Albitra absen. Tak ada yang benar-benar tahu alasan pastinya. Selain tak ada yang bersungguh-sungguh memastikan, tak ada juga orang-orang sekitar Grey yang sekelas dengannya. Jadi Grey, hanya bisa diam-diam berharap, mencengkeram keyakinan yang tipis, kalau alasan cowok itu tak masuk sekolah bukan karena ucapannya di malam sebelumnya.
Karena biarpun cowok itu mengatakan menyukainya, dan ucapannya semalam memang sangat tajam dan cukup keterlaluan, mana mungkin Albitra benar-benar menuruti? Mana mungkin dia benar-benar pergi kembali ke Amerika atau kemana pun itu hanya karena Grey bilang tak suka melihatnya?
Tidak, tidak mungkin seperti itu. Grey terus meyakinkan dirinya kalau pasti ada alasan lain, yang lebih sederhana, yang lebih umum, atas ketidakhadiran cowok itu. Tapi tetap saja ia tak bisa berhenti khawatir. Ketakutan itu seperti kawat berduri yang melilit perutnya. Kalau sampai hal seperti itu terjadi, mungkin butuh seumur hidup baginya untuk menyesali kata-kata yang keluar dari mulutnya malam itu.
Ia menghela nafas keras, suara hembusan nafasnya terdengar jelas oleh dirinya sendiri. Ge yang duduk di sebelahnya, langsung menoleh. “Udah Grey, orang kayak gitu nggak usah lu pikirin, mendingan juga makan!” celetuknya, menyadarkan Grey dari lamunan yang menenggelamkan.
“Ha?” Tengok Grey tak paham.
Ge mengedikkan dagunya ke sudut lain kantin. “Noh, nenek lampir, nggak usah lu pikirin.”
Grey mengikuti arah pandang itu, dan melihat Silo yang tengah duduk bersama Danish dan teman-temannya. “Oh.” Tanggapnya singkat, langsung menatap ke bakso yang ada di dalam mangkuknya sambil menghela nafas lagi, terlihat jelas kelelahan. Situasi ini, begitu membuatnya lelah.
“Gila!” pekik Mini yang duduk di hadapan Grey, tiba-tiba mendekap mulutnya yang terbuka lebar.
Ge langsung menegakkan punggung. “Apaan?” tanyanya, melongok ke ponsel Mini yang sedang ditatap dalam-dalam.
Masih sambil terperangah, Mini mengangkat wajahnya. Ponsel di tangannya menyusul naik, ia memutar posisinya agar layarnya menghadap ke Grey. Ge dan Grey, langsung memicing mata, membaca dengan seksama tulisan yang muncul di layar: sebuah pengumuman di media sosial Zumi.
“Gila!” ujar Ge, sependapat dengan Mini.
Grey langsung melirik ke arah Silo lagi. Cewek itu, tampaknya juga baru tahu akan hal ini. Wajahnya memucat, menatap ponselnya dengan mata melotot, ia terlihat langsung bangun dari tempat duduknya, meninggalkan kantin dengan langkah tergesa-gesa.
Kabar itu langsung menyebar lebih cepat daripada api di dedaunan kering.
“Lu baik-baik aja kan, Grey?” Tatap Mini khawatir.
Grey mengangguk, menyandarkan punggungnya ke kursi kantin. Dalam sekejap, kantin langsung riuh rendah, suara bisikan berdesing seperti lebah. Tak sedikit mata yang langsung tertancap ke arah Grey. Ada yang berbisik tak percaya, ada yang terbelalak tak menyangka, dan tak sedikit yang menoleh penasaran terus menduga-duga.
Kata-kata yang Zumi tulis di sosial medianya, jelas menggemparkan setiap orang yang melihat:
I decided to break up with her. Everything was a mistake from the start.
And also, I offer my deepest apologies to Grey, who has suffered so much loss because of my idiocy. I realize I'm just a human being far from perfect, and I will own up to all my shortcomings.
Blame me, not them.
(Gue mutusin untuk putus sama dia, sejak awal semuanya memang kesalahan. Gue minta maaf sedalam-dalamnya kepada Grey, yang udah mengalami banyak kerugian karena kebodohan gue. Gue sadar gue cuma manusia yang jauh dari sempurna, dan gue mengakui segala kekurangan itu. Salahin gue, jangan mereka)
Sungguh menyedihkan, pengakuan puitis yang Zumi pasang di sosial medianya itu, tak mengobati apapun. Hal itu sudah begitu terlambat, begitu klise, dan begitu… menyebalkan untuk Grey yang sudah teramat kesulitan dan kelelahan.