Setahun sebelumnya...
Lantai kayu light oak yang dipoles sempurna tidak mengeluarkan suara sedikitpun saat Rino menggeser posisi duduknya. Ruangan itu adalah bentuk nyata dari estetika Nordic yang murni: fungsional, minimalis, dan sangat dingin. Dindingnya dicat dengan warna misty grey yang nyaris putih, dihiasi hanya oleh satu lukisan abstrak monokrom yang tampak seperti sapuan kuas ragu-ragu di atas kanvas kosong. Sinar matahari musim dingin New England merayap masuk melalui jendela besar dari plafon hingga lantai, namun cahaya itu tak mampu menghangatkan suasana di dalam.
Di hadapan Rino yang duduk dengan tatapan kosong itu, duduk Dr. Smith di atas kursi wishbone berbahan kayu ash yang ramping. Pria berkulit hitam itu nampak kontras dengan latar belakang ruangan yang serba pucat. Mengenakan turtleneck berwarna arang yang membalut tubuh tegapnya, Dr. Smith menyilangkan kaki dengan gerakan yang sangat terukur.
Rino baru saja menyelesaikan sebuah narasi panjang tentang kekacauan di kepalanya—tentang trauma, rasa bersalah, dan malam-malam yang ia habiskan dengan menatap langit-langit berharap mati. Namun, respons yang ia dapatkan hanyalah keheningan yang membeku.
“Menurut kamu, apa ada cara untuk keluar dari rasa menyesakkan yang kamu rasa?”
Rino terhenyak. Ia merasa baru saja menumpahkan seluruh "isi perutnya" di atas meja, namun Dr. Smith lagi-lagi hanya melempar pertanyaan balik. Bukan saran medis, bukan resep penenang, melainkan sesi tanya jawab klise dengan tarif per jam yang selangit. Padahal, jika ujung-ujungnya ia harus memeras otaknya sendiri untuk mencari jalan keluar atas luka batin yang menganga ini, untuk apa ia rutin hadir ke klinik steril bernuansa Nordic itu?
Ia pulang dengan tatapan kosong yang mendingin, seolah gairah hidupnya telah dicuri oleh musim dingin New England yang tak kunjung usai. Begitu sampai di apartemen, ia melewati Tante Jessica tanpa menoleh, apalagi menyapa. Langkahnya terseret menuju kamar, lalu suara kunci yang berputar menjadi penutup interaksi mereka. Rino mengunci dirinya lagi, membangun benteng pertahanan yang telah ia jaga selama enam bulan terakhir.
Jessica memandang pilu ke arah pintu kayu itu—sebuah pembatas yang terasa lebih tinggi dan kokoh daripada tembok mana pun. Keponakannya sudah lama berhenti sekolah. Berbagai metode pengobatan dan konseling telah dicoba, namun hasilnya tetap nihil.
Dahulu, suara petikan gitar elektrik biasanya menggelegar samar dari kamar yang sudah dimodifikasi menjadi studio kedap suara itu. Namun kini, keheningan di sana terasa mencekik. Jessica ragu apakah benda kesayangan Rino itu masih berfungsi, atau justru sudah berdebu dan mati, sama seperti jiwa pemiliknya.
Sejak selamat dari kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tuanya, Rino tak pernah benar-benar "pulang". Tubuhnya kurus kering, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam; penampilannya lebih mirip mayat hidup. Suara klakson mobil di jalanan cukup untuk membuatnya mengkerut ketakutan, karena bayang-bayang kematian orang tuanya akan langsung membanjiri akal sehatnya.
Jessica, yang diminta suaminya—Beny—yang tak lain adalah adik kandung ayah Rino, untuk pindah sepenuhnya dari New York demi menemani Rino, sudah hampir menyerah. Namun, rasa sayangnya pada keponakan satu-satunya itu mengalahkan rasa lelahnya.
Selama berbulan-bulan, Jessica dihantui rasa penasaran akan sebuah foto usang di dalam dompet Rino. Beny bilang itu hanya anak tetangga saat mereka masih tinggal di Indonesia, tapi Jessica merasa ada ikatan yang lebih dalam dari foto itu, dan berpikir, siapa tahu orang itu menjadi satu-satunya penolong bagi Rino. Ia menyusuri labirin email lama milik mendiang Lauren—ibu Rino, yang selalu terbuka aksesnya di komputer rumah mereka, hingga akhirnya ia menemukan satu kontak yang meyakinkan.
Hari itu, saat Rino pulang dari sesi konseling kedelapan, yang lagi-lagi tak membuahkan hasil, Jessica memantapkan hati. Ia mengirimkan sebuah surel singkat ke sahabat sekaligus tetangga mendiang kakak iparnya itu. Seminggu kemudian, sebuah balasan muncul beserta nomor ponsel.
Tanpa membuang detik berharga, ia menekan tombol panggil di ponselnya. Jantungnya berdegup kencang saat nada sambung berbunyi di seberang samudra. Begitu suara di ujung telepon menyahut, Jessica menarik napas dalam.
“Halo? Giva? I’m Jessica Lee,” sapanya, suaranya bergetar penuh harap. “Aku tante dari Valerino yang kirim email,” jelasnya dengan kosakata bahasa Indonesia terbatas yang selama pernikahan ia dapat sedikit-sedikit dari suaminya.
***
Tepat sebelum jemari Grey menyentuh kenop pintu kamar rawat, Gwen menyambar pergelangan tangannya. Tanpa sepatah kata pun, ia menyeret adiknya menjauh dari keheningan koridor ruang rawat inap itu. Ia baru melepaskan cengkeramannya setelah mereka berdiri di depan lift yang sepi.
“Lu udah tahu?” tanyanya. Matanya menatap penuh siaga, seolah sedang memindai seberapa besar kerusakan yang telah terjadi dari rahasia yang dijaga baik-baik selama ini.
Grey membalas tatapan waspada itu dengan senyum kecut. Ia bersedekap defensif di depan dada, dagunya terangkat sedikit—sebuah gestur menantang yang jarang ia tunjukkan. “Lu sendiri nggak mau kasih tahu apa-apa ke gue, Kak?” serangnya balik, menekankan kata 'Kak' dengan nada sarkasme yang tipis.
“Ck!” Gwen berdecak kesal. Ia tak menyangka hari ini—hari di mana rahasianya terbongkar—akan datang secepat ini dan dalam situasi sedramatis ini. “Ayo ngobrol sambil duduk!” ajaknya tepat saat pintu lift berdenting terbuka. Ia tahu penjelasan yang akan ia sampaikan akan sangat panjang, rumit, dan melelahkan jika harus dilakukan sambil berdiri.