Satu hari rasanya berlalu secepat satu jam, padahal setiap menit dan detiknya seakan habis digunakan hanya untuk memikirkan Albitra. Waktu berjalan jauh lebih cepat dari yang diharapkan. Setiap bel pergantian jam pelajaran berbunyi, mereka menyempatkan diri mencuri waktu untuk bertukar pesan singkat yang tak henti-hentinya membuat senyum tersungging di wajah masing-masing.
Albitra: Math in Indonesia is a breeze. Didn’t you say it was hard yesterday, Babe? (Matematika di sini enteng banget. Bukannya kemarin kamu bilang susah, Sayang?)
Grey: Then how about you become my private tutor from now on, Bee? (Kalau gitu gimana kalau kamu jadi guru privat aku mulai sekarang, Sayang?)
Begitu bel istirahat berbunyi, keduanya akan terburu-buru meninggalkan kursi. Seolah sedang berlomba dengan waktu—dan dengan satu sama lain—seolah ingin membuktikan, siapa yang lebih dulu sampai di kantin, rasa cintanya lebih besar. Jam istirahat menjadi waktu paling berharga; keduanya tak terpisahkan, persis sepasang sepatu yang saling melengkapi. Kemesraan yang tak berlebihan namun begitu manis itu membuat banyak pasang mata senang melihat keberadaan mereka. Tak terkecuali Ge, Mini, dan Iwe. Meski mulut mereka pedas melontarkan cibiran, jauh di dalam hati, mereka ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.
Hari ini, mereka memutuskan untuk tidak pulang terburu-buru. Albitra, yang kini mulai kembali rutin membawa motor sendiri ke sekolah, selalu menyiapkan dua helm. Ia membawanya setiap hari, sekalipun Grey lebih sering pulang dijemput Pak Anto—karena ia tak ingin ibunya curiga dengan hubungan backstreet mereka—sebuah hubungan yang disembunyikan bukan karena takut tak direstui, melainkan karena rasa malu yang canggung jika harus terang-terangan.
Mereka menuju pantai yang berjarak satu jam dari sekolah. Namun, tak ada rasa lelah bagi dua remaja yang sedang dimabuk asmara ini. Perjalanan panjang itu justru terasa bagai melintasi padang rumput berbunga yang nyaman dan indah. Setiap detik yang dilalui bersama seolah terus-menerus mengisi "tangki cinta" mereka sampai penuh.
Memeluk pinggang Albitra di jok belakang, Grey bisa mencium aroma tubuh cowok itu—perpaduan parfum sandalwood dan sisa wangi sabun yang menempel di kulit. Matanya terpejam lekat, sesekali mengeratkan pelukannya.
Meski begitu, terkadang Grey masih bertanya-tanya dalam hati. Jujurkah ia pada Albitra hari itu? Perihal cowok itu adalah cinta pertamanya. Kalimat itu meluncur begitu saja, didorong oleh rasa takut kehilangan yang tiba-tiba menyeruak saat melihat Albitra patah hati dan nyaris menyerah. Padahal sebelumnya, ia selalu menganggap Zumi sebagai cinta pertamanya—rahasia yang untungnya hanya ia bagikan pada buku harian di laptopnya.
Tapi setidaknya, ada satu hal yang nyata: dia pernah benar-benar menunggu kepulangan Rino selama enam tahun lamanya. Sampai ia lulus SD, sampai ia menemukan lingkungan baru di SMP yang cukup mengisi kekosongan sosok sahabatnya yang tak kunjung kembali itu. Namun, benarkah penantian itu adalah cinta? Cinta pertama yang ia akui pada Albitra malam itu? Grey sendiri tak yakin. Saat itu ia terlalu belia untuk paham apa itu cinta. Meski begitu, sekalipun itu adalah sebuah kebohongan manis, ia tak akan pernah menyesal mengatakannya. Jika itu satu-satunya alasan untuk membuat Albitra terus mencintai, maka ia akan berbohong berkali-kali akan hal itu.
Mini sempat bertanya saat di kelas, di sela-sela pergantian pelajaran. “Sejak kapan lu bener-bener suka Albitra? Bukan dia sebagai Rino, tapi dia sebagai Albitra?”
Sejujurnya, entahlah. Ia pun tak tahu pasti. Tapi yang jelas, sejak pertama kali bertemu cowok ini di ruang kesehatan, setiap lekuk dan ekspresi wajahnya langsung terpatri jelas di ingatan Grey. Setiap pertentangan antara logika dan hatinya tiap kali berurusan dengan Albitra terlalu mengusik untuk diabaikan.
Sejak kapan dia menyukai Albitra? Tak pasti. Mungkin sejak awal mereka bertemu kembali, bibit-bibit perasaan yang Albitra tanam diam-diam di hatinya itu memang sudah langsung tumbuh subur. Yang jelas saat ini, satu-satunya cowok yang ada di dalam hatinya saat ini hanya Albitra, dan sumber kebahagiaan tiap hari saat membuka mata, adalah dirinya.
Berbanding terbalik dengan ketegangan yang Silo rasakan, ia berdiri dengan sisa-sisa keberanian yang nyaris habis. Seumur hidup, tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan berdiri di depan pagar rumah Zumi dengan perasaan setipis ini—penuh harap namun sudah di ujung tanduk keputusasaan.
Ia sudah menitipkan pesan lewat asisten rumah tangga yang sedang menyiram tanaman—satu-satunya akses yang ia punya karena nomornya masih diblokir. Kini, detik demi detik terasa menyiksa. Ia hanya bisa menunggu vonis: akankah cowok itu turun menemuinya, atau justru ia akan diusir secara halus?
Pintu utama terbuka.
Saat sosok jangkung berbalut sweater putih dan celana pendek selutut itu muncul, pertahanan Silo runtuh. Senyum lega bercampur haru merekah di wajahnya yang lelah. Matanya langsung berkaca-kaca melihat Zumi berjalan ke arahnya dengan kedua tangan terbenam canggung di dalam saku hoodie.