D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #32

32. Dua Sulung

“Collin?”

Pekikan itu lolos begitu saja dari bibir Grey. Ia harus mengerjap berkali-kali, memastikan matanya tidak sedang ditipu oleh bias cahaya lampu jalanan yang remang-remang.

Di sana, berdiri seorang pria asing dengan jaket bomber dan celana jeans kebesaran yang membuatnya terlihat urakan. Namun, bukan wajah itu yang memukul ingatan Grey, melainkan benda di sampingnya: sebuah koper abu-abu besar yang ditempeli stiker Sonic the Hedgehog di sana-sini. Stiker konyol yang sudah memudar warnanya itu adalah kunci memorinya. Siapa lagi manusia di muka bumi ini yang membuatnya langsung ingat dengan sosoknya setiap kali melihat benda-benda berbau Sonic, kalau bukan kakak sulungnya ini.

“Siapa?” bisik Albitra di samping telinganya. Suaranya rendah, penuh kewaspadaan. Otot-otot tubuhnya menegang saat melihat Grey hendak melangkah mendekati pria asing itu.

Mata Collin menyipit tajam. Ia meninggalkan kopernya dan melangkah maju dengan dada membusung, tatapannya menghunus langsung ke arah Albitra—mengintimidasinya bak singa jantan yang mendapati wilayah kekuasaannya disusupi pejantan lain.

“Lu, yang siapa?” Collin balik bertanya, suaranya berat dan menantang.

“What’s your problem, Bro?” Albitra langsung tersulut. Ia turun dari motor, menghempaskan helmnya ke jok dengan kasar. Emosinya mendidih instan melihat cara pria itu menatap Grey.

Grey panik setengah mati. Jantungnya serasa mau copot melihat dua laki-laki besar ini siap berhadapan satu sama lain. Ia langsung memutar tubuh, menahan dada Albitra dengan kedua tangannya. “Calm, Bee! Calm down!” bisiknya histeris sambil mendorong tubuh tegap Albitra mundur menjauh dari jangkauan Collin, bahkan terbilang sedikit terlalu jauh. “He’s my brother!”

Dunia Albitra berhenti berputar.

Matanya yang tadi melotot garang, kini melesat turun menatap wajah Grey dengan horor. “Huh?” Mulutnya sedikit terbuka, nyalinya yang tadi berkobar mendadak padam disiram air es. “Brother?”

Grey mengangguk cepat dengan wajah penuh rasa bersalah. Melihat wajah Albitra yang mendadak pucat dan gentar—dari mode beast menjadi mode puppy yang penuh kekhawatiran—membuat Grey ingin tertawa sekaligus iba.

“Kamu pulang dulu aja, nanti aku kabarin,” pinta Grey cepat, menepuk bahu Albitra sebelum berbalik badan untuk mengurus "masalah" yang satu lagi. Tak pernah terbayangkan olehnya akan menghadapi situasi dimana dia harus melerai pacar dan kakaknya seperti ini.


“Eh, mau ke mana lu!” seru Collin garang saat melihat Albitra di dorong ke motor oleh Grey, disuruh buru-buru naik ke motornya lagi. “Sini! Don’t you wanna fight?” tantangnya, merasa superior setelah melihat nyali Albitra yang tiba-tiba ciut.

“Udah lah, Kak! Masuk!” Grey mendorong punggung Collin sekuat tenaga. Tubuh besar kakaknya itu terseret mundur dengan enggan, kakinya tersandung-sandung langkah kecil Grey yang agresif.

“Lu baru pulang jam segini? Masih pake seragam? Sama cowok?” Collin mengomel panjang lebar, wajahnya menekuk kesal. “Siapa tuh? Pacar lu? Masih bocah udah pacaran!”

Naluri kakak tertuanya meronta-ronta. Seharusnya, momen kepulangannya setelah bertahun-tahun ini diisi dengan pelukan rindu. Tapi melihat adik bungsunya yang terakhir kali dilihat baru mau masuk SMP sekarang pulang malam diantar lelaki, mode protektifnya langsung mengambil alih, melupakan fakta bahwa ia sendiri sudah lama absen dari tugas menjaga adiknya.

“Udah, diem! Berisik!” Grey terus mendorong tubuh bongsor itu sampai menabrak pintu rumah.

Belum sempat Grey memutar gagang pintu, benda itu sudah terhentak terbuka dari dalam.

Gwen muncul di ambang pintu. Wajahnya yang semula bingung berubah menjadi kerutan dalam saat melihat pemandangan absurd di depannya: Grey yang ngos-ngosan dengan wajah merah padam berusaha mendorong masuk Collin yang masih sibuk mengomel ke arah jalanan.

“Apa-apaan nih?” tanya Gwen sinis, matanya memindai kakaknya dari ujung kaki ke ujung kepala. “Pulang lu?”

“Nah, Gwen! Bagus lu keluar!” Collin langsung menunjuk ke arah gerbang, mencari sekutu. “Lu tau adek lu ini pulang malem-malem sama cowok? Lu tau adek lu pacaran? Itu cowok siapa di depan? Songong banget gayanya!”

Gwen menoleh malas ke arah Grey. Grey hanya memberikan lirikan penuh arti, lalu matanya beralih ke luar gerbang—di mana Albitra masih berdiri kaku di samping motornya, tampak seperti patung yang menunggu vonis hukuman mati. Gwen langsung paham.

Lihat selengkapnya