuhnya yang sebelumnya meronta-ronta minta diistirahatkan kembali bergerak gesit gila-gilaan.
Se darurat apa Zumi harus mengajak Grey pergi ketika gadis itu hanya mengenakan piyama? Rasa kesalnya menjadi tenaga instan untuknya bergerak cepat.
Sial, sungguh sial. Pikirnya. Padahal dirinya yang sudah menahan susah payah selama beberapa waktu belakangan untuk berbicara dengan Grey, tapi kenapa malah cowok itu yang lagi-lagi muncul? Perasaan Albitra sungguh tak enak, ia mencium bau bahaya.
Dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek yang sama-sama berwarna hitam, ia berlari keluar rumah. Lalu berhenti, dan berdiri di depan pagar rumah Grey. Ia menjulurkan lehernya dan menebarkan pandangan ke segala arah. Dalam hati kembali mengumpat, kenapa mereka begitu cepat pergi? Ia tak menemukan jejaknya sama sekali.
Tapi seperti kata Gwen, mungkin mereka dekat. Jadi ketimbang pulang dengan tangan kosong dan masuk kamar dengan hati gundah, tak ada salahnya berkeliling komplek, siapa tahu bisa menemukan mereka di suatu tempat sebelum hal buruk terjadi. Motor putih Zumi, seharusnya mencolok di gelap malam begini.
Di taman kompleks, Grey menduduki salah satu ayunan. Zumi mengikuti gerakannya, duduk di ayunan tepat di sebelahnya. Keduanya kembali terjebak dalam keheningan, melanjutkan sisa kecanggungan yang sudah mengekor sepanjang perjalanan dari rumah Grey tadi.
Grey menunduk, menatap butiran pasir di bawah pijakan kakinya. Sementara itu, Zumi menatap kosong lurus ke depan. Suara jangkrik yang bersahutan dan gesekan dedaunan yang tertiup angin hanya mempertegas kesunyian yang terasa berat—seperti handuk basah yang membebani bahu mereka.
Menit berlalu, Grey mulai merasa sesak. Ia mulai menggoyangkan ayunannya pelan, mencari ritme untuk mengalihkan kegelisahan. Tiba-tiba, sebuah pikiran acak melintas di benaknya: Seandainya yang duduk di sampingnya saat ini adalah Albitra, mungkin membuka mulut tak akan sesulit ini. Segala unek-unek yang menyesakkan dada pasti sudah tumpah ruah tanpa saringan.