D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #35

35. Angin Tenang yang Mengoyak

“Babe, please answer me..” ratap Albitra dalam hati, jempolnya bergerak gemetar mengirimkan satu pesan lagi yang kemungkinan besar hanya akan berakhir di tumpukan notifikasi yang diabaikan.

Ia sudah lima belas menit mematung di depan pagar rumah Grey. Ada keraguan besar yang menahannya untuk langsung melangkah masuk; ia takut kehadirannya justru akan memperkeruh suasana, terutama jika ia harus berhadapan lagi dengan Collin. Seluruh pesannya tak berbalas, dan setiap panggilannya terus-menerus dilempar ke kotak suara. Ia sudah tak bisa tenang.

Albitra berada di puncak frustasi. Rasa cemasnya sudah meledak sejak di sekolah—ia bahkan sempat membentak Ge karena baru dikabari soal Grey yang pulang lebih awal. Sepanjang jalan, jantungnya berdegup kencang, memacu motornya di atas batas kecepatan normal seolah sedang mengejar waktu yang kian menipis.

“Ah!” serunya tertahan. Ia sudah tidak sanggup lagi.

Pagar besi yang sejak tadi tertutup rapat itu akhirnya ia dorong paksa. Ia melangkah mantap memasuki halaman. Persetan dengan Collin, persetan dengan apa yang akan terjadi nanti; yang ia pedulikan hanyalah kondisi Grey. Menurut Ge, kondisi Grey belum pernah se-mengkhawatirkan ini, dan itu cukup untuk membuat Albitra kehilangan akal sehatnya. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menekan bel rumah.

Dua menit berlalu. Setelah bel ketiga ditekan dengan tidak sabar, pintu di hadapannya berderit terbuka.

Sosok Gwen muncul dari balik ambang pintu. Namun, alih-alih menyambut, Gwen justru membelalak panik. Ia langsung mendorong dada Albitra menjauh dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya buru-buru menutup pintu di belakang tubuhnya seolah ada sesuatu yang berbahaya di dalam sana.

“Ngapain di sini?” tanya Gwen dengan suara separuh berbisik. Matanya bergerak was was memperhatikan sekitar.

“How’s Grey?” Albitra balik bertanya, suaranya parau.

“Grey?” Gwen mengerutkan kening, tampak bingung. “Dia kenapa?”

Albitra tertegun, dahinya berkerut halus. “Dia izin pulang sekolah, katanya sakit.”

“Ha?” Gwen terbelalak kaget. Namun sedetik kemudian, ekspresinya berubah. “Oh!” Ia mengangguk pelan, seolah baru saja menyadari sesuatu yang terlewat. Reaksi itu justru membuat Albitra merasa semakin tersesat dalam kebingungan.

“Here’s the thing,” ucap Gwen kemudian, sambil melirik pintu di belakangnya dengan cemas. “Gue rasa sekarang bukan waktu yang tepat. Di dalam lagi ada tamu. Lu nggak bisa masuk. Gue bakal suruh dia hubungin lu.”

Gwen tidak berbohong. Di dalam sana, suasana sedang sangat mencekam. Kedua orang tua mereka duduk berhadapan dengan pengacara masing-masing, didampingi Collin yang bertindak layaknya hakim sekaligus saksi. Gwen sendiri bahkan tidak menyadari kalau Grey pulang lebih awal dan langsung mengunci diri di kamar. Ia paham keresahan Albitra, tapi membawa cowok ini masuk ke tengah "medan perang" itu—ditambah ada Collin—hanya akan menjadi bencana.

“But, Gwen!” tahan Albitra saat Gwen hendak berbalik masuk. “Grey nggak respon dari kemarin. Could you please make sure, that at least she will reply to my chat (bisa gak, paling nggak lu pastiin dia balas chat gue)?”

Gwen tertegun menatap sorot putus asa di mata Albitra. Baginya, Albitra hanyalah remaja dengan tubuh besar; di dalam, dia tak lebih dari anak kecil yang sama rapuhnya dengan Grey. Ia juga paham betapa berartinya Grey bagi cowok ini—adiknya itu adalah mercusuarnya. Ia pun akhirnya mengangguk pelan, sebuah janji tanpa kata bahwa ia akan memastikan adiknya memberikan kabar.

“Count on me (serahin sama gue),” ucap Gwen singkat sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu, meninggalkan Albitra sendirian di teras.

Albitra melangkah meninggalkan rumah itu dengan bahu merosot dan hati yang terasa berat. Berkali-kali ia menengok ke arah jendela di lantai atas, tempat kamar Grey berada. Ia berharap tirai itu akan tersingkap dan Grey muncul di sana untuk menatapnya. Namun, kain itu tetap tertutup rapat, seolah-olah mengisyaratkan bahwa untuk saat ini, dunianya dan dunia Grey sedang benar-benar terpisah. Dan dirinya sepenuhnya tak bisa menyentuh kabar gadis itu.

Ia hanya bisa pulang dengan satu harapan kecil: Gwen menepati janjinya, dan Grey berhenti mengabaikannya.

Lihat selengkapnya