Satu setengah tahun kemudian…
“Emang sial hidup gue. Apa gue pakai anting panjang aja kali ya, biar orang-orang ingat kalau gue ini cewek?” gerutu Ge, menghela napas berat sambil mendekap bola basket di pangkuannya.
Ia mengira akan mendengar celetukan menyebalkan dari Silo—yang biasanya selalu sigap mencari celah untuk membuatnya naik pitam. Namun kali ini, Silo justru sedang hanyut dalam dunianya sendiri. Gadis itu menunduk menatap layar ponsel, tersenyum-senyum tidak keruan seperti orang yang sedang hilang akal, sepenuhnya mengabaikan kegalauan Ge yang tampak di depan mata.
“Chatting-an sama siapa sih, Lu?” Ge menjulurkan kepalanya, berusaha mengintip layar ponsel Silo. “Lah, Zumi? Lu pendekatan sama Zumi?!” pekiknya heboh.
Teriakan Ge sukses membuat Iwe dan Mini, yang tengah asyik bermain kartu UNO sambil bersila di bangku beton samping mereka, terbelalak kaget. Keduanya serentak menoleh dengan ekspresi tak percaya.
“Diam lu, ah!” gumam Silo tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Lah, nggak malu Lu? Dulu kan udah banyak drama begitu?” sindir Ge terang-terangan.
Seketika, tatapan Silo melesat tajam bak anak panah—dingin, menghunus, dan mematikan. Ia tidak membalas dengan kata-kata, namun gerakan tangannya yang cepat dan bertenaga karena tersulut emosi menjadi jawaban yang cukup telak. Ia mendorong bahu Ge dengan kencang hingga gadis itu terhuyung ke samping, terjatuh dari tempat duduknya, dan terjengkang di pinggir lapangan sambil tetap memeluk bola basketnya.
“Emang dasar titisan kuntilanak Lu!” hardik Ge pada Silo, yang anehnya kembali mengabaikannya demi menatap ponsel. Silo kembali tersenyum-senyum sendiri.
“Orang gila!” gerutu Ge sambil bangkit, menepuk-nepuk celananya yang kotor, lalu berjalan mendekat ke arah Grey yang duduk di bangku beton lain.
“Lu tahu dia lagi dekat sama Zumi?” bisik Ge, mengambil posisi di sebelah Grey yang sejak tadi hanya tersenyum menyaksikan tingkah laku Silo dan Ge yang konsisten seperti anjing dan kucing. Masih sambil memeluk bolanya seakan benda itu harta paling berharga.
Grey mengangguk pelan. Bagaimana mungkin ia tidak tahu? Hampir setiap malam Silo mencurahkan isi hatinya, meminta pendapat tentang apakah ia harus bergerak lebih dulu, haruskah ia merasa malu karena masa lalu, atau apakah ia perlu mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan dan membabi buta agar Zumi tahu. Curhatan itu mengalir konsisten hingga rasanya Grey ingin muntah saking bosannya mendengar pengulangan yang sama, hanya berhenti sejenak saat mereka menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Dan kini, setelah kelulusan sudah di depan mata, Silo seolah menjelma menjadi burung yang lepas dari sangkar—bergerak bebas dan ekspresif menghidupkan kembali bara cinta lama mereka yang kini terasa sepenuhnya baru.
“Lu kenapa sih?” tanya Grey kemudian, memerhatikan raut Ge yang makin merengut setelah mengetahui kabar Silo.
Di bangku sebelah, Mini yang diam-diam memantau kembarannya itu menyambar, “Galau gara-gara Alex, tuh!”
“Ha?” Iwe menoleh cepat. “Masih aja Lu suka sama si Alex? Pantas pas sparing sama SMA Pelita kemarin mainnya nggak benar. Kecentilan Lu ya sama dia?”
“Ngomong sekali lagi, gue tuker kepala Lu sama bola!” serang Ge. Untuk pertama kalinya ia melepaskan bola di tangannya, hanya untuk dilempar kencang-kencang ke arah kepala Iwe. Cowok itu langsung menepak bola itu dengan tangannya.
“GEMINI EKA!” bentak Mini, tak terima kekasihnya dilempar bola.
“Iya, iya!” sahut Ge ciut, lalu kembali menghadap Grey seolah mencari perlindungan dari amukan kembarannya.
Grey menggeleng-gelengkan kepala. Sudah sampai di penghujung masa SMA pun, kelakuan mereka tidak ada yang berubah. Ia mulai membayangkan bagaimana nasib hubungan mereka nanti. Dirinya dan Silo akan masuk ke kampus yang sama, Ge dan Iwe tengah menanti hasil ujian dari universitas yang sama, sementara Mini akan menempuh jurusan perhotelan di kampus yang berbeda sendirian. Mereka praktis akan berpisah jalur. Memikirkan masa SMA yang penuh tawa dan kerusuhan ini akan segera berakhir, rasa rindu sudah lebih dulu menyergap hatinya.
Grey kembali menatap Ge. “Kenapa emangnya sama Alex? Bukannya Lu bilang kemarin dia dekatin Lu pas kalian sparing?”
Bibir Ge langsung mengerucut. Ia teringat saat Alex tiba-tiba menghampirinya seusai pertandingan persahabatan terakhir antar sekolah mereka sebelum kelulusan. Saking paniknya saat itu, ia langsung mengirim pesan di grup obrolan mereka, meminta saran agar berhasil menggaet hati cowok yang sudah dua tahun ia sukai itu. Bagaimana harus berucap, bagaimana harus bersikap, dia yang sama sekali tak punya pengalaman mengharapkan jawaban dan respon instan.
Apalagi saat Alex tiba-tiba bertanya, “Lu punya cowok nggak?”