Dan pria itu akhirnya benar-benar pergi.
Setelah datang membawa serangkaian kejutan dan mengubah hidup Grey menjadi gelombang pasang surut yang emosional, ia kembali melangkah jauh. Kepergiannya meninggalkan sebuah rongga kosong yang tampaknya tak akan bisa digantikan oleh siapa pun. Namun, bulan-bulan penuh warna bersamanya telah membekas sedalam itu; menjadi kenangan yang terus menghangatkan hati. Pilu dan indah melebur menjadi satu, mengisi sudut-sudut di dalam dadanya.
Awalnya, Grey masih sempat memelihara harap bahwa Albitra akan mengirimkan kabar. Namun, pria itu ternyata jauh lebih konsisten memegang janjinya daripada yang Grey duga. Albitra seolah masuk ke dunia lain—sebuah semesta yang jelas-jelas tidak melibatkan Grey di dalamnya. Lama-kelamaan, "ketiadaan kabar" itu menjelma menjadi sesuatu yang justru Grey syukuri. Baginya, selama ponselnya tidak berdering, berarti Om Beny masih bertahan, dan Albitra masih berjuang bersama Tante Lee. Selama sunyi, berarti Albitra baik-baik saja.
Sudah setahun lebih pula sejak orang tuanya resmi bercerai. Beberapa bulan terakhir, sang Ibu telah pindah ke Australia untuk tinggal bersama Collin. Kakak sulungnya itu ternyata pulang ke Indonesia dengan kesuksesan besar; ia telah membangun usaha dan membeli rumah yang cukup luas di sana. Gebrakan mendadaknya kala itu rupanya bertujuan tunggal: memboyong Ibu mereka agar bisa hidup lebih tenang.
Awalnya, Giva jelas diliputi keraguan untuk meninggalkan dua anak gadisnya. Namun, Gwen menekankan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Gwen sendiri sudah berencana menikah dengan Dito tahun ini, sementara Grey sudah sedikit lagi menyandang status mahasiswi dan akan hidup lebih mandiri tak seharusnya dikhawatirkan lagi. Sekali lagi, Gwen melepaskan tali kekang pada Ibunya, berharap wanita itu bisa hidup lebih leluasa dengan hati yang ringan di sisi Collin.
Grey kini lebih sering sendirian di rumah. Namun, hidupnya yang mungkin terlihat sepi dari luar, nyatanya terasa sangat nyaman dan membahagiakan. Ayahnya sudah resmi menikah lagi, dan kini Grey bukan lagi anak bungsu di garis keturunan sang Ayah. Ia memiliki seorang adik laki-laki lucu berusia enam bulan, yang wajahnya mirip dengan Gwen namun senyumnya sangat mengingatkan pada Collin. Kehadiran bayi itu secara ajaib justru membuat hubungan Grey dan Ayahnya semakin erat. Mereka sering menghabiskan akhir pekan bersama, mengobrol ringan sambil memperhatikan perkembangan sang adik yang menggemaskan.
Hari-harinya terasa sunyi, namun penuh di waktu yang bersamaan. Kebahagiaan Ibu dan Collin di Australia seolah ikut merambat sampai ke dirinya. Kesibukan Gwen dan Dito mempersiapkan pernikahan juga ikut membuatnya lelah yang menyenangkan. Ditambah kehadiran adik baru, Gevan, dan perbaikan hubungan dengan sang Ayah, hatinya kini terasa jauh lebih hangat. Tak lupa, sahabat-sahabat setianya yang masih saja hobi mengisi hari-harinya dengan pertengkaran dan candaan yang tak pernah habis.
Grey merasa hangat dan utuh, bahkan di tengah kekosongan besar yang masih tersisa di hatinya. Rindu di dalam hatinya masih jadi yang paling berat dirasa, namun hangat hidupnya kini, membuat hari-harinya ringan terasa.
“Ke pulau lagi yuk besok, kayak waktu itu!” celetuk Ge di tengah keheningan ruang tengah saat mereka sedang menonton film.
Rumah Grey yang kini lebih sering kosong telah resmi beralih fungsi menjadi basecamp mereka—lebih dari sebelumnya. Ge dan Silo bahkan sering datang tanpa kabar, menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan apa pun, bahkan hingga menginap. Mereka benar-benar sudah merasa seperti di rumah sendiri.
“Ayo!” sambut Silo antusias. Herannya, ia selalu saja bisa sepakat dengan Ge jika menyangkut hal-hal spontan seperti ini.
“Tapi Lu ajak Zumi ya? Berani nggak?” tantang Ge dengan senyum licik.
“Lah, gue mah gampang!” Silo melipat tangan di dada dengan percaya diri. “Masalahnya, Lu berani nggak bawa Alex?”
“Lu belajar Bahasa Indonesia lagi deh, omongan Lu itu-itu melulu!” balas Ge ketus. Ia kesal terus-terusan diledek soal Alex semenjak Silo mengetahui kisah yang sebenarnya. Semua itu gara-gara Mini, kembarannya, yang dengan ringan tangan menyebarkan cerita memalukan itu ke grup obrolan mereka sesaat setelah Ge jujur tentang apa yang terjadi. Kadang dia sendiri bingung apakah Tuhan mengirimkannya saudara kembar untuk saling menjaga atau untuk saling menghina.
“Ye, Lu yang mulai duluan, makanya nggak usah nantangin!” decak Silo tak mau kalah.
Lagi-lagi Grey hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sambil menyeruput teh melati yang aromanya menyebar harum ke seluruh ruangan, ia menjadi satu-satunya orang yang benar-benar fokus menyimak jalan cerita film di layar televisi.
Silo mendadak celingukan. “Mini mana? Kok belum sampai?”
“Tahu sendiri kalau sudah sama Iwe, dia betah banget. Tadi kayaknya gue dengar mereka mau ke mall dulu,” sahut Ge sambil membolak-balik bungkus DVD. Ia kemudian menoleh lagi, menatap Silo dan Grey bergantian. “Eh, jadi nggak nih besok kita ke pulau?”