Serangan dari wanita tua itu sejauh ini adalah hal yang paling buruk, ia hampir saja mencelakai Hesti dan Bimo kalau saja aku terlambat sampai ke rumah. Tak kusangka kalau respon dari keluarga korban bisa seberani ini, kupikir mereka hanya bisa melontarkan hujatan-hujatan serta sumpah serapah saat diwawancarai di media, atau paling ekstrim melakukan tindakan pengrusakan ke rumahku seperti yang sudah-sudah. Tapi itu semua bukan masalah utamanya, melainkan siapa orang yang menyebarkan alamat rumah kami kepada keluarga korban yang lain?. Di saat seperti ini rasanya aku jadi lebih menyukai sikap para wartawan yang sebelumnya sering berkumpul di depan rumahku, meskipun mereka seringnya melontarkan pertanyaan dan sesekali kata-kata yang menyakitkan, setidaknya mereka tidak pernah menyerang keluargaku secara fisik dengan sengaja.
Siang itu memang sangat sial, terjadi keributan antara aku dan si wanita tua, dan tak berselang lama ternyata ada juga keluarga korban lainnya yang datang, mereka sengaja datang ke rumahku dengan dalih bertemu dan bersilaturahmi secara damai, padahal nyatanya mereka kemari untuk melampiaskan kekesalannya akibat berita yang selama ini mereka tonton di televisi atau baca di koran. Media sialan itu memang memberitakan keluarga kami dengan buruk, sengaja menyudutkan kami yang tidak bersalah agar bisa jadi kambing hitam hidup di balik peristiwa ini, dan juga membingkai seolah kami lah yang harus bertanggungjawab atas kerugian materiil maupun immateriil. Padahal sudah kutegaskan berkali-kali bahwa kami bukan keluarga teroris, begitu pula adikku, yang selama ini dijadikan tersangka dengan bukti yang menurutku tidak begitu kuat dan kucurigai palsu, aku pun sedang berusaha mencari cara untuk membuktikan itu semua. Dan yang lebih parahnya lagi serangan ini terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya.
Setelah kejadian itu, sering kali pada malam hari atap rumah kami dilempari dengan kerikil, sehingga menimbulkan suara bising saat kami tengah beristirahat. Atau pernah dua kali rumah kami dilempari telur busuk dan bangkai tikus, hal ini cukup membuat Hesti kerepotan karena harus menghilangkan aroma busuk dari sisa-sisa benda tersebut. Keluargaku, khususnya diriku sendiri begitu kesal pada keluarga korban, bukan bermaksud tak punya hati kepada mereka, tapi kan keluargaku juga korban, adikku juga tewas di dalam kereta itu. Dan sekarang sumber masalahnya adalah mereka sendiri, sesaat setelah serangan wanita tua itu, muncul berita di koran yang menyatakan bahwa keluarga kami telah berlaku agresif kepada para keluarga korban yang berkunjung untuk meminta pertanggungjawaban. Logikanya, bagaimana aku bisa menjaga sikap ketika melihat mereka berusaha menyerang anggota keluargaku ataupun merusak rumah yang kami tinggali sekarang. Berita ini diliput di berbagai media cetak dari berbagai narasumber yang katanya merupakan keluarga korban yang mendatangi rumahku siang itu.
Aku heran, padahal tak ada satupun wartawan yang datang pada saat kejadian berlangsung, apakah orang-orang ini sengaja membuat imej keluargaku buruk dengan mendatangi kantor media dan melaporkan kejadian tersebut agar ada berita hangat yang bisa ditulis untuk kolom utama koran esok hari?. Atau yang lebih parahnya lagi, apakah mereka sebenarnya dibayar oleh kantor media tersebut? Dugaanku, bisa jadi mereka sebenarnya bukan merupakan keluarga korban dan hanya berpura-pura bertingkah begitu untuk mengetahui reaksi keluargaku. Sejujurnya aku tak mau ambil pusing untuk berita-berita yang bermunculan di koran, namun yang tak bisa kuhindari adalah sikap orang-orang di kantor yang setiap harinya mengkonsumsi bacaan-bacaan dari koran tersebut. Sikap mereka semakin menyebalkan dengan caranya mengucilkanku atau bahkan tidak mau menegur sapa sedikitpun saat meeting kantor berlangsung, seperti kehadiranku dibuat tidak ada, dan aku tidak dilibatkan dalam urusan bisnis di kantor ini.
Aku juga heran dengan sikap Mas Bagus dan keluargaku yang lain di kampung, mereka sama sekali tak mencurigai kasus ini, seolah-olah kematian Ahmad adalah hal yang natural, dan mereka menerima mentah-mentah tuduhan dari berbagai media bahwa salah seorang anggota keluarganya merupakan teroris paling kejam di Indonesia selama satu dekade ini. Terbukti saat kemarin jenazah Ahmad sampai, tak satupun dari mereka membuka topik pembicaraan denganku terkait keraguannya tentang bom bunuh diri yang dilakukan Ahmad, maksudku, ayolah, sejak kapan Ahmad menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, apalagi mengarah ke paham radikal dan terorisme. Atau mungkin perkataan Hesti ada benarnya, mereka terlalu sibuk dirundung duka yang mendalam sehingga buta akan fakta yang terpampang nyata. Mungkin sekarang hanya akulah satu-satunya yang mengendus aroma busuk dari kejanggalan kasus ini, dan akan kubuktikan bahwa adikku tak bersalah.
Setelah beberapa kejadian buruk yang menimpa keluargaku di rumah ini, pemilik properti menelpon, ia agaknya mengkhawatirkan kondisi rumah yang disewakan karena terus menerus diserang oleh orang-orang anonim, sepertinya beberapa tetangga melapor kepadanya. Dan karena laporan-laporan tersebut, ia menjadi takut akan terjadi kerusakan yang parah pada rumah ini jika terus dibiarkan. Dan karena tidak menemukan titik tengah dari permasalahan ini, ia memutuskan untuk memberhentikan sewa rumahnya akhir bulan, yang berarti mau tak mau kami sekeluarga harus pindah rumah secepatnya. Bagiku ini adalah pengalaman terburuk selama awal tahun, padahal belum ada satu bulan sejak pergantian tahun, yang mana aku mengharapkan nasib yang lebih baik di tahun ini setelah ditimpa musibah di penghujung tahun lalu, nyatanya malah kami harus angkat kaki dari rumah yang begitu nyaman dan tenang secara terpaksa.
Kalau saja bisa menunggu beberapa minggu lagi pasti kami bisa langsung menempati rumah baru kami di Tangerang, namun sayangnya rumah tersebut masih dalam tahap pembangunan, dan Mas Bagus sudah bilang bahwa ia akan menyelesaikannya sesegera mungkin. Akhirnya kami memutuskan pindah ke sebuah kontrakan petak di pemukiman padat tengah kota demi menghemat biaya dan menghindari serangan para anonim, yang mana hal ini menjadi sebuah kesulitan baru bagi kami. Kami harus beradaptasi dengan lingkungan yang minim privasi, menata ulang barang-barang yang begitu banyak sehingga semua bagian rumah terasa seperti gudang dan menyisakan sedikit ruang untuk kami bergerak. Selain itu aku harus mencari tempat parkir untuk mobilku karena benda tersebut tak bisa diparkirkan begitu saja di depan jalanan rumah yang hanya berbentuk gang kecil selebar satu meter, persis seperti lingkungan tempat tinggal Mas Bagus yang begitu miris.
Lingkungan di sini begitu padat dan bising, orang-orang berkumpul, mondar-mandir, dan beraktifitas di rumah-rumah yang dindingnya saling menempel satu sama lain, membuat rasa sesak dan tidak nyaman terus menerus melanda kami yang sebelumnya tinggal di lingkungan yang lebih baik. Tapi positifnya, tak ada tetangga yang menggubris kehadiran kami sebagai ancaman, meskipun para tetangga sebelumnya juga hidup secara lebih individualis dan agak tak acuh, namun tetap saja beberapa tetangga serasa mengucilkan kami, agak berbeda dengan penduduk di sini yang cenderung sangat ramah dan baik, mudah bergaul, dan miskin, sehingga tak banyak yang menonton televisi untuk mendengarkan berita-berita bodoh mengenai keluargaku yang kadang-kadang masih disiarkan. Namun beberapa dari mereka masih ada yang suka membaca koran, dan sempat menanyakan perihal kejadian tersebut kepadaku secara langsung, dan karena penasaran juga, aku pun menanyakan pendapat mereka terkait kehadiranku di lingkungan ini. Lalu yang membuatku terkejut adalah responnya yang seolah tak peduli, katanya di tempat seperti ini orang-orang memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang pernah keluar masuk penjara karena ketahuan mencuri, lalu ada yang suaminya preman di pasar, tukang mabuk dan judi, orang alim, hingga tukang gali kubur, semua tak jadi masalah dan mereka biasa hidup berdampingan, selama tak ada yang mengganggu dan merugikan satu sama lain, tujuannya sama, mereka hanya ingin bertahan hidup.
Karena perundungan yang dialami Evan dan Irma tak kunjung usai, aku dan Hesti akhirnya mendatangi sekolah bersama sebelum pindah rumah, mempertanyakan nasib anak-anak kami yang terus mendapatkan intimidasi dari beberapa teman mereka. Saat pertemuan dengan beberapa guru dan kepala sekolah itu berlangsung di ruangan kepala sekolah, Evan akhirnya mengaku bahwa ia kerap dipukuli oleh beberapa teman yang membencinya karena menyaksikan siaran berita di televisi, mereka memanggil Evan teroris kecil, menyanyikan lagu “naik kereta api” yang diparodikan dengan lirik tak pantas yang menjurus kepada bom bunuh diri di kereta Jakarta-Semarang Desember kemarin. Ya benar, mereka sebagai anak-anak menyaksikan berita negatif tentang keluarga kami, dan akhirnya Evan dijadikan bahan pelampiasan, hingga mengalami kekerasaan fisik, dimana ia dipaksa berdiri diam dan dijadikan target untuk permainan tinju kawan-kawannya, sehingga timbul luka lebam di bahu kanan dan kirinya. Evan tak berani melawan, jelas karena kalah jumlah dan takut akan ancaman lain yang bisa ia terima sewaktu-waktu saat kembali ke sekolah, bahkan Evan masih tak berani mengungkap nama-nama mereka di ruangan itu.
Begitu pula Irma, ia akhirnya bercerita bahwa beberapa orang temannya yang nakal telah mengambil buku-buku dari tasnya sewaktu dirinya pergi ke toilet dan menyembunyikannya entah dimana. Sementara beberapa buku yang masih tergeletak di meja disobek tanpa sepengetahuan gurunya. Beberapa anak lainnya juga kerap memanggilnya dengan berbagai ejekan, salah satu yang paling sering adalah mengejek Irma dengan kata-kata AWAS MELEDAK saat Irma berjalan melintasi mereka. Hal ini yang menyebabkan Irma merasa dikucilkan oleh teman-temannya yang lain. Tak kusangka dampak sebesar ini akan dirasakan oleh anak-anakku, entah siapa yang harus kusalahkan sekarang, dan yang paling membuatku tak henti menggelengkan kepala adalah mengapa anak-anak zaman sekarang bisa bertindak sekejam itu kepada sesamanya.
Dikarenakan sekolah sudah tidak bisa menjamin adanya perundungan kepada Irma maupun Evan, kami memutuskan untuk memberhentikan mereka sementara sampai tahun ajaran baru dimulai demi keamanan dan kenyamanan belajar mereka, mungkin kami juga berencana untuk memindahkan keduanya ke sekolah baru mumpung mereka masih berada di tahun-tahun pertama sekolah. Hal ini kuputuskan karena pihak sekolah tidak bisa menjamin untuk mencegah perundungan terjadi secara seratus persen, karena mereka memiliki banyak sekali murid dan berdalih tak dapat memantau situasi mereka semua secara eksklusif satu persatu. Bagiku ini adalah bukti nyata ketidakmampuan sekaligus ketidakmauan mereka untuk bertindak di jalan yang benar. Yang makin membuatku muak, rasanya sama seperti kejadian penyerangan oleh wanita tua saat itu, perundungan yang dialami oleh Irma dan Evan saat ini seolah jadi sanksi sosial kepada keluarga kami atas segala peristiwa yang telah terjadi.
Setelah kami pindah, Evan dan Irma hanya belajar di rumah dan sesekali masih menghadiri les renang, Hesti mengajari mereka beberapa pelajaran agar keduanya punya kegiatan di rumah yang sempit tersebut, sementara Bimo sekarang sudah bisa bicara sedikit demi sedikit dan mengikuti beberapa kata yang diucapkan oleh kedua kakaknya. Mereka bertiga sering bermain bersama di rumah saat Hesti keluar untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasaknya malam hari. Meskipun tetangga-tetangga di lingkungan multikultural ini terlihat lebih baik ketimbang di rumah kami sebelumnya, aku tetap berjaga-jaga dan mengatakan kepada anak-anak bahwa mereka tidak boleh menerima tamu ketika tidak ada orang tua di rumah, bahkan kami melarang mereka untuk keluar rumah tanpa sepenglihatan kami, karena aku masih takut hal-hal buruk akan terjadi kepada keluarga kecilku, sehingga kalau dipikir-pikir rasanya cukup iba melihat mereka hanya mendekam di rumah seharian tanpa punya teman lain selain anggota keluarganya. Namun lagi-lagi semua ini demi kebaikan mereka semua.
Malam itu sepulang kerja, kami makan bersama di ruang depan yang hanya berukuran 2x3 meter dan berdinding hijau muda yang sudah memudar. Hesti memasak ayam goreng dan sayur asem kesukaan Evan, dan aku membawa pulang sebungkus martabak telur sebagai hadiah atas keberhasilan mereka menjalani hari-hari yang berat belakangan ini. Kami makan dengan begitu lahap sambil duduk lesehan, menikmati momen kebersamaan yang begitu intim dan sederhana ini, ditemani suara knalpot motor yang setiap beberapa menit sekali mondar mandir di depan kontrakan kami. Dan saat tengah mengunyah nasi, aku menatap Bimo yang tengah dipangku oleh Irma agar Hesti bisa menyuapinya dengan mudah, membayangkan bagaimana ia tumbuh besar nanti, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, dan tentunya tidak akan pernah kehilangan sosok orang tua dan kakak-kakak yang selalu menjaganya.
Di tiga suapan terakhirku Evan bertanya dengan penuh semangat.
“Pa, dulu waktu Papa kecil, nenek suka masak apa kalo malem?” katanya sambil menggigiti ujung tulang paha yang lunak dan berisi cairan sumsum berwarna kecoklatan, lalu menghisapnya.
Aku terdiam sejenak sambil mengingat-ingat kembali masa kecilku.
“Ya … tergantung, kadang cuma nasi sama garem. Kadang sesekali makan enak juga pakai telur dadar.” jawabku dengan senyum tipis.
“Hah? Nasi sama garem doang? Emangnya enak Pa?” tanya Irma yang kaget mendengar perkataanku, sementara Bimo membalas dengan ocehan yang tak begitu jelas dipangkuannya.
“Dulu Papa nggak bisa pilih-pilih makanan kayak kalian. Keluarga Papa kan nggak punya uang banyak, jadinya apa-apa harus hemat … termasuk makan. Nenek aja kalo masak telur dadar bisa seminggu sekali,” terangku singkat. “Kalo nenek lagi masak telur dadar buat makan malem, Papa seneng banget. Itu satu telur dadar yang masih panas langsung dipotong jadi delapan, buat kakek, nenek, Pakde Bagus, Budhe Nur, Papa, Tante Marni, sama Paman Ahmad. Terus kami makan bareng di depan rumah sambil liat langit, soalnya di kampung kalo malem bintangnya masih keliatan … baguuus banget.”
“Dibagi delapan? Kecil banget dong dapetnya?” kata Evan yang kini meletakkan piringnya di lantai. “Emang kalo dibagi delapan jadi semana?”
“Segini …” aku memperagakan betapa kecil bagian telur yang kudapat waktu itu dengan jari telunjuk dan jempolku.
“Emangnya makan segitu kenyang Pa?” sahut Irma.
“Hmmm … kalo Papa inget, kenyang sih. Ya kenyang gak kenyang, waktu itu yang penting kami sekeluarga masih bisa makan aja udah cukup.” jawabku disusul senyuman kepada mereka.
“Nah makannya … kalian harus bersyukur. Kalian masih bisa minta ke Mama buat dimasakin apa aja buat makan. Dan kalian gak harus makan nasi sama garem kayak Papa dulu.” kata Hesti setelahnya sambil menyuapi kembali Bimo yang sekarang mulai menolak untuk makan karena kenyang.
“Dan yang terpenting, masakan Mama itu enak banget. Iya nggak?” tanyaku kepada Irma dan Evan yang masih antusias. Semuanya mengiyakan dengan semangat setelahnya.
Semua lauk dan nasi sudah habis tak tersisa dari piring-piring yang dijajarkan di depan kami. Aku meneguk air putih dan berusaha meraih Bimo untuk menggendongnya. Evan dan Irma masih memakan sisa-sisa daging ayam yang melekat pada tulang sayap yang digoreng garing sampai kecoklatan.
“Kalo Mama gimana? Dulu seringnya makan pake apa pas masih kecil?” tanya Irma sambil menatapnya dengan penasaran.
Hesti terdiam ketika pertanyaan itu sampai kepadanya. Rasanya ia tengah memikirkan sesuatu yang sulit yang tak ingin ia ingat-ingat lagi dari masa lalunya.
“Hmmm … Mama ya? … mungkin nggak separah Papa sih. Sebenernya …” suara Hesti kini mulai terdengar ragu-ragu. “Dulu Mama tinggal di panti asuhan, jadinya ada orang dapur yang masak buat makan anak-anak tiap hari. Dan … ya macem-macem sih lauknya, kadang tempe, kentang, sayur, dan mungkin sebulan sekali bisa daging atau ayam, enak-enak sih makanannya,” jawab Hesti dengan perlahan. “Itu sih yang Mama inget.”
“Panti asuhan?” gumam Irma yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Mama emangnya dulu nggak pernah dimasakin nenek sebelum tinggal di panti asuhan?” lanjut Evan yang kini tiba-tiba berhenti memakan sayap ayamnya dengan raut wajah terkejut sekaligus kasihan.
“Hmmm… Nggak,” jawab Hesti singkat. Suara motor melintas membuat semuanya terdiam sejenak. “Mama dari lahir udah di panti asuhan. Mama nggak pernah ketemu sama nenek atau kakek sama sekali, jadi Mama nggak tau mereka kayak gimana, atau rumah mereka dimana, atau … mereka masih ada atau nggak sekarang, Mama juga nggak tau.”
Hesti tiba-tiba tersenyum kepada Evan dan Irma yang kini sama-sama terdiam. Baru kali ini Hesti bercerita soal keluarganya setelah sekian lama memendamnya hanya untukku. Mengenai hal-hal ini Evan dan Irma sama-sama tidak mengetahuinya, itu yang menyebabkan betapa terkejutnya mereka ketika Mamanya mengatakan hal yang selama ini tak pernah dikatakan olehnya. Tapi bagiku, melihat senyum palsu yang tengah dipasang oleh Hesti sekarang justru membuatku lega, karena ia tak harus menyembunyikan beban itu lebih lama dari anak-anaknya dan ia sudah berani berkata jujur kepada mereka dan kepada dirinya sendiri.
“Jadi, kita sebenernya nggak punya sodara di Sulawesi?” Irma kembali menyambungkan pertanyaannya.
“Ada kok, yang di sana itu temen-temen Mama dari panti asuhan. Mereka udah Mama anggep kayak sodara sendiri. Tapi ya … Mama nggak punya adik atau kakak kandung kayak keluarga Papa,” kata Hesti. “Tapi yang penting kan Mama punya kalian di sini.”
Aku segera merangkul pundak Hesti yang berada di samping kananku dengan erat. Ia menoleh dan Bimo memeluknya seolah memberi simpati juga kepada Mamanya.