D-FLO

Arisyifa Siregar
Chapter #40

40. Akhir dari Awal

Pagi itu, udara Jakarta terasa lebih bersahabat saat Grey melangkah keluar dari pintu rumahnya. Ia mengenakan gaun sleeveless berbahan satin berwarna dusty rose yang jatuh dengan indah di tubuhnya, dipadukan dengan liontin safir abu-abu pemberian Albitra yang tetap melingkar di lehernya. Rambutnya disanggul separuh dengan jepit mutiara kecil, sementara sisanya dibiarkan tergerai natural, memberikan kesan anggun namun tetap simpel.

Di depan pagar, sebuah SUV hitam mengkilap sudah menunggu. Albitra bersandar di pintu mobil, tampak luar biasa tampan dengan kemeja putih yang dilapisi setelan jas charcoal abu-abu tanpa dasi, terlihat formal namun tetap edgy. Begitu melihat Grey, ia tak bisa menahan senyumnya. Ia membukakan pintu untuk Grey, “How can you get prettier everyday (gimana bisa tiap hari tambah cantik, sih) ?” gombalnya.

Grey hanya tertawa sambil menggelengkan kepala dan langsung masuk ke dalam mobil. Wangi parfum Albitra menyebar di dalam mobil, menjadi pengharum ruangan itu meski tak ada pengharum mobil yang Albitra letakkan di sana.

Makin semerbak saat cowok itu akhirnya masuk dan duduk di kursi supir. “Are you ready, pretty?” godanya lagi. Langsung menginjak pedal gas dari mobil yang baru ia beli sebulan lalu itu, menuju gedung pernikahan Gwen digelar.


Sesampainya di gedung, suasana meriah sudah terasa. Di depan pintu masuk aula yang didekorasi dengan untaian bunga melati dan mawar putih, sosok-sosok familiar sudah menunggu.

Silo tampak feminin seperti biasa dengan batik sutra motif kontemporer berwarna merah muda khas dirinya, sementara Mini terlihat manis dengan kebaya kutubaru modern berwarna sage green—kelihatan lebih kembar dari biasa karena baju mereka yang sama. Di samping Mini, Iwe berdiri, tampil rapi dengan kemeja formal dan kacamatanya yang bingkainya baru, sedangkan Zumi sudah bersiap dengan gitar elektrik yang tersampir di bahunya, memandang resah ke Albitra yang menaiki tangga dengan santai sambil menggandeng tangan Grey.

"Lama banget sih! Ayo, Bi, buruan!" seru Zumi tanpa basa-basi. Ia langsung menyambar tangan Albitra, mengambil alih cowok itu dari Grey, dan membawanya memutari bagian samping aula untuk masuk ke dalam gedung lewat pintu samping. Albitra hanya sempat memberikan kedipan mata pada Grey sebelum ia menghilang di belokan lorong.

“Ayo kita masuk!” ajak Silo memimpin.

Grey dan yang lain melangkah masuk ke dalam aula yang disulap menjadi taman dalam ruangan. Langit-langitnya dipenuhi kain-kain putih yang menjuntai dramatis dengan lampu kristal di tengahnya. Ia berjalan menuju barisan bangku depan yang khusus disisakan untuk mereka.

Di sana, sebuah pemandangan yang dulu terasa mustahil kini tampil di depan matanya. Ibunya dan Collin duduk bersebelahan, tampak tenang dan dewasa. Di samping Collin, ayahnya duduk bersama Sarah—ibu tirinya. Sarah yang mengenakan kebaya seragam yang serasi tampak telaten memangku Gevan, adik laki-laki Grey yang kini berusia delapan bulan. Bayi mungil itu terlihat menggemaskan dengan tuksedo kecil dan sepatu bot bayi, sesekali mengoceh tak jelas.

Grey duduk tepat di belakang ibunya, diapit oleh Silo dan Ge. Di sisi kanan Ge, Mini dan Iwe ikut bergabung, melengkapi lingkaran persahabatan mereka.

Saat melemparkan pandangannya ke sudut ruangan, Albitra dan Zumi sudah terlihat berada di atas panggung kecil di sana. Zumi sudah berdiri mantap dengan gitarnya, sementara Albitra duduk santai di belakang drum.

Begitu Albitra memberikan aba-aba dengan ketukan stik drumnya—tak, tak, tak!—irama ceria lagu Bruno Mars, Marry You, langsung meledak memenuhi ruangan. Zumi memetik gitarnya dengan lincah, menciptakan suasana yang begitu penuh energi dan kebahagiaan. Suaranya lembut namun solid, dan Albitra menabuh drumnya dengan gerakan ringan yang riang.

"Lihat tuh, cowok lu keren banget," bisik Ge sambil menyenggol bahu Grey. Grey hanya tersenyum bangga, matanya tak lepas dari sosok pria di atas panggung yang sesekali menatapnya di sela-sela permainan musiknya.

Tiba-tiba, musik berubah menjadi lebih megah namun tetap dengan tempo yang riang. Pintu besar aula terbuka, dan seluruh tamu berdiri. Gwen melangkah masuk.

Gadis itu tampak bak putri dari negeri dongeng. Ia mengenakan gaun pengantin model A-line dengan detail brokat bunga-bunga kecil yang menjalar dari bahu hingga ke ujung gaun. Veil transparan panjang yang ia kenakan terseret lembut di atas hamparan kelopak bunga mawar putih di sepanjang aisle. Wajah Gwen memancarkan kebahagiaan yang murni; matanya berkaca-kaca saat melihat seluruh orang tersayangnya berkumpul di sana.

Polesan pada bagian interaksi sahabat dan momen penutupnya membuat cerita ini terasa sangat "hidup" dan realistis. Berikut adalah kelanjutan narasi dengan sentuhan humor dan kehangatan yang Anda bangun:

Rasa haru seketika menyelimuti ruangan. Grey merasakan matanya mulai memanas. Ia menoleh sedikit ke arah bangku ayahnya, melihat Gevan yang bertepuk tangan kecil dalam pangkuan Sarah, lalu beralih ke ibunya yang menyeka sudut mata dengan tisu.

Lihat selengkapnya