Konferensi pers oleh kepolisian pagi itu benar-benar buruk. Tak kusangka, tepat dua puluh empat jam yang lalu suasana kantor sedang sibuk-sibuknya, para karyawan sedang melayani nasabah yang membludak menjelang pergantian tahun, dan aku pun tengah bersiap untuk meeting dengan beberapa supervisor dari kantor cabang lain, begitu istri tercintaku, Hesti, tiba-tiba menelpon secara mendadak dan memberikan kabar yang begitu mengguncang. Di tengah nafasnya yang terengah-engah dan suaranya yang gemetaran, ia bilang bahwa polisi baru saja menelpon ke rumah, memberi tahu bahwa pelaku pengeboman kereta yang kulihat di televisi selama beberapa hari ke belakang setiap malam sepulang kerja adalah adikku sendiri, Ahmad. Tak bisa kupercaya hal ini terjadi dalam hidupku di saat-saat seperti ini, kabar buruk tersebut membuatku terdiam selama beberapa saat, sementara pikiranku dengan kerasnya berusaha untuk menolak kebenarannya, untungnya rapat dan urusan-urusan hari itu berjalan lancar tanpa kendala.
Sehari setelah dering telepon yang tak mengenakkan tersebut, pagi harinya kepolisian mengumumkan kepada para wartawan secara terbuka melalui konferensi pers nasional bahwa tersangka utama sekaligus pelaku langsung bom bunuh diri di dalam kereta api Jakarta-Semarang adalah Ahmad. Mereka memiliki beberapa barang bukti berupa rekaman kamera CCTV di stasiun kereta keberangkatan, beberapa benda pribadi yang digeledah dari rumah kontrakannya, serta kecurigaan besar karena Ahmad membawa tas hitam besar dan melakukan gerak-gerik yang tak wajar selama memasuki gerbong kereta. Selebihnya tak ada saksi mata yang melihat secara langsung bahwa bom itu meledak dari tas yang dibawa oleh Ahmad, karena seluruh penumpang yang berada di gerbong yang sama sudah tewas secara mengenaskan karena ledakan. Salah dua bukti yang memperkuat dugaan adalah skala kerusakan gerbong utama dan perkiraan posisi awal sumber terjadinya ledakan yang katanya berasal tepat dari kursi penumpang yang diduduki Ahmad, entah benar atau tidaknya, aku bukan orang yang tepat untuk mengkalkulasi hal semacam itu, namun tak ada yang bisa membantah keterangan resmi yang disiarkan secara langsung di berbagai saluran televisi pagi itu, yang akhirnya juga memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa adikku adalah seorang teroris.
Dari keterangan yang disampaikan oleh mereka pula bahwa Ahmad dicurigai bergabung dalam organisasi radikal yang berafiliasi secara Internasional, organisasi tersebut diduga merencanakan beberapa teror sebagai bentuk balasan atas invasi militer Amerika Serikat ke Timur Tengah pasca tragedi Sebelas-September. Dan dalam kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh Ahmad, target sekaligus korbannya merupakan kereta dimana salah satu gerbongnya terdapat rombongan pastor yang akan berangkat ke Semarang untuk melangsungkan ibadah perayaan Natal di beberapa gereja. Sementara itu korban lainnya merupakan warga sipil yang tengah mudik untuk merayakan libur Natal dan tahun baru di kampung halaman. Kepolisian menilai serangan tersebut merupakan peringatan pertama kepada negara akan eksistensi gerakan bawah tanah mereka, dan mungkin teror bom bunuh diri lainnya juga akan menyusul untuk menakut-nakuti seluruh lapisan masyarakat, mengingat kawan-kawan Ahmad yang lain masih buron dan masih diselidiki identitasnya.
Aku tak menyangka bahwa Ahmad bisa melakukan hal sekeji itu. Tak pernah terbersit di benakku bahwa salah satu adik kesayanganku tiba-tiba berubah menjadi monster yang merenggut kebahagiaan orang lain dengan begitu kejamnya. Sementara selama ini dirinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda perilaku buruk semasa hidupnya. Tak ada kejanggalan yang tampak selama ini, bahkan hal terakhir yang kuingat dari perjumpaan dengan dirinya adalah hari ulang tahun ke-dua puluh limanya, dimana aku memberikan hadiah berupa kamera digital yang selama ini diidamkannya yang bercita-cita untuk jadi seorang jurnalis sekaligus fotografer, dan janjinya yang akan mulai untuk mengabadikan momen-momen bahagia keluarganya saat berkumpul bersama.
“Pak Iwan, bapak nggak apa-apa? Dari tadi kayaknya bapak diem terus, lagi ada masalah?” tegur Asri memecah keheningan saat itu di ruang kerjaku.
Asri merupakan salah seorang pegawai yang tergabung dalam timku di kantor. Saat itu ia mengenakan seragam rapi dengan rambut disanggul, namun kulihat bibirnya agak sedikit kering di beberapa bagian. Ia melihat diriku melamun terus di meja sejak berita tersebut disiarkan pagi tadi, dan mungkin bersimpati karenanya. Namun tindakannya masih tak bisa menarikku untuk mengeluarkan sepatah kata pun, karena aku merasa sedang hancur saat ini.
Aku hanya terdiam dan tersenyum kepadanya, masih sedikit melamun dan tak mau bercerita apapun saat ini. Rasanya dunia seketika berjarak begitu jauh dan meninggalkanku seorang diri dalam kehampaan yang begitu gelap. Isi kepalaku hanya ada kenangan-kenangan akan Ahmad, ribuan teka-teki tanpa celah, ketidakpercayaan diriku akan peristiwa ini, dan rasa janggal akan tuduhan yang dilemparkan kepadanya dalam sekejap mata.
“Saya rasa … saya harus izin pulang lebih cepat lagi hari ini,” kataku ke Asri. “Minta tolong titip teman-teman yang lain ya. Mungkin saya bakal nggak masuk untuk beberapa hari, nanti surat izinnya akan saya kirim lewat pos.”
“Baik Pak.” jawabnya singkat tanpa menanyakan perihal yang terjadi saat ini dan langsung meninggalkan ruangan untuk mengabari yang lainnya.
***
Di perjalanan pulang, aku kembali mengingat sosok Ahmad yang sedari kecil begitu dekat denganku, bahkan di antara kakak-kakaknya yang lain, Ahmad lebih sering menghabiskan waktunya denganku. Kami sering memancing ikan di sungai untuk makan malam keluarga, aku mengajarinya berbagai macam hal, seperti memasang umpan ke kail, memotong rumput dengan arit untuk pakan kambing-kambing di kandang, hingga hal sederhana seperti kenapa kita harus berbuat baik kepada orang lain meskipun mereka berusaha berbuat buruk kepada kita. Tak kusangka, beberapa bulan yang lalu merupakan saat-saat terakhirku bertemu dengannya. Saat itu ia mampir ke rumahku dari kampung, dan bilang bahwa ia baru saja mendapat pekerjaan di sebuah pabrik di Cianjur dan mungkin akan menetap di sana.
Setelah keberangkatannya, tak satupun kabar muncul darinya, tak ada kunjungan, tak ada panggilan telepon, bahkan sepucuk surat pun tak masuk ke dalam kotak surat rumahku. Aku hanya bisa menduga bahwa pekerjaannya saat itu cukup berat, melelahkan, namun membuatnya bahagia, sehingga ia lupa untuk mengabari keluarganya yang tersebar di berbagai daerah pulau Jawa dan satu orang yang berada di Malaysia, karena bukan cuma diriku yang tidak diberi kabar, melainkan Bapak, Mas Bagus, Mbak Nur, Marni, bahkan adik bungsu kami, Arif, tak ada yang tahu menahu tentang dirinya. Dan ketika kabar yang dinanti itu sampai, bukannya hal baik, melainkan kabar duka dan sebuah kejutan yang menghantam keras hatiku sebagai seorang kakak. Entah apa yang akan dikatakan oleh yang lain ketika nanti sesampainya di rumah kutelepon mereka satu-satu, atau mungkin mereka juga telah mendapat kabar dari kepolisian di hari sebelumnya sama sepertiku, aku pun tak tahu.
Rombongan wartawan sudah ramai berkumpul di depan rumahku, segera ku bunyikan klakson mobil agar mereka menyingkir dari depan gerbang. Namun reaksinya tak terduga, mobilku diserbu serentak dan dengan segera mereka mengerubungiku selayaknya semut yang baru saja menemukan setumpuk gula. Sebagian dari mereka lalu menodongkan lensa ke arah mobil dan mulai mengambil foto serta merekam video dengan begitu cepatnya, sementara yang lain mulai berdesakan ke arah jendela kanan sambil menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan melalui mikrofon yang mereka todongkan.
“Bagaimana komentarnya Pak sebagai keluarga tersangka? Apakah ada permintaan maaf resmi untuk keluarga korban?”
“Sebelumnya ada kecurigaan nggak Pak dari pihak keluarga ke Ahmadnya sendiri?”
“Apakah keluarga ada yang terlibat juga Pak?”
“Sejak kapan Ahmad ikut organisasi ini Pak? Apakah Bapak tahu kalo adik bapak selama ini teroris?”
“Gimana pertanggungjawabannya Pak ke keluarga korban yang lain?”
Aku hanya bergeming sembari menutupi wajah sebisa mungkin dengan telapak tangan lainnya yang tidak memegang stir mobil. Tak lama kemudian Hesti segera keluar dari pintu dan membukakan gerbang sekaligus menghalau wartawan yang saling dorong untuk masuk ke pekarangan rumah. Melihat mereka yang begitu buasnya mencari informasi bahkan saling dorong dan mendesak Hesti hingga nyaris terjatuh membuatku naik pitam, dari kaca spion kanan mobil kutatap dingin mereka semua, sambil memarkir mobil kukeluarkan kepalaku dari jendela dan meneriaki mereka.
“Woy, jangan dorong-dorong istri saya! Goblok!”
Dan setelah mobil terparkir sempurna, Hesti menggembok gerbang serta menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah dengan buru-buru. Mereka terus meneriaki berbagai pertanyaan yang membuatku kesal, menodongkan kamera tinggi-tinggi agar bisa melewati batas atas gerbang rumahku untuk mengambil gambar, lalu dengan muaknya aku berpaling sedikit dan membentak mereka semua.
“Pergi kalian! Adik saya bukan teroris dan dia nggak bersalah. Nggak ada buktinya dia yang bawa bom ke kereta itu. Jangan ganggu keluarga kami!”
Selama beberapa detik aku tak bisa menyangkal bahwa aku melihat mereka kegirangan sekaligus terkejut karena menerima informasi hangat secara langsung dari sumbernya, terbukti dengan disertainya bisik-bisik heran yang menggema, entah akan ada berita apa esok hari setelah reaksiku tadi. Aku mendengar suara gerbang rumah para tetangga yang dibuka, tandanya mereka mulai keluar rumah dan ikut merapat ke depan untuk mencari sumber perihal keributan yang tengah terjadi, sementara kami berdua masuk dan segera menutup pintu rapat-rapat. Aku menendang pintu dengan begitu marah karena tak terima, situasi ini belum pernah terjadi seumur hidupku, bagaimana bisa orang yang begitu kukenal baik malah dijadikan tersangka dalam kasus yang menewaskan ratusan nyawa tak bersalah, dan ini pertama kalinya kudengar adikku dipanggil dengan sebutan teroris, sungguh menyesakkan dada. Namun Hesti terus mencoba untuk menenangkanku dengan mengusap halus punggungku.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanyaku dengan begitu cemas.