Yang kuingat waktu itu adalah hari minggu, dimana beberapa hari sebelumnya Papa sudah menjanjikan kepada kami untuk pergi ke sebuah restoran untuk makan siang dan menghabiskan waktu bersama setelah berbagai masalah menyita kebebasan kami untuk pergi ke luar rumah selama hampir dua bulan, bahkan agenda ke mall yang dijanjikannya kepada kami pun tertunda selama berminggu-minggu. Pagi itu hujan lumayan deras sehingga udara dingin cukup terasa sampai ke ruang tengah kontrakan petak kami yang begitu sempit dan penuh dengan tumpukan kardus yang berisi barang-barang yang tidak dikeluarkan sejak kami pindah ke tempat ini. Aku jadi orang terakhir yang terbangun di antara yang lainnya pada pukul 9 pagi, dan setelah mengulet serta beranjak dari kasur, kudapati Mama sedang memasak di ruang belakang yang sekaligus menjadi dapur kecil dengan pintu kamar mandi yang menempel langsung dengan sisi kanan ujung kompor yang tengah digunakannya, sementara kak Irma di ruang depan sedang mengajak Bimo bermain bola bekel berwarna merah jambu yang dipantulkan berkali-kali layaknya sedang bermain dengan anak kucing yang begitu aktif. Kemudian aku mondar-mandir ke ruang depan, tengah, dan belakang, lalu mengecek kamar mandi, dan mencari keberadaan Papa yang tak bisa kulihat pagi itu.
“Papa kemana Ma?” tanyaku dengan nafas yang masih beraroma asam lambung menyengat karena belum meneguk segelas teh manis hangat yang biasa disiapkan Mama setiap pagi di ruang depan.
“Papa pergi ke Cianjur sama Pakde Bagus tadi pagi.” jawab Mama tanpa menoleh sedikitpun ke arahku karena sibuk mengiris bawang di atas meja kayu di samping kompor.
“Ke Cianjur? Ngapain?”
“Urusan orang dewasa, anak kecil nggak usah tau.”
“Terus hari ini kita jadi pergi makan?”
“Kayaknya nggak jadi deh, Papa nggak bisa ikut soalnya pulangnya malem.” kata Mama santai dan masih tidak menoleh ke arahku.
Kekecewaan segera menghampiriku saat itu, diiringi dengan aroma cabai dan bawang-bawangan dari sambal yang tengah digoreng oleh Mama yang memenuhi seisi rumah kontrakan kami tanpa basa-basi. Wangi pedasnya menusuk ke hidungku hingga membuat mataku berair, namun aku tidak yakin apakah air mata itu hadir karena aroma pedas cabai atau malah rasa kecewa karena hari ini kami sekeluarga batal pergi bersama. Untuk meredam itu semua, aku segera beranjak ke ruang depan, memeluk punggung Bimo yang tengah berlarian mengelilingi kak Irma di tengah, dan mengusapkan air mataku ke kaosnya yang juga sedikit basah karena keringat. Bimo tertawa-tawa karena mengira aku sedang menggelitikinya dari belakang, padahal ia tak pernah tahu bahwa kakak laki-lakinya tengah menutupi kesedihan yang baru saja dialaminya sejak bangun tidur beberapa menit yang lalu.
***
Siangnya kami pergi untuk mengantar Kak Irma ke rumah Kak Sekar, salah satu sahabatnya yang tinggal di dekat rumah lama kami. Rumah tersebut hanya beda beberapa gang namun tetap saja jadi lebih jauh dari rumah kontrakan kami sekarang. Kami pergi dengan menaiki angkot, transit sekitar dua kali, dan menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit di tengah hujan yang sudah mulai agak reda. Mama menggendong Bimo sambil memegang payung, sementara Kak Irma dan aku mengenakan jas hujan dan sepatu boot anti air berwarna biru tua dengan alas berwarna merah.
Sampai di depan rumahnya kami disambut oleh kedua orang tua kak Sekar, di sana juga sudah ada Kak Nabila, dan Kak Ayu, mereka berdua merupakan sahabat Kak Irma yang tinggal tak jauh dari sini. Mereka tadinya biasa bermain bersama di area pemukiman, kadang di sekitar taman, ataupun di jalanan depan rumah warga yang tak terlalu ramai saat sore hari. Biasanya aku juga suka ikut bermain bersama mereka, namun akhir-akhir ini sepertinya hal tersebut menjadi begitu mustahil dilakukan. Mereka sangat menyesali pindahnya kami secara mendadak sehingga menyulitkan Kak Irma untuk bermain bersama lagi. Sebenarnya aku juga merindukan beberapa teman komplekku, Iqbal, Yusuf, dan Panji, sudah lama aku tak bertemu dengan mereka, dan ingin rasanya bermain bersama lagi seperti Kak Irma dan sahabat-sahabatnya sekarang. Namun aku berpikir lebih baik tetap tinggal di rumah, karena hari ini Mama pasti akan meminta tolong kepadaku untuk menjaga Bimo.
Aku, Mama, dan Bimo mampir sebentar, sementara Kak Irma lanjut ke kamar Kak Sekar bersama Kak Ayu dan Kak Nabila. Ibunya Kak Sekar menyuguhi kami dengan secangkir teh manis hangat dan juga biskuit kelapa yang gurih dan lezat. Setelah seperempat jam mengobrol, Mama basa basi sebentar dan memutuskan untuk pamit, kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah kami, sementara Kak Irma akan tetap di sana sampai malam hari hingga dijemput oleh Papa. Sepertinya Kak Irma akan menikmati waktu bersama sahabat-sahabatnya, karena sejak peristiwa naas yang melibatkan Paman Ahmad, mereka jadi tidak bisa bermain bersama lagi, ditambah lagi mereka berempat sama-sama bersekolah di tempat yang berbeda, oleh karena itu mereka tak bisa bertemu setiap hari.
Selama perjalanan pulang, hujan tak kunjung reda, kakiku beberapa kali menginjak genangan air dan mencipratkannya ke sekeliling, Mama tak marah melihatnya, ia hanya berjalan santai di belakangku sambil menggendong Bimo yang tangannya berusaha meraih-raih tetesan hujan yang terus berjatuhan dari ujung payung yang dipegangi Mama. Kami berhenti di sebuah warung nasi Padang, Mama memesan rendang dan ayam bakar untuk dimakan bersama siang itu, kami akhirnya hanya makan bertiga tanpa Papa dan Kak Irma. Seharusnya ini jadi hari dimana kami sekeluarga bisa makan bersama, dan kemudian kami sekeluarga mengantar Kak Irma untuk bermain di rumah Kak Sekar, lalu Papa akan mengajakku ke mall untuk membeli mainan mobil-mobilan yang sudah ia janjikan sejak akhir semester lalu. Semua sirna begitu saja, ekspektasiku tak pernah terwujud, dan Kak Irma pun ogah makan bersama kami waktu berangkat karena ketidakhadiran Papa yang begitu mengecewakannya, oleh karena itu Mama memutuskan untuk makan sepulang mengantar Kak Irma, dan hariku rasanya berakhir di sini, di sebuah warung Padang sederhana di pinggir jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan di tengah derasnya hujan.
***
Azan isya sudah berkumandang satu jam yang lalu dengan keras dari masjid yang berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah kontrakan kami, saat itu Mama terlihat begitu khawatir karena Kak Irma dan Papa belum kunjung pulang, padahal kami bertiga sudah selesai makan malam dengan tahu goreng dan sambal yang dimasak Mama tadi pagi. Dirinya bahkan juga tidak mengetahui apakah Kak Irma sudah dijemput atau belum oleh Papa. Dalam situasi yang cukup mengkhawatirkan, sayangnya telepon rumah kami tidak aktif karena Papa tak mau mengurus pemasangan kabel telepon ke rumah yang hanya akan kami tinggali untuk sementara, dan ia baru akan mengurusnya ketika kami sudah pindah ke rumah kami di Tangerang. Sementara baik Papa maupun Mama tidak ada yang memiliki telepon genggam sama sekali untuk berkomunikasi.
Karena sudah terlalu larut, Mama memutuskan untuk menjemput Kak Irma seorang diri dan meninggalkanku bersama Bimo di rumah kontrakan. Ia mengunci pintu dari luar agar aku tak bisa membuka pintu dan pergi kemana-mana, atau yang terburuk berpikir untuk menyusulnya ke sana. Kami pun hanya duduk di atas ranjang berdua dan saling tatap satu sama lain. Selama lima belas menit setelahnya seringnya Bimo mengoceh kepadaku dan terus menanyakan Papa dan Mama, aku cuma bisa bilang kepadanya untuk sabar menunggu. Aneh sekali rasanya ketika tahu bahwa Papa belum pulang sampai jam segini, karena biasanya di hari kerja pun ia sudah berada di rumah sehabis maghrib.
Setengah jam berlalu dan Bimo mulai rewel, ia menangis dan berguling-guling karena tak kunjung mendapati kehadiran Mama di sisinya, ditambah lagi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan petir menggelegar silih berganti, membuat Bimo kecil ketakutan ketika gunturnya bergemuruh dengan begitu keras, aku hanya bisa memeluknya dan mengelus rambut jagungnya agar ia lebih tenang. Kekhawatiranku mereda saat Bimo yang kelelahan mulai tertidur pulas di sampingku, dan kini aku benar-benar merasa sendirian di dalam rumah. Aku pun berbaring di kasur dan menatap langit-langit dengan plafon yang di beberapa bagiannya terlihat berjamur berwarna kehitaman, rasanya pikiranku kosong, namun beberapa menit sekali aku memikirkan Papa, Mama, dan Kak Irma yang tak ada di rumah, apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan, dan dimana mereka sekarang.
Akhirnya Mama dan Kak Irma pulang setelah hampir dua jam meninggalkan aku dan Bimo, mereka hanya berdua tanpa Papa, dengan baju yang basah kuyup karena Mama tak membawa payung saat itu. Wajah Mama begitu lelah dan kesal, namun aku tak tahu kenapa, mungkin saja karena seharusnya Papa lah yang menjemput Kak Irma sekarang, dan malahan sampai saat ini Mama tak bisa mendapatkan kabar darinya sedikitpun. Aku tahu bahwa Mama benar-benar khawatir saat ini, karena ia tak henti-hentinya mondar-mandir di ruang depan setelah mandi dan berganti pakaian, ia terus menunggu kepulangan Papa dan tak mau beranjak ke ruang tengah untuk tidur. Dan benar saja, sampai besok pagi pun Papa tak kunjung pulang.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 10, hari sudah berganti dari pagi ke siang, sedari pagi banyak sekali motor bersuara bising yang lalu lalang di depan rumah kami, karena hari ini adalah hari Senin, dimana orang-orang mulai berangkat bekerja di hari pertama dalam satu minggu, dan juga jalanan depan rumah kami merupakan jalan tikus yang sering dilalui orang-orang untuk menghindari kemacetan di jalan utama. Pintu kami diketuk pada pukul 10.10, dan Mama bergegas membukanya. Benar saja, sosok yang berdiri di depan pintu adalah Papa. Ia memasang senyum yang agak memaksa antara takut, bahagia, dan didominasi oleh rasa bersalah.
“Evan, Irma, tunggu di depan sebentar!” perintah Mama ketika memandangi wajah Papa dengan ekspresi marah yang tak bisa disembunyikan.
Aku dan Kak Irma akhirnya keluar dari ruang depan, lalu menunggu di teras yang hampir tidak punya ruang untuk duduk karena diisi oleh tiang jemuran lipat yang menggantung pakaian basah kami yang baru saja dicuci oleh Mama tadi pagi dan sepedaku yang terparkir di sampingnya. Papa dan Mama masuk, lalu menutup pintu, mereka kedengarannya sedang berbicara di ruang belakang dekat kamar mandi, menjauhi kami sebisa mungkin agar topik pembicaraan mereka tak bisa kami dengar. Namun rasanya percuma saja, karena rumah itu begitu sempit sehingga pembicaraan di dalam tetap terdengar sampai keluar. Kak Irma memasang tampang lesu saat itu, tak merasa tertarik sedikitpun dengan pembicaraan Papa dan Mama akibat pengalaman buruknya semalam, ia pasti sudah menunggu selama berjam-jam sebelum akhirnya Mama datang dan mengajaknya pulang ke rumah, saking buruknya aku bahkan tak bisa melihat gigi taring kiri atasnya yang baru saja sedikit tumbuh dua hari lalu karena ia mengunci mulutnya untuk berbicara sejak kedatangan Papa.
Mama kedengarannya sangat kecewa dengan Papa, dari isi pembicaraan dan nada bicaranya Mama sepertinya mengungkit rasa muaknya akan obsesi Papa terkait masalah almarhum Paman Ahmad yang terus memberi dampak buruk ke keluarga ini. Ketidakhadirannya kemarin seolah membuktikan bahwa Papa masih belum bisa memprioritaskan keluarga kami, dan secara langsung mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Mama berkata dengan panjang lebar seperti apa seharusnya hari yang ideal kemarin, tentang makan bersama yang harusnya bisa menjadi momen kebersamaan kami, lalu janjinya untuk mengantar anak-anak pergi ke tempat yang mereka inginkan hari itu, dan ditutup dengan menjemput Kak Irma, yang mana akhirnya ia harus menunggu dengan khawatir tanpa adanya kepastian di rumah orang lain, dan Mama sangking cemasnya karena semalam Papa tak kunjung pulang sampai tak bisa tidur dan menunggu di ruang depan sampai azan subuh berkumandang. Papa tak berani mengeluarkan kata-kata sedikitpun saat itu, dan ini pertama kalinya aku mendengarkan Mama yang menaikkan nada bicaranya di depan Papa, meluapkan amarah dan rasa kecewanya secara blak-blakan, dan menyudutkan Papa.
Setelah hampir lima belas menit Mama berargumen tanpa henti diiringi oleh suara tangisan Bimo yang ketakutan, kini giliran Papa yang akhirnya buka suara untuk menjelaskan kepergiannya semalam. Pertama, ia meminta maaf atas semuanya kepada Mama dengan kecepatan bicara yang tidak wajar dan terbata-bata, lalu ia menerangkan betapa pentingnya untuk menyelesaikan masalah almarhum Paman Ahmad demi membersihkan nama baik keluarga kami. Semua itu dilakukan karena Papa memiliki bukti kuat untuk meyakinkan semuanya bahwa adiknya tidak bersalah dan tidak mungkin melakukan perbuatan keji tersebut, walaupun banyak yang meragukan intuisinya tersebut, namun ia seratus persen percaya karena ia lagi-lagi meyakinkan dengan dalih ia kenal Paman Ahmad lebih baik dari siapapun.
Selanjutnya Papa menceritakan bagaimana perjalanannya dengan Pakde Bagus kemarin ke Cianjur, tentang sulitnya perjalanan karena hujan yang sangat deras, lalu ia juga menjelaskan sebegitu sulitnya menemukan bekas rumah kontrakan yang dulu dihuni oleh almarhum Paman Ahmad karena orang-orang tak mau memberi mereka informasi mengenai lokasi pastinya, sampai akhirnya mereka dibantu oleh seorang juru parkir yang mereka beri uang sebagai sogokan. Dan ketika sudah sampai di rumah tersebut, mereka diusir oleh pemilik kontrakan yang tidak mau menerima mereka dengan baik, entah apa alasan pastinya mereka juga tidak diberitahu, hal ini semakin menambah kecurigaan Papa dan Pakde Bagus, seolah-olah ada yang tengah ditutup-tutupi oleh masyarakat sekitar. Papa menjelaskan kepada Mama bahwa bekas kontrakan tersebut masih disegel dengan garis polisi dan belum dimasuki sejak penggeledahan oleh aparat setelah peristiwa kereta maut Desember lalu. Papa benar-benar bersikeras ingin masuk ke tempat tersebut untuk mencari barang bukti lainnya, atau setidaknya menemukan sisa-sisa barang peninggalan adiknya yang bisa dibawanya pulang.
Cerita itu terdengar seru meskipun sesekali Papa terdengar agak berbisik agar tak ada yang mencuri-dengar kisah aktivitasnya yang terasa ilegal ini, namun aku dan Kak Irma tetap bisa mendengar semua detailnya meskipun sayup-sayup dari depan pintu. Papa dan Pakde Bagus juga berusaha untuk mencari informasi dari warga sekitar mengenai Paman Ahmad, namun mereka semua bungkam dan berusaha mengusir keduanya entah karena apa seolah mereka takut akan suatu hal buruk terjadi. Di saat ini lah Mama menyela cerita Papa, ia meyakinkan bahwa semua kegiatan yang Papa dan Pakde Bagus lakukan dan juga reaksi masyarakat itu terkesan normal, mengingat seberapa mengerikannya peristiwa yang menewaskan banyak orang tersebut dan tentunya mereka tidak mau berurusan dengan keluarga pelaku, ditambah keterangan dari kepolisian di media bahwa ada jaringan teroris yang masih berkeliaran dan diburu saat ini, membuat mereka berasumsi bahwa Papa dan Pakde Bagus terlibat di dalamnya dan sedang merekrut anggota.
Mama bilang bahwa tindakan Papa bukanlah aksi heroik, itu malah memperkeruh suasana dan pandangan masyarakat kepada keluarga kami, namun Papa tetap pada pendiriannya untuk melakukan semua secara mandiri agar kasus ini bisa menemukan keadilan, mengingat Sabtu malam di dapur, Papa sempat bercerita kepada Mama saat ia tengah membersihkan alat masak, bahwa laporan dan permohonan Papa dan Pakde Bagus ditolak mentah-mentah siang itu di kantor polisi. Dan puncak dari ceritanya sekaligus alasan di balik tidak pulangnya Papa ke rumah pada Minggu malam adalah saat ia dan Pakde Bagus sudah cukup lelah dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah tak berhasil masuk ke rumah kontrakan almarhum Paman Ahmad, mereka mendapati ban mobil sudah dalam keadaan bocor dengan sendirinya, ada beberapa bekas tusukan, yang berarti seseorang sengaja merusak ban tersebut agar Papa tidak bisa pulang, atau setidaknya memberikan efek jera agar dia tidak kembali ke tempat itu. Akhirnya Papa berjalan berkilo-kilo jauhnya hingga larut malam untuk mencari bantuan agar ban mobilnya bisa diperbaiki dan bisa kembali ke Jakarta, sementara Pakde Bagus menjaga mobil agar tidak kembali dirusak. Mereka akhirnya baru bisa menemukan bantuan dan menyelesaikan perbaikan setelah azan subuh, dan akhirnya kembali ke Jakarta dengan kondisi kelelahan dan kelaparan.