D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #25

25. Keceriaan Illegal

Albitra meringis pelan, giginya bergemeletuk saat ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk bersandar pada punggung kasur. Setiap inci gerakannya terasa seperti ditarik oleh ribuan jarum. Tangannya dibalut gips, lehernya disangga kaku oleh cervical collar, dan kakinya dibalut perban putih yang tebal. Seluruh badannya nyeri, namun yang paling menyebalkan adalah otot-ototnya yang terus berkedut protes.

Dokter bilang itu dampak dari kurang nutrisi dan stres akut, tetapi Albitra tahu tubuhnya hanya sedang memberontak. Selama berminggu-minggu ia memaksa raganya bergerak hingga titik nadir demi mengalihkan rasa sakit hati, dan kini, dipaksa diam tak berdaya selama dua hari berturut-turut adalah siksaan yang jauh lebih berat daripada kecelakaan itu sendiri.

“Ugh!” keluhnya tertahan.

Ia mencoba meraih buku yang tergeletak di atas lemari kecil disamping ranjang. Namun, di saat badannya serapuh ini, bahkan tangan panjang yang biasanya lincah di lapangan basket pun terasa tak berguna. Jarak beberapa puluh sentimeter itu terasa seperti bermil-mil jauhnya. Ia merasa lumpuh dan terhina oleh kondisinya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang mungil dan bersih terulur di depan matanya. Tangan itu meraih buku tersebut dengan gerakan ringan, lalu menyodorkannya tepat di hadapan wajahnya.

Saat mengangkat pandangannya, dunia Albitra seolah berhenti berputar. Ia membelalak, tertegun selama beberapa detik yang terasa seperti setahun. Di hadapannya, Grey tengah berdiri dengan senyum merekah yang begitu cerah—terlalu cerah hingga terasa tidak nyata—lebih terang daripada lampu di kamar rawat inapnya ini.

“Grey?” gumamnya, suaranya serak dan nyaris hilang.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali, namun sosok yang berdiri dengan rambut tergerai asal dan sweater biru dongker yang kebesaran ini tetap diam di sana. Wangi parfum Grey yang lembut mulai mengalahkan bau antiseptik di lukanya. Ini nyata, bukan halusinasi akibat pengaruh obat anti nyeri.

“Iya, gue. Masa setan,” canda Grey santai. Ia menyodorkan buku itu sekali lagi, kali ini dengan sedikit goyangan jenaka di tangannya.

“Why are you here?” Albitra akhirnya menerima buku itu. Ia segera menegakkan punggungnya, berusaha berlagak kuat dan sehat untuk duduk setegak mungkin. Padahal, rasa cenat-cenut di sekujur tubuhnya berteriak histeris akibat gerakan mendadak itu. Ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan gadis yang terakhir kali melihatnya dengan tatapan benci.

“Gantiin Gwen,” sahut Grey ringan. Tanpa menunggu izin, ia langsung duduk di kursi besi samping tempat tidur, menyilang kakinya dengan santai, seolah-olah pertengkaran hebat di taman malam itu hanya sekadar mimpi buruk yang sudah ia lupakan.

Albitra melirik sangsi. Grey mengucapkan kalimat itu seolah-olah semuanya normal, padahal kenyataannya aneh teramat sangat. Gadis yang terakhir kali bertemu dengannya sambil mengamuk—bahkan mengusirnya dengan kata-kata kejam agar tak pernah muncul lagi—tiba-tiba hadir dengan keramahan yang meluap. Dan dia…tersenyum? Sekarang sedang tersenyum? Alis Albitra refleks naik sebelah, matanya menatap penuh selidik, mencari letak jebakan yang mungkin disembunyikan Grey.

“So, what did Gwen say exactly (jadi tepatnya emang Gwen bilang apa)?" tanyanya kemudian. Ia keadaan yang janggal, kenapa Grey harus ada di sini menggantikan Gwen, yang sejak kemarin menjaganya dengan setia setelah ia terkapar akibat kecelakaan motor saat hendak berangkat ke sekolah. Padahal, mereka sudah sepakat untuk tutup mulut dan tak memberitahu Grey maupun Lee.

Grey malah mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Nggak ngomong apa-apa. Emangnya harusnya dia ngomong apa?”

Mata Albitra menyipit heran. Cara Grey balik bertanya terasa seperti saat dirinya mengoper bola basket ke rekan setim untuk mencetak skor, tapi bola itu malah dilempar balik ke arahnya. Aneh, ganjil, dan tidak pada tempatnya. Namun, ia tak punya pilihan selain tetap fokus pada "pertandingan" canggung ini.

“Why are you here? I thought you didn't want to see me anymore? (Jadi kenapa lu disini, bukannya gak mau lihat gue lagi?)" serang Albitra, melempar kembali bola panas di tangannya.

“Emm,” deham Grey. Ia tampak berpikir cukup lama, bola di tangannya sedang di-dribble terlalu lama hingga tempo permainan melambat. Membuat Albitra menimbang, haruskah ia merebut kembali bola itu dan mempersempit pertanyaannya, atau tetap bersabar menunggu kelanjutan langkah Grey baru memperdalam konfirmasinya.

“Bosen aja.” Ditunggu lama, hanya itu jawabannya.

“Ha?” Albitra terperangah. Alih-alih mencetak skor atau mengoper balik, bola itu malah dibuang Grey keluar lapangan.

Lihat selengkapnya