Seusai makan malam, saat Ge sedang heboh membahas sparing terakhir mereka dengan sekolah Alex—yang ditimpali dengan semangat oleh Zumi dan Iwe—suasana restoran penginapan itu terasa begitu hangat. Namun, di bawah meja, Albitra diam-diam menyenggol kaki Grey. Gadis itu melirik tak kentara, dan saat Albitra memberikan isyarat kecil dengan gerakan kepala ke arah pintu, Grey mengangguk pelan sebagai jawaban.
Albitra bangkit lebih dulu dengan gerakan tenang, seolah-olah ia hanya ingin mencari udara segar. Grey tidak langsung menyusul; ia masih menyempatkan diri menyuap sepotong terakhir roti bakar miliknya dengan santai dan merespon ucapan Ge dengan tawa, sebelum akhirnya ikut beranjak dari kursi. Keduanya melangkah meninggalkan restoran dengan keyakinan bahwa aksi mereka cukup rapi dan tak ada yang menyadari.
Padahal, begitu sosok Grey menghilang di balik pintu, Ge dan yang lainnya langsung saling lempar tatap. Detik berikutnya, kelimanya meledak dalam tawa geli sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tahu betul kalau dua insan yang setahun lebih beda benua itu sejak tadi sudah saling lirik dan tak sabar untuk menghabiskan waktu berdua.
Grey berjalan dengan langkah pendek-pendek yang riang, sesekali melompat kecil saat melintasi batu pijakan di antara taman penginapan. Deretan lampu gantung berwarna kuning hangat yang melengkung di sepanjang jalan memberikan kesan dramatis pada bayangannya yang menari di atas tanah. Di ujung koridor terbuka itu, Albitra berdiri menunggu. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya, menemani tatapan teduh dan penuh cinta yang ia tujukan hanya untuk sosok Grey yang kian mendekat.
Masih segar dalam ingatannya, tentang dirinya yang pernah berlari menyusuri jalan ini saat tahu Grey dan Zumi jadian di restoran. Tak disangka hari itu sudah hampir dua tahun berlalu. Dan kini, gadis yang hari itu membuat dunianya hampir jungkir balik frustasi, berlari ke arahnya dengan senyum merekah yang cerah.
Saat Grey tinggal beberapa langkah lagi, Albitra mengulurkan tangannya. Gadis itu menyambutnya tanpa ragu, membiarkan jemari mereka bertautan erat. Keduanya berjalan bergandengan dalam keheningan yang nyaman, melewati deretan pintu kamar penginapan hingga sampai ke kamar Albitra yang terletak cukup di pojok, jauh dari keriuhan tamu lainnya.
Begitu pintu tertutup dan mengunci suara angin malam di luar, Grey langsung duduk di pinggir kasur, memperhatikan gerakan Albitra. Pria itu berjalan menuju meja, di mana sebuah tas ransel besar tergeletak terbuka. Albitra memasukkan tangannya ke dalam tas tersebut, mencari sesuatu di sela-sela tumpukan pakaiannya dengan saksama.
Grey menunggu dengan dada berdebar. Ruangan itu hanya diterangi lampu meja yang temaram, menciptakan suasana yang begitu hangat sekaligus mendebarkan. Setelah beberapa detik, tangan Albitra menarik sebuah kotak kecil berwarna biru gelap yang dibungkus pita perak.
Ia berbalik, berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Grey. "Ini bukan sekadar hadiah," bisik Albitra seraya membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah liontin safir abu-abu yang berkilau lembut dengan rantai perak tipis.
"Batu apa ini?" tanya Grey lembut, jemarinya menyentuh permukaan liontin yang tampak elegan dan misterius itu. Biasanya batu liontin berwarna cerah dan mencolok, namun yang satu ini nampak tak lazim ditemui.
Albitra menatap mata Grey lekat-lekat.
“Grey Sapphire. It reminds me of you... as beautiful as your soul (ngingetin aku sama kamu, secantik pribadi kamu). Safir ini melambangkan ketenangan di tengah badai dan kejernihan pikiran. Aku memilih ini karena warnanya gak mencolok, tapi punya kedalaman yang tidak dimiliki batu lain—persis kayak kamu, yang selalu menjadi tempat buat aku merasa tenang.”
Albitra menggenggam tangan Grey, menyalurkan kehangatannya lewat sentuhan itu.
“I hope this necklace protects you. I want you to always have inner peace and strength, no matter how loud the world gets. Through this things, I want you to remember that you are worthy, you are strong, and you are my home... the place that always brings me peace.” (Harapan aku, kalung ini bisa menjagamu. Aku ingin kamu selalu memiliki keteguhan hati dan kedamaian batin, tidak peduli seberapa riuh dunia di luar sana. Aku ingin melalui benda ini, kamu ingat bahwa kamu berharga, kamu kuat, dan kamu adalah rumah yang selalu memberikan kedamaian untukku.)"
Albitra kemudian beranjak dari posisi berlututnya dan ikut duduk di pinggir kasur, tepat di samping Grey. Aroma parfum Albitra yang menenangkan kini terasa begitu dekat. Dengan gerakan perlahan, ia mengambil kalung itu dari kotaknya. Grey sedikit menunduk, menyibakkan rambutnya ke samping, membiarkan jemari Albitra menyentuh tengkuknya yang seketika meremang karena dinginnya rantai perak yang bersentuhan dengan kulit.
Setelah pengait terkunci sempurna, Albitra tidak segera menjauh. Ia justru memutar tubuhnya untuk menghadap Grey sepenuhnya. Keduanya kini saling tatap dalam jarak yang begitu tipis. Di depan temaram lampu meja, tatapan Albitra tampak begitu dalam, mengunci seluruh perhatian Grey hingga gadis itu merasa dunia di luar kamar ini benar-benar hening dan lenyap.
Perlahan, Albitra mulai memajukan wajahnya. Gerakannya begitu ragu namun pasti, memberikan ruang bagi Grey untuk menarik diri jika ia mau. Namun, Grey justru memejamkan matanya, menyerahkan seluruh kendali pada debar jantungnya yang kian menggila.
Lalu, sentuhan itu terjadi.
Bibir Albitra menempel lembut di atas bibir Grey. Sebuah ciuman pertama antara mereka yang murni; hanya saling melekat tanpa ada pergerakan, seolah mereka sedang saling bertukar napas dan perasaan dalam diam. Ada kepolosan yang manis di sana—sebuah ungkapan yang tak terucap namun terasa nyata. Meski hanya sebuah persentuhan statis, dada Grey berdegup sangat kencang, hingga ia takut Albitra bisa mendengar detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar.
Beberapa saat kemudian, Albitra menarik wajahnya sedikit, hanya beberapa sentimeter. Ia memandang Grey lekat-lekat, matanya menatap dalam ke kelopak mata Grey yang perlahan terbuka dengan sayu dan malu-malu. Jemari Albitra yang hangat naik mengelus lembut pipi Grey, ibu jarinya mengusap sudut bibir gadis itu dengan penuh kasih.
Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal dan penuh letupan emosi. Albitra kembali mendekat, kali ini tanpa keraguan yang sama seperti sebelumnya. Saat bibir mereka kembali bertemu, tidak ada lagi keheningan yang kaku. Ciuman itu mulai bergerak—lembut, menuntun secara perlahan, dan penuh kerinduan yang telah lama mereka simpan di antara jarak ribuan mil. Di dalam kamar yang sunyi itu, Grey hanya bisa merasakan kehangatan Albitra dan detak jantung mereka yang mulai berpacu dalam ritme yang sama. Ia tak tahu harus berbuat apa, namun ia memilih membuka sedikit bibirnya untuk memberikan ruang gerak pada Albitra agar lebih leluasa.
Ciuman yang mulai bergerak itu hanya berlangsung beberapa saat, sebuah tarian lembut yang tidak menuntut terlalu banyak, seolah Albitra ingin memastikan bahwa setiap detik darinya tetap terasa murni untuk awal baru mereka.
Perlahan, ia melepaskan pagutan itu. Albitra tidak menjauh; ia tetap di jarak yang cukup lekat, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan sejenak sebelum ia menatap Grey lekat-lekat dengan binar mata yang begitu jujur.
Tangan Albitra kemudian berpindah, bergerak ke belakang kepala Grey, menyusup di antara helai rambutnya. Dengan tekanan yang begitu lembut dan protektif, ia menarik dahi Grey mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan dalam di keningnya.