D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #28

28. Clingy Little Bunny

Hi

Rino?

I’m Gwen. Your childhood neighbor.

Got your number from Lee.


Semua bermula dari pesan singkat itu—barisan kalimat asing dari seseorang bernama Gwen yang sama sekali tidak masuk ke dalam ingatannya.

Awalnya Albitra hanya menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Ia tidak punya energi untuk peduli, apalagi membalas. Baginya, dunia sudah berhenti berputar sejak dia membuka mata di rumah sakit beberapa bulan lalu. Di dalam kamar yang pengap dan dingin ini, ia hanya menghabiskan waktu dengan menghitung retakan di langit-langit, membiarkan tubuhnya kaku, dan membiarkan hasrat hidupnya perlahan menguap, hampir-hampir tak berbekas. Setiap harinya adalah pengulangan dari pertanyaan yang sama: bagaimana dan kapan semua ini akan berakhir?

Ironisnya, dia dulu lebih sering di luar rumah.

Sebagai remaja yang besar di Amerika, ia mengenal dirinya sebagai Val—panggilannya dari teman-teman sekolah dan lingkungannya. Ia adalah anak yang keras kepala, lebih suka memetik gitar di garasi teman daripada mendengar ceramah ibunya tentang nilai-nilai ketimuran. Lauren, ibunya, tak pernah lelah mengingatkan bahwa mereka adalah orang Indonesia dan jangan terlalu kebarat-baratan sampai lupa jati diri sebenarnya. Namun bagi Albitra, peringatan itu hanyalah kebisingan yang mengganggu kebebasannya. Ia bahkan semakin kesal saat ayahnya, Alfi, hanya bisa mengekor dan mengulang ucapan ibunya setiap kali dirinya meminta pembelaan.

Lalu datanglah hari itu—hari pertemuan diaspora di New England.

Alfi dan Lauren sudah jauh-jauh hari mengingatkan Albitra harus ikut, agar ia mengenal budaya Indonesia yang dia tinggalkan saat kecil. Tapi dia memilih tuli. Mengabaikan permintaan orang tuanya itu, sekali lagi. Ia sengaja mematikan ponsel, larut dalam dentum musik bersama band sekolahnya di garasi mobil tempat mereka menghabiskan waktu. Ia lupa bahwa ibunya—wanita paling gigih yang pernah ia kenal—tahu lokasi semua rumah teman dekatnya. Saat tak kunjung ada jawaban dari Albitra, Lauren akhirnya memutuskan untuk menjemput paksa, menyeretnya dari zona nyaman itu menuju kursi belakang mobil mereka.

Di dalam kabin mobil yang sempit, suasana memanas. Albitra yang merasa diperlakukan seperti anak kecil di depan teman-temannya meluapkan amarahnya, mengungkapkan rasa malunya, dan meneriakkan kata-kata tajam yang seharusnya tak pernah ia ucapkan. Saat itu di luar, hujan turun sangat deras, membuat aspal menjadi licin dan berbahaya.

Tepat saat sebuah kalimat kasar baru saja keluar dari mulutnya, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Mobil itu tiba-tiba kehilangan kendali, terguling berkali-kali, dan terpental puluhan meter sebelum akhirnya terhenti secara kasar oleh pembatas jalan.

Dunianya seketika menjadi gelap.

Begitu ia membuka mata, musim sudah berganti. Ia terbangun di ranjang rumah sakit yang dingin, mendapati bahwa suara omelan ibunya dan dukungan kaku ayahnya telah hilang selamanya. Mereka pergi dengan sisa kata-kata terakhir darinya yang penuh dengan kebencian—sebuah beban yang kini mengunci Albitra di dalam kamar ini, sendirian.


"I feel like you need a change of scenery (aku rasa kamu perlu suasana baru). What do you think about heading back to Indonesia (gimana kalau balik ke Indonesia)?” jelas Jessica. Saat dirinya bertanya tentang sosok Gwen yang tiba-tiba menghubunginya.

Kalimat itu jatuh seperti kerikil yang memecah keheningan di kolam yang menggenang tenang. Albitra merasa jantung di dalam dadanya kembali berdenyut, setelah berbulan-bulan tak terasa ada kehidupan disana.

Kata 'Indonesia' tidak terdengar seperti sebuah tempat baginya. Kata itu terdengar seperti 'Lauren’ Ibunya. Indonesia adalah segala hal yang dicintai ibunya; sebuah tempat yang selalu menjadi muara dari segala keinginan ibunya untuk pulang.

Albitra teringat alasan ibunya menyimpan sebuah foto usang di dalam dompetnya. Itu adalah foto terakhir yang mereka ambil sebelum mereka memutuskan untuk pindah, karena urusan pekerjaan ayahnya. Di dalam foto itu, mereka tampak utuh. Ada ayah, ibu, dirinya, dan tentu saja—Grey. Yang tampaknya bagi ibunya, adalah perwujudan, perwakilan, dan kenangan dari rumah yang ia tinggalkan dan selalu dirindukan.

Sepeninggalan Lauren, foto itu berpindah ke dompet Albitra. Ia sering menatapnya lama, mencoba mencari kembali kepingan dirinya yang hilang di sana. Jika dulu ia menganggap Indonesia hanyalah dongeng pengantar tidur dari ibunya yang membosankan, kini tempat itu terasa seperti satu-satunya jangkar yang tersisa untuknya.

Lihat selengkapnya