D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #29

29. Tanya Sekali Lagi

Grey tetap mengekor, tak peduli kemanapun kaki Albitra melangkah. Ia membuntuti dengan gigih, persis seperti kucing liar yang terus menggosokkan badannya ke kaki orang asing, seolah sedang merayu dan memohon untuk dibawa pulang.

Di sepanjang koridor, belasan pasang mata mengamati mereka tanpa henti. Ada yang menertawakan dengan terang-terangan, ada pula yang mencibir sinis melihat tingkah Grey yang dianggap "gatal" berlebihan. Namun, bagi Grey, dunia seolah hanya berisi dirinya dan Albitra. Ia abai pada segala bisik-bisik yang sebenarnya sedang menguliti harga diri Albitra pelan-pelan.

Padahal, Albitra merasa dirinya sudah hampir pulih seutuhnya. Gips di tangannya telah ditanggalkan, kruk yang selama ini menghambat geraknya pun sudah tersimpan rapi di gudang. Secara fisik, ia sudah kembali menjadi pria yang tangguh. Namun sepertinya di mata Grey, ia tetaplah pasien, setiap gerakannya harus diawasi dengan penuh kekhawatiran.

Hal yang paling menyebalkan bagi Albitra adalah tatapan itu.

Setiap kali ia ingin berbalik dan membentak agar Grey berhenti mengikutinya, ia justru dipukul mundur oleh binar mata yang manis dan menggemaskan itu. Grey menatapnya dengan ketulusan yang murni, membuat amarah Albitra seketika menjadi harimau yang kehilangan taringnya.

“Tante Lee masih di Bali?” tanya Grey di dalam mobil saat perjalanan pulang.

Albitra—yang kini berada di bawah pengawasan ketat Giva, dilarang membawa motor, dan harus rela antar-jemput bersama Grey oleh Pak Anto—hanya terdiam. Ia menatap kosong ke luar jendela, mulai mempertanyakan ke mana arah hidupnya sekarang. Dalam diam, ia berusaha mengais sisa-sisa harga diri yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

“Kalau di rumah sendirian... lu bisa?” tanya Grey lagi.

Tingkahnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Albitra tidak pernah menyangka kalau Grey bisa secerewet sekaligus se-tidak tahu malu ini. Berbulan-bulan mengenal Grey dari dekat, ia tidak pernah sekalipun melihat sisi diri Grey yang satu ini.

“Mau ditemenin kalau susah sendirian di rumah?” tawar Grey lagi tanpa dosa.

Albitra menoleh cepat. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam. "Don’t even think about it (jangan coba-coba mikir kayak gitu)!" potongnya keras. Ia benar-benar tak habis pikir Grey bisa menawarkan hal seperti itu dengan wajah polos tanpa beban.

Tak paham kenapa Albitra merespons penawarannya dengan berlebihan, Grey menengok ke arah Pak Anto yang ternyata sedang mengamati mereka lewat spion tengah. Ekspresi Pak Anto? Sebelas dua belas dengan Albitra: kaget sekaligus jengah. Grey mengerutkan dahi, benar-benar bingung apa yang salah dengan ucapannya tadi.

Belum sempat ia mencerna keadaan, mobil sudah berhenti di depan rumah. Albitra langsung keluar tanpa sepatah kata pun, melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Alhasil sepanjang sore, Grey menghabiskan waktunya untuk berpikir apa yang membuat Albitra semarah itu terhadap ucapannya.

Saat ibunya berseru. “Grey, makan malam!”

Ia yang tengah menatap ke arah televisi tanpa benar-benar memperhatikan gambarnya langsung terlonjak berdiri. “Mama!” pekiknya heboh, berlari ke meja makan.

“Ada makanan buat Albitra?” Matanya membulat penuh semangat. Membuat Ibunya yang hampir-hampir mengkeret saking kaget dengan seruannya tadi langsung menghela nafas.


Grey tidak menunggu lama. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa laparnya. Hanya dalam lima menit, ia sudah berdiri di depan pintu rumah Albitra dengan nampan makanan di tangan. Ia mengetuk berkali-kali, menekan bel, hingga memanggil nama cowok itu, namun tak ada sahutan. Dahinya berkerut dalam. Pikirannya melayang pada beberapa skenario, dan dari semua kemungkinan yang terjadi, dia malah memilih untuk membayangkan yang paling buruk: bagaimana kalau ternyata Albitra tergeletak jatuh di dalam rumahnya dan tak sadarkan diri?

Tanpa pikir panjang, ia menekan kenop pintu. Tak terkunci. Grey menyelinap masuk ke dalam rumah yang sunyi itu. Semua lampu menyala terang, namun terasa dingin seperti tak ada kehidupan.

Matanya pun langsung melesat ke pintu kamar Albitra, tak ada keraguan dalam langkahnya. Ia menaruh nampan yang ia bawa di meja ruang keluarga, sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar itu. “Al, Albitra, lu baik-baik aja kan?”

Lihat selengkapnya