D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #34

34. Anggapan yang Salah

Di dalam perpustakaan yang senyap—karena separuh penghuni sekolah sedang berdesakan memenuhi kantin—Grey duduk termenung dengan rona murung. Wajahnya terbenam di antara kedua tangan yang terlipat di atas meja. Berkali-kali ia menghela nafas panjang, begitu berat hingga rasanya permukaan meja di hadapannya mulai lembab oleh embun nafasnya sendiri.

Di sampingnya, Mini melirik dengan tatapan frustasi sebelum mengalihkan pandangan ke arah Ge yang duduk di seberang meja. Ge, yang duduk sambil bersedekap, menggeleng pelan; sebuah deklarasi bahwa ia pun tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Ia kemudian menoleh ke arah Silo yang duduk tepat di sisi kirinya.

“Dia nggak ngomong apa-apa sama lu?” bisik Ge pelan.

Silo menggeleng lesu. “Gue udah tanya berkali-kali.”

Tubuh Ge sedikit mundur ke sisi kanan, menciptakan jarak antara bahunya dan bahu Silo. Ia memicingkan mata, menatap Silo dengan penuh curiga. “Lu... beneran udah baikan kan sama dia?”

“IYA, SEMPAK!” geram Silo tertahan. Ia langsung mencubit lengan atas Ge dengan gemas sampai gadis itu meringis kesakitan.

“Terus kenapa ini anak?” tanya Ge sambil mengusap-usap bekas cubitan Silo yang panas. Ia melemparkan kembali pandangannya ke arah Mini. “Dari pagi begini terus?”

Mini mengangguk pasti. Sejak menginjakkan kaki di kelas tadi pagi, Grey memang sudah terlihat kehilangan semangat. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan saat pelajaran dimulai, meski matanya tertuju pada lembar-lembar buku pelajaran, tak ada sedikitpun konsentrasi di sana. Hanya tatapan kosong yang berusaha menyembunyikan kemelut pikiran di kepalanya.

“Grey!” panggil Ge sekali lagi. Namun, Grey tetap tidak menyahut. “Grey, lu nggak laper? Gue laper banget nih, ke kantin yuk!”

Grey akhirnya mengangkat wajahnya yang mendung, lalu menggeleng lemah. “Gue kayaknya mau izin pulang, kepala gue pusing banget.” Ia bangkit perlahan dari kursinya, gerakannya tampak berat seolah beban di pundaknya ikut menariknya turun.

Ketiga temannya langsung mendongak dengan raut panik. Mereka sadar keadaan Grey kali ini jauh lebih serius daripada sekadar galau biasa. Selama ini mereka sudah sering menyaksikan Grey murung atau tenggelam dalam pikirannya sendiri, namun tak pernah sekalipun mereka mendengar Grey sampai ingin izin pulang sekolah hanya karena pusing.

“Lu nggak apa-apa, kan?” tanya Ge khawatir, ikut berdiri menyamai posisi Grey.

Grey menggeleng kecil. “Cuma pusing aja. Bentar lagi Pak Anto sampe.” Ia menyembunyikan fakta bahwa dia sudah dari tadi merencanakan kepulangan mendadaknya, dan minta dijemput oleh supir keluarganya.

“Yaudah, kita antar sampai depan!” Mini ikut berdiri, tangannya terulur hendak memegangi lengan Grey, namun sahabatnya itu langsung menghindar halus dengan gelengan kepala.

Lihat selengkapnya