Suara riuh orang-orang memenuhi seluruh gerbong kereta api pagi itu, dimana cahaya matahari yang kuning berkilauan menerobos masuk melalui jendela-jendela besar di samping kursi penumpang yang turut serta menarik angin sepoi-sepoi ke dalamnya. Hanya berselang beberapa hari sebelum perayaan Natal di awal tahun 2000-an, pemudik memadati tempat duduk di sebuah kereta api yang berangkat dari kota Jakarta menuju Semarang. Gerbong penuh sesak dengan aktivitas penghuni sementaranya. Ada yang duduk berdempetan sambil memangku dua anak balitanya yang terus menangis, ada pula yang tengah berdiri memegangi kardus mie instan yang diikat tali rafia yang isinya mungkin tumpukan pakaian untuk dipakai di kampung halaman, lalu ada juga beberapa orang yang tidur di lantai tepat di antara dua punggung kursi penumpang lain dengan alas koran bekas, hingga menjajakan makanan ringan sambil berkeliling di antara padatnya penumpang.
Suasana hati mereka campur aduk, didominasi oleh kegembiraan dan rasa rindu akan kampung halaman maupun orang-orang yang tengah menunggu di tujuan mereka, semua mengalir begitu saja sampai menutupi ketidaknyamanan yang tengah mereka alami sekarang di tengah sesaknya gerombolan penumpang lain, namun sesekali di sela-sela itu juga, tak jarang muncul tatapan risih, jenuh, dan tetesan keringat yang seakan berbicara secara langsung kepada dunia soal lelahnya mereka. Ratusan orang menanti pemberhentiannya satu persatu di sebuah stasiun yang namanya disebutkan di speaker secara berkala. Setengah jam hingga satu jam, penumpang keluar dan masuk, mengisi kursi yang kosong dan mengosongkan kursi yang tadinya terisi. Namun tak semua mendapatkan kursi yang layak, ada juga yang duduk tanpa kursi di lantai, dan berdiri bersandar begitu saja sehingga gerbong terasa padat dan sesak.
Pemandangan di luar kereta silih berganti diiringi matahari yang bulatnya masih dapat dilihat oleh mata telanjang. Barisan pemukiman sederhana dengan genting-genting tanah liat berwarna oranye kecoklatan bergeser secepat kilat dan digantikan oleh hamparan sawah dan pepohonan hijau yang berseliweran mundur selaras dengan laju kereta yang begitu cepat. Sesekali terlihat gunung berwarna biru tua di kejauhan yang berlatar langit dengan butiran awan seputih salju yang saling berjarak satu sama lain. Suara bising mesin kereta dan hembusan angin merayap masuk ke telinga semua orang yang ada di dalam gerbong kereta itu.
Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun yang memakai kaos biru berlogo Superman diangkat oleh ayahnya yang duduk di pojok dekat jendela di baris ketiga sebelah kanan, pinggangnya dipegang erat, dan wajahnya diarahkan ke celah yang terbuka sehingga udara dari luar menyapu rambut-rambut tipis keritingnya, momen ini membuatnya memancarkan senyum kecil dengan barisan gigi-gigi susunya yang sedikit kecoklatan di pinggirnya. Lalu seekor ayam jago menjulurkan kepala dari dalam kiso yang tengah dipeluk erat oleh seorang pria tua berkopiah beludru hitam dan berkemeja batik silver yang duduk di dua baris setelahnya, jengger merah ayam itu sangat merona, bergoyang ke kiri dan kanan hingga menarik perhatian seorang wanita muda berdaster kuning motif kembang-kembang yang setengah mengantuk di depannya. Dan dari pintu sambungan gerbong belakang, seorang penjual souvenir kini berjalan sambil memikul dagangannya, tak mau kalah dengan pedagang lain yang telah lalu lalang sebelumnya, ia menghampiri satu persatu penumpang dan menawarkan beragam dagangannya hingga sampai ke pintu sambungan gerbong depan. Udara saat itu sebenarnya tidak terlalu panas karena sedari subuh hingga pukul 7 pagi gerimis terus membasahi kereta tersebut sepanjang perjalanan dan menyisakan setitik dua titik embun yang mengendap di sudut jendela luar.
Di tengah-tengah gerbong, duduklah seorang pria muda berbadan kurus berusia 25 tahunan, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun kaos abu-abunya sedikit basah di bagian leher dan kedua tangannya yang berkulit sawo matang memeluk erat sebuah tas ransel hitam berukuran cukup besar yang berada di pangkuannya. Tak ada keanehan dari dirinya, ia sama halnya dengan penumpang lain yang ingin turun di salah satu stasiun berikutnya. Tak berselang lama kereta mulai mendekati sebuah jembatan yang membelah sebuah sungai besar berarus deras di bawahnya, ayah dari anak laki-laki berkaos Superman tadi mengacungkan jari telunjuknya ke arah jendela dan memberitahu anaknya bahwa mereka akan melintasi jembatan yang berjarak beberapa puluh meter di depan lokomotif kereta yang kini agak sedikit berbelok ke kanan sehingga tampak depannya terlihat oleh penumpang di gerbong belakang. Pria muda dengan kaos abu-abu tersebut melihat mereka dari tiga baris belakang tempat duduknya dengan tatapan iba, lalu ia memejamkan mata dengan dalam, jakunnya bergerak karena air liur baru saja melintasi kerongkongannya dengan paksa, ia merasakan getaran gerbong yang berbeda diiringi suara “gujes-gujes” yang keras, tanda bahwa gerbong ini sudah memasuki area jembatan dalam waktu sepersekian detik setelahnya.
DUAAAAARRR!
Sebuah ledakan besar terjadi dari gerbong tersebut, melontarkan gelombang kejut yang diiringi oleh suara dentuman keras yang memekakkan telinga, menghancurkan seisi gerbong dalam sepersekian detik. Ledakan itu memancarkan bola api raksasa berwarna oranye kemerahan ke segala arah beserta serpihan puing-puing besi, kaca, darah, dan daging-daging yang sudah tak memiliki rupa. Kereta pun terbelah menjadi dua di bagian tengah, disusul hancurnya jembatan yang menyebabkan tiang-tiang penyangganya roboh dan menggulingkan kedua bagian kereta yang terpisah ke bawahnya. Panas dan gelombang kejut dari ledakan itu bahkan melumat serta menghamburkan beberapa gerbong sekaligus hingga jadi kepingan yang berterbangan ke udara dengan begitu dahsyatnya. Tak kurang dari semenit, kereta tersebut luluh lantak, hancur tak karuan, terbelah, terbakar, dan hampir seluruhnya jatuh ke dasar sungai yang dalam.
Sebagian penumpang selamat yang berada di gerbong bagian depan dan belakang yang masih tersangkut di atas sisa jembatan berusaha keluar dari sana dalam keadaan panik, mereka kemudian berlarian menjauhi rangkaian gerbong yang mulai dilalap oleh si jago merah. Jeritan terdengar dimana-mana dan asap hitam tebal membumbung tinggi ke udara di sekitar kereta, mayat-mayat yang terpental karena ledakan berceceran tanpa bentuk dalam kondisi yang mengenaskan di segala penjuru, beberapa korban yang masih memiliki kesadaran meraung histeris meminta tolong ketika melihat bagian tubuhnya tak lagi utuh dan bahkan terpental entah kemana. Sisanya pingsan, terjepit di antara gerbong yang dilahap api dan terpanggang, tergeletak tak bernyawa, atau jadi onggokan daging dan darah yang tercabik-cabik lalu tercecer di rerumputan, pecahan batu, atau dimakan ikan di dasar sungai. Suasana begitu kacau, membuat yang hidup berlarian mencari pertolongan ke sekitarnya sambil menahan sakit di pelipis dan telapak tangan yang penuh darah karena pecahan benda tajam yang ikut terhempas ke mana-mana, yang lain hanya duduk termenung tak berdaya sembari mencerna apa yang sedang terjadi saat ini, sementara lima belas lainnya berteriak memanggil nama anggota keluarganya yang terpisah sambil menangis tersedu-sedu.
Hari itu menjadi waktu-waktu yang paling buruk dalam hidup mereka. Rasa sakit yang tak tertahankan kini merasuk ke dalam anggota badan sampai ke batin mereka dengan sekejap mata, seketika membuat lupa akan kampung halaman yang tengah dituju. Tak ada lagi senyum yang tersisa di bibir yang robek dan mengeluarkan darah segar itu, tak ada lagi keceriaan atau tawa semangat yang menggema, semua digantikan oleh jeritan perih yang mengguncang tanah yang mereka pijaki. Semuanya kandas di tengah perjalanan; rekan, sahabat, bahkan keluarga yang ada di dalam sana kini lenyap untuk selamanya.
***
Setidaknya itulah yang bisa kubayangkan di dalam kepalaku mengenai sebuah tragedi yang terjadi 16 tahun lalu. Sebuah insiden memilukan yang merenggut ratusan nyawa tak bersalah dalam hitungan menit. Dan juga peristiwa yang akhirnya mengubah hidup semua orang saat itu, termasuk keluargaku, yang katanya terlibat secara langsung dan bertanggungjawab atas kejadian berdarah tersebut. Entah valid atau tidak, sampai saat ini aku tak pernah tahu kebenarannya.
Sore ini aku sedang berada di dalam sebuah penerbangan dari Jakarta ke Kalimantan untuk proyek fotografi terbaruku. Langit di luar cerah, namun di kejauhan terlihat segerombolan awan hitam yang berkumpul menjadi barisan dinding yang seakan tak dapat ditembus. Sambil memegang tiket berisi nomor kursi dan nama lengkapku, Evani Raditya, aku masih termenung, mengingat-ingat rangkaian peristiwa kejadian hari itu, saat berita tentang peristiwa bom bunuh diri di sebuah perjalanan kereta api Jakarta-Semarang, yang sekaligus menjadi kecelakaan transportasi terburuk sepanjang sejarah di negeri ini, sampai ke telingaku secara langsung melalui mulut Mama. Aku termenung selama beberapa menit, berusaha menggali memori-memori kelam yang menumpuk tak karuan di dalam sana.
Di dalam benakku, tak ada yang lebih mengerikan ketimbang trauma seumur hidup mereka, rasanya mungkin tak pantas, tapi apakah boleh kubandingkan dengan apa yang aku alami selama belasan tahun ini?. Pada hari itu aku masih berusia enam tahun, dan sudah memasuki waktu libur sekolah setelah beberapa hari sebelumnya merupakan hari penerimaan rapor, kira-kira jam dua lewat lima belas, aku sedang bermain di halaman rumah bersama kakak perempuanku, Irma, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-tujuh tepat satu minggu yang lalu. Siang itu tak terlalu panas karena awan secara bergantian menutupi seluruh matahari setiap lima menit sekali, kami sedang bermain tapak gunung dengan posisi aku unggul 3 angka di atasnya, saat giliranku, dengan cekatan aku melompati satu persatu kotak dengan satu kaki sembari menghindari menyentuh garis dari masing-masing kotak, lalu mengambil batu yang dijadikan tanda di kotak nomor tujuh, dan melompat kembali ke urutan awal, yang akhirnya membuat wajah Kak Irma yang manis menjadi kecut karena diriku berhasil melaju ke tahap selanjutnya, ia yang merasa ketinggalan agak jauh dariku mengibaskan rambutnya yang dikuncir dua di kanan dan kiri dengan karet berwarna merah. Saat permainan menjadi sangat menantang dan begitu asyik, suara Mama memanggil dari dalam rumah, ia keluar dari pintu sambil merapikan rambut hitam sebahunya dan menyuruh kami berhenti bermain, lalu masuk ke dalam tanpa alasan, kemudian ia memastikan gerbang terkunci dan menggemboknya dengan terburu-buru. Ketika di dalam, ia langsung menutup semua gorden yang membuat suasana di dalam jadi sedikit lebih gelap dan tak lupa mengunci pintu depan, kaos berwarna merahnya tetap mencolok di tengah remangnya rumah, ia lalu menyuruh kami duduk di sofa empuk berwarna coklat tua yang ada di depan TV ruang keluarga.
Mama menarik kursi kayu dari meja makan dan meletakkannya di depan kami dengan tergesa-gesa. Wajahnya gelisah, dan terdapat sedikit air mata yang mengering di ujung matanya, tak lupa sesekali ia menggigit bibir secara tak menentu. Rumah yang kami tempati saat ini lumayan cukup besar, berukuran sekitar seratus lima puluh meter persegi dengan tiga kamar tidur, yang mana satu di antaranya dijadikan gudang, dan dua kamar mandi yang satunya terletak di dalam kamar tidur utama. Lalu ada ruang tamu dengan tiga sofa besar yang benar-benar empuk berwarna burgundi, dan di sudutnya terdapat vas bunga putih dengan lukisan biru bermotif pegunungan Cina, di bagian tengah rumah terdapat ruang keluarga, ruang makan, dan dapur yang saling berdekatan satu sama lain.
“Kalian dengar berita di TV beberapa hari ini?” tanya Mama yang mulai membuka percakapan. “Papa dari kemarin sering nyimak berita ini tiap pulang kerja kalo kalian sadar.”
Kami berdua menggeleng dan bertatapan satu sama lain dengan bingung. Sejujurnya aku tak berpikir bahwa Kak Irma sama tidak tahunya sepertiku, tapi aku tak mau menuduhnya sekarang karena sorot mata Mama yang baru saja duduk begitu serius sehingga kulit wajahnya terlihat begitu tegang.
“Kecelakaan kereta, ada yang denger beritanya?” tegas Mama sambil mengamati kedua bola mata kami secara bergantian.
“Aku cuma denger sekilas,” jawab Kak Irma pelan, membuatku seketika meliriknya. “Tapi nggak terlalu nyimak soalnya aku dengernya pas lagi baca buku.”
“Oke. Jadi Mama harus jelasin dari awal.”
Mama menarik nafas panjang, seolah-olah ada sebuah ledakan di dalam dirinya yang sengaja ia bendung. Ia lalu sedikit membungkuk ke arah kami, menyilangkan kedua tangannya di dada dan sedikit berpaling sebentar ke arah gorden yang tertutup. Aku masih ingat kalau ada seekor semut kecil yang menggigit pahaku di momen itu, dan seketika aku langsung menggaruknya sambil mencoba untuk menahan gatal.