Dad, Our House is Burning!

Daffa Amrullah
Chapter #3

BAB III, BU HESTI: KELUARGA TERORIS

Air yang sedikit hangat karena toren air yang terkena terik matahari siang mengalir ke tanganku yang masih dipenuhi sisa-sisa sabun cuci piring, beberapa alat makan yang baru saja kucuci masih meneteskan air sedikit demi sedikit dari atas rak piring. Baru saja makan siang kami selesai sekitar sepuluh menit yang lalu, dan Mas Iwan sedang menonton televisi bersama anak-anak di sofa. Suasana hari ini sedikit lebih santai karena Mas Iwan hari ini tidak masuk kantor dan anak-anak juga terpaksa telah kami larang untuk bermain di luar rumah dengan teman-temannya sejak berita mengenai kasus Ahmad ditayangkan, kami tidak mau bolak-balik ke luar rumah dan bertemu wartawan yang senantiasa siaga di depan gerbang untuk menghujani kami dengan beratus-ratus pertanyaan yang terus menyudutkan keluarga kami. Setelah semua pekerjaan di dapur selesai, aku bergabung dengan mereka di pojok sofa sebelah kiri untuk menikmati acara televisi kesukaan anak-anak siang itu.

Badanku sedikit demam karena kelelahan, perjalanan yang jauh serta mendadak untuk pemakaman Ahmad, ditambah stress luar biasa akibat kabar yang tak mengenakkan ini jadi faktor utamanya. Tak bisa kubayangkan bagaimana isi kepala suamiku sekarang, mengingat semua hal jadi tambah runyam baginya belakangan ini, mungkin laksana gunung berapi yang terus menerus bergejolak, menggetarkan permukaan tanah, dan menyemburkan lahar yang begitu panas ke sekitarnya. Aku yakin bisa membantunya dengan segala cara, baik kecil maupun besar, seperti halnya sekedar mengusap rambutnya secara perlahan mungkin bisa meringankan sedikit beban di hatinya.

Dia menatapku sambil tersenyum manis di antara dua kepala anak-anak yang masih berfokus ke televisi, seolah berkata bahwa dirinya baik-baik saja, tapi sorot matanya terus berbohong ketika ia menatapku lebih dalam lagi. Tak kusangka, panggilan telepon yang kuterima siang itu jadi awal dari retaknya keluarga ini secara perlahan. Tak kasat mata, begitu halus, sampai-sampai kami semua tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menggerogoti kehidupan rumah tangga kami setelahnya secara bertahap. Ya, perasaan khawatir akan hal itu sudah bisa kurasakan sejak detik itu juga.

“Aku sayang kamu dan anak-anak, dan aku nggak mau kalian disalahin seumur hidup karena kasus Ahmad. Tapi aku juga nggak percaya kalo dia yang ngelakuin ini semua. Bisa jadi semua ini bohong kan?” kata Mas Iwan kepadaku tepat tiga hari yang lalu persis di sofa ini. “Nggak mungkin Ahmad ngelakuin semua itu … nggak mungkin!”

Aku pun juga tak mengerti sekaligus tak percaya, bagaimana bisa adik iparku, yang begitu baik, ramah ke semua orang, dan begitu terang-terangan mencintai keluarganya, bisa melakukan pembunuhan sekeji itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua itu masih menghiasi kepala kami selama beberapa hari ini. Namun saat interogasi berkedok wawancara dengan keluarga tersangka di kantor polisi kemarin, mereka membeberkan semua barang bukti yang didapatkannya dari lokasi kejadian dan rumah kontrakan yang disewa oleh Ahmad sebagai tempat tinggal di daerah Cianjur. Rekaman CCTV, serpihan tas yang sudah hancur dan hangus, barang-barang pribadi seperti pakaian, sebuah buku diary yang berisikan tulisan-tulisan kekecewaan dan kebencian terhadap orang-orang yang dianggapnya kafir, beberapa perkakas yang diduga digunakan untuk merakit bom, dan sebuah kamera digital yang aku ingat baru saja dibelikan oleh suamiku sebagai hadiah ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu terpampang jelas di atas meja beralaskan kain berwarna putih salju tersebut.

***

“Janggal kan? Sejak kapan dan kenapa dia bisa jadi begitu?” tanya Mas Iwan yang duduk di sudut ranjang. 

Kami saling tatap dalam diam, mendengar suara detik-detik jarum jam bergerak dari jam dinding dengan bingkai keperakan di atas pintu kamar, menunggu rasa kantuk datang ketika cahaya rembulan kelihatannya memenuhi teras rumah kami yang lumayan sepi malam itu. Sebentar lagi pergantian tahun, tetapi kalau diingat lagi semua keceriaan berbanding terbalik dengan tahun lalu, seharusnya sekarang kami merencanakan pergi untuk berlibur entah ke pantai atau ke puncak, menikmati hangatnya matahari dan deburan ombak atau dinginnya udara pegunungan dan pemandangan yang diselimuti kabut, kini semuanya tidak bisa direalisasikan karena kami semua berada di dalam tekanan.

“Habis dari kantor polisi kemarin, aku ngerasa ada yang salah sama semuanya, menurutku kecelakaan itu kayak dibuat-buat. Emangnya kamu percaya kalo Ahmad pelakunya?” lanjutnya yang begitu yakin dengan nafas yang mulai naik, sementara aku hanya bisa menggeleng perlahan untuk mengiyakan pernyataannya.

Kini tak ada suara sedikitpun, seolah semesta tengah mengheningkan cipta dan merenungi kemalangan yang menimpa kami saat ini. Dan akhirnya aku pun berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Mas … kamu inget nggak tahun lalu kita liburan ke puncak? Persis pas tahun baru. Kita makan jagung bakar malem-malem, beli bakso, renang sama anak-anak di villa …” 

Dia menoleh heran, kumis tipisnya yang rapi sedikit bergetar karena tak percaya.

“Maksudnya apa kamu ngomong gitu? Kamu mau kita ngerencanain liburan sekarang di tengah kondisi yang lagi kayak gini? Atau … kamu nggak suka kalo aku ngomongin Ahmad terus?” tanyanya dengan nada mulai sinis.

“Bukan Mas, maksudku …” aku menghela nafas. “Aku tau kamu lagi berduka sekarang, dan kita semua juga berduka. Semuanya ngerasa kehilangan Ahmad. Tapi bisa nggak kayak … sehari atau dua hari aja kamu stop ngomongin masalah ini, masalah kasus kecelakaan itu lebih tepatnya.”

“Kenapa emangnya?”

“Jujur beberapa hari ini aku udah ngerasa berat banget. Menurutku ada cara-cara yang lain buat kita ngenang Ahmad, dan bukan kayak gini. Ngomongin soal kasus ini nggak bikin Ahmad balik lagi, dan mungkin dia juga nggak mau kamu terus-terusan kepikiran.”

“Jadi menurutmu ada hal lain yang harus aku pikirin ketimbang masalah yang bikin keluargaku jadi bahan olok-olokan satu negara ini?” Mas Iwan mulai menggertakku.

“Ada … anak-anakmu.”

Ia lalu bergeming, agaknya mulai memikirkan kata-kataku barusan.

“Kamu masih punya Irma, Evan, Bimo … yang harus kita rawat sampai mereka besar nanti. Kamu juga harus mikirin kondisi dan perasaan mereka Mas … kalo kamu cuma terus menerus fokus sama kasus Ahmad, semuanya bisa jadi terbengkalai.” kataku dengan nafas yang mulai tersengal-sengal karena menahan semuanya agar tidak meledak.

“Aku tau itu … tapi aku nggak bisa tenang, aku nggak bisa diem gitu aja. Kamu nggak liat kemarin? Nggak ada orang-orang yang mau nganterin jenazah Ahmad ke kuburan. Temen-temennya, tetangga, bahkan beberapa sodara kita yang rumahnya deket aja nggak keliatan di kuburan kemarin … malu aku! Malu! dan coba kamu bayangin, hal ini bisa aja kejadian sama keluarga kecil kita kalo fakta yang sebenernya nggak terungkap!” Mas Iwan mulai berdiri dari duduknya dan menaikkan nada bicara.

“Nggak gitu Mas … kita kemaleman, nggak semua orang bisa dan mau dateng ke pemakaman tengah malem. Kalo kemaren kita mau nunggu nguburinnya sampe pagi mungkin banyak orang yang bakal dateng.” tegasku yang juga tak mau kalah.

“Halah! Mereka itu jelas-jelas ngucilin keluarga kita! Mbak Nur tadi nelpon, dan kamu tau dia bilang apa? Dia bilang cuma ada tiga orang yang dateng ke pengajian Ahmad tadi … tiga orang dari segitu banyaknya manusia di kampung!” ia mulai maju ke arahku, kami berdua berargumen dan hanya berjarak sejauh enam puluh sentimeter, namun dialog itu sebenarnya membuatku merasakan ada jarak yang lebih jauh di antara kami berdua. “Kamu liat di koran? Berita-berita dari wartawan itu nulisin kalo kita … sebagai keluarga tersangka, berusaha buat nggak ngakuin semua kesalahan Ahmad yang udah bikin banyak orang mati di kereta itu … dan kamu tau apa? Aku sebagai kakaknya Ahmad dan kepala keluarga ngerasa sakit hati ngebaca itu semua.”

“Kamu sendiri kan yang bentak-bentak mereka kemarin!” ujarku geram. “Kamu nggak pernah begini sebelumnya, kamu jadi gampang emosian sekarang!”

“Ya! Aku emang bentak-bentak mereka kemarin … karena apa? Karena aku nggak ikhlas ngeliat kamu didorong-dorong sama mereka cuma buat nyari informasi dari kita, cuma demi kita ngomong sepatah dua patah kata!” balasnya dengan nada bicara yang kini mulai sedikit diturunkan. Wajah Mas Iwan yang tadinya agak memerah kini mulai menunjukkan raut iba. “Menurutmu itu sepadan? Kalo kita dicap sebagai keluarga teroris terus-terusan … selamanya mungkin! Adikku lho itu, mereka bilang dia teroris, menurutmu aku bakal terima? Dan sekarang keluarga kita …” 

Mata Mas Iwan berkaca-kaca menahan air mata agar tidak jatuh membasahi pipinya. Aku hanya bisa menggigit lidahku agar tidak mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan menyakiti perasaannya. Nafas kami berdua terdengar kencang, dan untungnya Bimo tidak terbangun sedikitpun karena pembicaraan ini.

“Aku tau kamu pasti nggak terima. Tapi aku tanya … seberapa yakin emangnya … kamu … kalo Ahmad nggak bersalah?” tanyaku pelan dengan nada yang gemetaran.

“Aku yakin … aku kenal dia. Walaupun banyak orang yang ragu, aku tetep yakin,” jawabnya lirih. “Maafin aku … aku cuma mau semuanya jelas. Aku masih nggak bisa nerima ini semua.” kini ia bersimpuh dengan lututnya, aku segera merunduk untuk memeluknya. Air mata kami bercucuran membasahi pipi namun tak ada kata-kata yang keluar untuk mendeskripsikan suasana atau perasaan kami saat itu.

Tiba-tiba bunyi keras dari kaca pecah membuat kami berdua terlonjak, suara tersebut berasal dari kamar anak-anak, dan saking kencangnya sampai membangunkan Bimo yang seketika langsung menangis. Kami berdua segera mengusap air mata dan keluar dari kamar, sambil kugendong Bimo dengan terburu-buru, dari luar kamar jeritan tangis Evan sudah terdengar cukup kencang hingga Mas Iwan membuka pintu kamar mereka. Irma dan Evan masih terduduk di kasurnya masing-masing dalam keadaan syok berat, sementara pecahan-pecahan kaca berhamburan di lantai, dan di bagian tengah jendela tertinggal sebuah lubang besar seperti habis dihantam benda keras dengan kecepatan tinggi. Aku pun melirik ke segala arah dengan khawatir, memastikan tidak ada orang lain di kamar itu selain kami berlima, dan Mas Iwan segera menyadari ada sebuah benda berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa yang melubangi kaca jendela kamar, terbungkus kertas putih yang kumal, ia pun mengambil benda tersebut yang isinya ternyata sebuah batu bulat berwarna abu-abu yang cukup besar, dan yang membuat kami tercengang adalah sebuah kalimat pada kertas yang membungkus batu tersebut bertuliskan:

Lihat selengkapnya