D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #33

33. Something Went Wrong

Dengan peluh membanjiri tubuh, Zumi melepas kancing seragamnya kasar, menyisakan kaos hitam yang sudah basah kuyup menempel di kulit. Ia menghempaskan bokongnya kembali ke bangku beton pinggir lapangan, lalu menyambar botol air mineral dingin dari tangan Iwe—botol yang permukaannya dipenuhi embun segar sejak tadi memanggil-manggil sejak tadi minta diteguk. Tanpa permisi, Zumi menenggak isinya dalam satu tarikan nafas panjang, membiarkan dinginnya air memadamkan api di kerongkongannya.

“Hah...” Ia menghela napas kencang, lalu menyeka dagunya. “Kenapa sih tuh anak?” gerutunya. Sedikit terlambat untuk penasaran, sebenarnya. Padahal ia baru saja disiksa bermain one-on-one dengan Albitra selama setengah jam penuh tanpa jeda. Permainan itu terlalu intens, bahkan Iwe sempat khawatir ring basket yang mereka pakai akan bengkok. Tapi Zumi malah baru bertanya sekarang, setelah tenaganya terkuras habis, setelah nyaris pingsan meladeni stamina monster Albitra.

Sementara di tengah lapangan, Albitra masih saja bolak-balik. Cowok itu mendribble bola dengan tatapan kosong namun bertenaga, persis seperti zombie yang kehilangan akal sehat namun tubuhnya terus bergerak otomatis.

“Kesurupan lagi kayaknya!” Iwe menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir menyaksikan Albitra yang kembali menyiksa diri sendiri.

“Kesurupan?” Alis Zumi bertaut, nafasnya masih memburu.

“Gue apal nih pola begini,” Arman nimbrung, matanya menyipit mengamati pergerakan Albitra. “Gue pernah liat dia mode zombie begini. Gak lama abis itu, tau-tau jadian sama Grey.”

“Ohhh...” Zumi mengangguk-angguk, menyerap informasi itu. “Jadi dia lagi galau?” simpulnya cepat.

“Dari pengamatan gue sih, kayaknya dia berantem sama Grey,” analisis Iwe sok tahu, sambil menggaruk dagunya dengan ujung telunjuk, berlagak seperti detektif swasta sedang mengidentifikasi masalah.

Senyum jahil perlahan terbit di wajah lelah Zumi. Ia menegakkan punggungnya sedikit. “Bi!” teriaknya lantang.

Di tengah lapangan, Albitra langsung menoleh.

“Lu berantem sama Grey?” tembak Zumi. Ia mengira Albitra akan mengamuk, melempar bola ke arahnya, atau setidaknya memaki. Tapi di luar dugaan, wajah cowok yang sejak setengah jam lalu kosong dan menyeramkan itu mendadak berubah. Matanya berbinar. Bukan binar bahagia, melainkan binar seseorang yang tersesat dan mendadak melihat mercusuar.

Albitra melempar bola basket yang sejak tadi ia eksploitasi begitu saja hingga menggelinding liar dan keluar lapangan. Ia berlari kecil menghampiri tiga cowok yang sedang menontonnya itu, keringat menetes deras dari pelipisnya, wajahnya merah menyala karena aliran darah dan otot yang memanas.

“You know something?” tanyanya mendesak, matanya menatap Zumi penuh harap.

“Know what?” Zumi malah balik bertanya, bingung dengan antusiasme mendadak itu.

“Tadi lu bilang gue berantem sama Grey... Did you know something?” tuntut Albitra, suaranya sedikit parau. Meski tak menyenangkan mendengar kabar dari sosok Zumi yang pernah menempati hati Grey, namun dirinya sudah terlalu putus asa untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sejak tadi pagi.

Zumi terdiam sejenak, lalu menggeleng polos. “Nggak. Nebak aja.”

Detik itu juga, cahaya harapan di wajah Albitra padam. Ekspresi kosong dan tegang itu kembali menyelimuti wajahnya, lebih gelap dari sebelumnya.

Tanpa kata, Albitra menjatuhkan tubuh besarnya ke bangku beton yang sempit itu.

“Woy!” Arman memekik tertahan. Kedatangan tubuh besar Albitra membuat posisinya tergeser paksa. Kini, Arman harus berjuang mati-matian mempertahankan keseimbangan karena hanya sebelah bokongnya yang masih menempel di beton keras itu. Pinggiran beton yang lancip menusuk pantatnya dengan kejam, namun Albitra yang sedang galau berat sama sekali tidak peduli pada penderitaan temannya itu. Ya padahal juga sebenarnya Arman bisa saja langsung pindah ke bangku sebelah. Dia saja yang keras kepala tak mau tersingkir dan memilih tersiksa begitu.

“Lu nggak tahu apa-apa, We?” tanya Albitra, menoleh ke arah Iwe yang duduk tepat di samping bahunya. “Grey kenapa? Mini didn’t say anything?”

Iwe menggeleng lambat, namun wajahnya berubah serius. “Gue cuma tahunya satu hal... Grey sama Silo udah baikan.”

“Ha?”

Lihat selengkapnya