D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #27

27. She Fell Harder

Pintu mobil di sampingnya dibuka dengan gerakan mantap. Kedua alis Albitra turun drastis, kelopak matanya terkulai lesu. Ia menghembuskan nafas frustasi yang panjang. Di luar mobil, Grey sudah berdiri siaga menunggunya keluar, memegangi pintu dengan sikap formal seolah-olah ia adalah pengawal pribadi yang sedang melayani seorang putra mahkota.

Dengan gerakan ekstra hati-hati karena kakinya masih terbalut perban tebal, Albitra keluar dari mobil. Ia melirik sebal ke arah Grey yang justru membalasnya dengan senyum selebar surya.

“Bye, Pak Anto!” ujar Grey ceria. Ia menyambar kruk yang tergeletak di lantai mobil, lalu menutup pintu dengan bunyi bum yang solid, mengunci rute pelarian Albitra.

Albitra masih mematung di samping mobil, menatap Grey sinis. “I said no, Grey!” keluhnya saat Grey mulai sibuk mengatur posisi kruk di bawah ketiaknya.

Ia sudah menegaskan berkali-kali bahwa ia tidak butuh dikawal sebegininya hanya karena beberapa tulang yang retak. Meskipun penampilannya memang masih mengenaskan—dengan gips yang menonjol dan kruk yang membuatnya tampak renta—ia tetap merasa punya hak untuk mempertahankan sedikit sisa-sisa "aura keren" kapten basketnya di depan gadis ini.

“Gue udah janji sama Tante Lee!” tukas Grey cepat. Tanpa izin, ia langsung memegangi telapak tangan Albitra yang menyembul dari balik gips. Sementara tangan Albitra yang lain terpaksa mencengkeram kruk, tangan Grey sudah mengunci pergerakannya. Lagi-lagi, alasan "Tante Lee"  yang sedang tak ada disini—sedang di Bali kalau menurut Albitra—digunakan sebagai tameng sakti agar ia bisa terus menempel pada cowok ini seperti perangko.

Padahal Albitra sudah melarang keras Grey menghubungi Jessica. Namun Grey yang keras kepala dan butuh validasi untuk menjadi "perawat pribadi", tetap nekat menelepon. Ia memberikan janji muluk—yang sebenarnya tidak diminta siapapun—bahwa ia akan memastikan Albitra sembuh total tanpa lecet tambahan sedikit pun.

“Lu langsung ke kelas aja,” suruh Albitra, mencoba bernegosiasi untuk terakhir kalinya. “I can go by myself (gue bisa pergi sendiri).”

“NO!” Jari telunjuk Grey naik tepat di depan hidung Albitra. “BIG NO NO!” Ia menggerak-gerakkan jarinya dengan ekspresi super serius yang dibuat-buat. “Lu dalam pengawasan gue. Jangan harap bisa kabur. Ayo, ke kelas lu dulu!”

Lagi-lagi Albitra hanya bisa membuang nafas berat. Ironis sekali. Padahal sebelumnya dialah yang mati-matian mencari cara agar bisa terus berada di dekat Grey. Seharusnya ia melompat kegirangan karena sekarang Grey menggenggam tangannya di depan umum seperti ini.

Tapi apa ini? Bukannya berdebar romantis, Albitra justru merasa kesal luar biasa. Ia merasa tidak sedang diperlakukan sebagai pria yang pernah menyatakan cinta, melainkan sebagai pasien rentan yang dijaga ketat agar tidak mendadak sekarat di tengah koridor sekolah.


Begitu mereka mendekati gerbang sekolah, seruan familier membuat keduanya menoleh serempak. Beberapa meter di sisi kiri gerbang, Ge berlari kencang ke arah mereka, sementara Mini baru saja turun dari mobil, menyusul dengan wajah bingung jauh di belakang.

“What the fuck, Bi!” umpat Ge spontan. Ia menutup mulut dengan kepalan tangan, mencoba menahan tawa yang meledak saat menyapukan pandangan pada penampilan Albitra yang tragis. “Lu habis tawuran sama sekolah mana, buset?” ledeknya.

Tangan Ge yang gatal hendak menyentuh gips di tangan Albitra, namun secepat kilat Grey menepisnya dengan suara plak yang cukup keras.

“Jangan macem-macem lu, Ge!” ancam Grey garang, matanya berkilat penuh peringatan.

Ge refleks memundurkan bahu. Lehernya sampai menghilang karena dagunya turun drastis—ia terlalu syok melihat Albitra yang berantakan, sampai-sampai tidak sadar bahwa sejak tadi ada Grey yang berdiri bak anjing penjaga, bahkan menggenggam tangan Albitra tanpa ragu.

Ge langsung menatap Albitra. Alisnya terhentak naik bersamaan, dagunya digerakkan sedikit ke arah Grey. Sebuah kode bisu yang bertanya: Kenapa dia jadi begini?

“Dia udah tahu,” sahut Albitra datar, tidak mencoba menutupi apapun lagi.

Lihat selengkapnya