Pukul sepuluh pagi di Pulau Tidung, matahari telah naik cukup tinggi, membasuh bentang cakrawala dengan cahaya emas yang menyilaukan. Langit biru bersih tanpa noda awan seolah menyatu dengan garis laut yang gradasinya berubah dari bening kristal, hijau tosca, hingga biru safir di kejauhan. Angin laut yang membawa aroma garam bertiup cukup kencang, menyibak rambut dan pakaian siapapun yang berdiri di bibir pantai.
Grey berjalan perlahan di atas pasir yang halus, membiarkan kakinya tenggelam sedikit demi sedikit di setiap langkah. Ia mengenakan celana kulot abu-abu yang jatuh ringan di kaki, dipadu kaos putih yang dilapisi sweater rajut tipis berwarna biru langit—selaras dengan suasana hatinya yang tenang namun sedikit melankolis karena diam-diam menyimpan kerinduan yang tak ia suarakan. Matanya menyipit, mengamati sahabat-sahabatnya yang tampak begitu hidup di kejauhan.
Yang paling dekat, beberapa belas meter di depan sana, ada Iwe dan Mini berjalan bergandengan tangan, sesekali saling melempar tawa kecil sambil menghindari kejaran ombak. Mini yang suka bicara pedas dan Iwe yang suka nyeletuk sok tahu itu, benar-benar akur dan nyambung satu sama lain dan makin lengket dari hari ke hari.
Tak jauh dari mereka, Zumi dan Silo berjalan beriringan. Dress pink selutut yang Silo pakai, kontras dengan baju hitam dan celana cargo putih yang Zumi kenakan. Meski masih ada jarak malu-malu di antara bahu mereka, tatapan penuh damba yang sesekali mereka pertukarkan menunjukkan dengan jelas bara kasmaran yang sedang mekar dan tak dibendung.
Sementara itu, Ge—yang tak pernah merasa kesepian meski tanpa pasangan—terlihat paling heboh; ia berlari sendirian mengejar ombak tipis yang menyapu pasir, berteriak kegirangan seolah dunia hanya milik mereka hari itu.
Grey memilih menepi. Ia berdiri di bawah naungan rindang pohon Ketapang besar yang daun-daun lebarnya memberikan perlindungan dari sengatan terik. Sinar matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pola cahaya yang menari-nari diatas cardigan birunya. Ia menyipitkan mata, meneduhkan pandangannya dengan sebelah tangan untuk tetap bisa mengawasi teman-temannya di kejauhan. Ingin bergabung tapi ketenangan di bawah pohon ini terlalu nyaman untuk ia tinggalkan.
Namun, di tengah kesunyiannya itu, atmosfer di sekitarnya mendadak terasa berubah. Grey merasakan pergerakan udara di belakangnya, tengkuknya yang semula terasa panas oleh sinar matahari yang jatuh, mendadak teduh. Sebelum ia sempat memproses keadaan dan mengecek belakangnya, sebuah tangan kokoh menyelinap di atas bahunya, menariknya ke dalam rengkuhan hangat yang sangat ia kenali dari memori terdalamnya.
Jantung Grey seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Ia mematung, tubuhnya mendadak kaku, dan matanya bahkan tak sanggup berkedip. Aroma parfum yang maskulin, bercampur sedikit aroma sabun dan hangatnya kulit yang terpapar matahari, menyerbu indra penciumannya. Itu adalah aroma yang selalu ia rindukan di setiap malam-malam sepinya setahun belakangan ini. Aroma yang terus bersemayam dalam ingatannya setelah pulang dari bandara saat itu. Sesekali, ia mencium aroma ini, namun bukan karena sosok itu benar-benar ada, hanya otaknya yang terlalu rindu dan salah menafsirkan memori sebagai kenyataan.
Sadar Grey mematung, Albitra mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di bahu Grey, membiarkan helai rambut gadis itu menyentuh wajahnya. Kemudian, ia membisikkan kalimat yang selama ini hanya hadir dalam mimpi-mimpi Grey. Menyadarkan kalau hal yang sedang terjadi ini, bukan mimpi, bukan ilusi.
"I miss you so much..."
Suara berat dan parau itu seketika membawa keheningan mutlak di kepala Grey. Dalam sekejap, dunia di sekelilingnya seperti kehilangan suara. Tidak ada lagi deru ombak yang memecah pantai, tidak ada desau angin yang menggesek daun, bahkan teriakan seru Ge dan tawa Mini pun menghilang sepenuhnya. Semuanya lenyap, menyisakan kekosongan suara yang hanya diisi oleh gema suara Albitra yang bergetar di dalam hatinya.
Grey perlahan-lahan memutar tubuhnya, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, sosok ini akan menguap menjadi udara. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pemandangan di depannya sedikit kabur. Namun, senyuman Albitra—senyum yang sama yang dulu mengubah dunianya—terpampang nyata di hadapan. Pria itu tampak lebih dewasa dengan potongan rambutnya yang lebih pendek dan rapi, namun binar matanya masih menyimpan kehangatan yang sama untuknya, seolah sosoknya baru pergi kemarin.
Tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun, Grey langsung menghambur, memeluk Albitra seerat mungkin yang ia bisa. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, meresap dalam-dalam kehangatan tubuh yang nyata, bukan lagi bayangan. Ia menangis tanpa suara, membiarkan cardigan birunya bersentuhan dengan kaus putih Albitra, merasakan degup jantung pria itu yang berpacu sama kencangnya dengan miliknya.
“Aku kangen banget! Kangen banget!” isak Grey, suaranya teredam di dada Albitra, melepaskan seluruh sesak yang selama setahun ini ia simpan rapat-rapat dalam ketenangannya.