“Hmm...”
Deham Ge dan Mini hampir berbarengan. Ekspresi mereka begitu identik, lebih identik dari fisik mereka yang kembar. Keduanya duduk bersebelahan dengan tangan terlipat di depan dada, melemparkan tatapan penuh intimidasi ke arah Grey dan Albitra yang duduk di hadapan mereka. Tangan yang saling bertautan di atas meja itu menjadi perkara utama yang sedang mereka adili.
Si kembar saling mendekatkan kepala, berbisik dengan desis yang tak terdengar sampai ke seberang.
“Mau diapain?” bisik Ge.
“Kita tes dulu,” sahut Mini singkat.
“Oke!” Ge kembali duduk tegak, dagunya terangkat angkuh, matanya menyipit penuh selidik. “Ente berdua... sama-sama sadar, kan?”
Plak!
Sebuah pukulan mendarat mulus di punggung Ge. “Nggak begitu nanyanya, bodoh!” hardik Mini. Ia mengambil alih, membusung dada dengan wibawa yang dibuat-buat. “Kenapa tiba-tiba pacaran? Udah move on dari Zumi lu?” tanyanya frontal ke Grey, tak peduli jika pertanyaannya berpotensi membuat Grey tersinggung dan kesal. Bertanya baik-baik, bukan gayanya.
Yang ditanya Grey, tapi yang menjawab justru Albitra.
“Zumi? Who’s that?” sahutnya santai. Matanya mengerling jenaka ke arah Grey, sebuah kode rahasia yang hanya mereka berdua yang paham.
Beberapa detik saling tatap, tawa renyah pecah di antara Grey dan Albitra. Mereka saling menyenggol bahu, tenggelam dalam dunia mereka sendiri dan mengabaikan dua juri di hadapannya yang kini melongo bingung, tak paham dengan lelucon yang mereka bagi.
“Sakit jiwa,” cibir Ge, menganggap dua orang di hadapannya sudah tidak waras.
Di sampingnya, Mini mengangguk setuju, meski dalam hati ia membuat kesimpulan lain. Ia memang baru mengenal Grey—jauh lebih baru dibanding Ge, bahkan masih kalah dari Silo. Ia yang sebelumnya hanya tahu Grey dari nama, dan bertemu beberapa kali saat Ge membawanya main ke rumah. Baru benar-benar mengenal Grey secara pribadi sejak mereka satu sekolah di sekolah ini. Namun, duduk sebangku selama beberapa bulan membuatnya paham satu hal tentang Grey: gadis ini suka menyembunyikan perasaan, tapi matanya adalah pengkhianat yang jujur. Ada sesuatu yang merembes keluar dari cara gadis itu menatap Albitra saat ini. Itu bukan tatapan untuk "teman masa kecil". Itu tatapan seseorang yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya.
“Eh, eh, eh!”
Teriakan heboh Iwe memecah lamunan Mini. Cowok itu baru saja datang, dan matanya langsung terkunci pada tautan tangan Grey dan Albitra bak radar menangkap sinyal bahaya. “Apa-apaan nih?” tudingnya dramatis.
Albitra tahu betul sejarah Iwe yang menyukai Grey—ia bahkan saksi mata kegalauan Iwe saat Grey ditembak Zumi waktu itu. Alih-alih menjawab, ia tersenyum miring penuh kemenangan. Kemudian mengangkat tangan Grey tinggi-tinggi ke udara, memamerkannya tepat di depan wajah Iwe, lalu menurunkannya perlahan ke depan bibirnya.
Cup!
Ia mengecup punggung tangan Grey dengan bunyi yang disengaja, matanya menatap Iwe dengan sorot meledek.
Di seberang, Ge berlagak ingin muntah. Sementara Grey dan Mini tertawa geli melihat tingkah Albitra yang ternyata bisa sangat tidak tahu malu. Citra cowok dingin dan berjarak yang selama ini mereka lihat dari diri Albitra, runtuh seketika, digantikan oleh bucin yang pamer kemenangan.
Iwe yang menyaksikan itu langsung mekar hidungnya, alisnya naik drastis, kehabisan kata-kata.
“Jangan iri ya!” ledek Albitra dengan senyum puas.
“Ckckck!” Iwe berdecak keras, menggeleng-gelengkan kepala. Ia bergerak memutari belakang bangku yang diduduki Ge dan Mini, lalu tanpa aba-aba, menghempaskan pantatnya di samping Mini. Dengan gerakan kilat, tangannya menyambar tangan Mini, menggenggamnya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi meniru pose Albitra tadi.
“Gue juga bisa!” seru Iwe.
Refleks Ge melesat cepat, “Heh, pusar bodong!” makinya, menyalak bak anjing penjaga yang melihat tanda bahaya. “Jangan sembarangan pegang-pegang adek gue lu!”
“Elu yang bodong!” Mini menyikut rusuk Ge keras-keras, lalu dengan wajah datar memberikan pengumuman yang lebih mengejutkan. “Kita udah jadian.”
Hening satu detik. Bukan hanya Ge, mata Grey dan Albitra pun membulat sempurna.