Hesti benar-benar murka kepadaku dan tak mau mendengar lagi semua alasan yang keluar dari mulutku terkait kasus Ahmad. Semua ini memang salahku, dan sudah pasti aku menyadarinya, namun apa boleh buat, tekadku sudah bulat untuk mencari bukti-bukti lainnya agar semua permasalahan ini bisa diselesaikan. Baginya menata masa depan lebih penting ketimbang memperbaiki masa lalu, namun aku tak sepakat dengan prinsipnya kali ini, karena sekarang aku tidak sedang mencoba untuk memperbaiki masa lalu, tetapi menepis kesalahan yang tidak benar-benar diperbuat oleh adikku dan dilimpahkan kepadanya beserta keluargaku oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Dan itu sudah jadi takdirku untuk bertindak begini, karena kepada siapa lagi kami bisa bergantung untuk memohon pertolongan.
Di mata Hesti, semua penelusuran dan pencarian informasi ini hanyalah obsesiku semata, dan yang terburuk, ia merasa bahwa itu semua menggerogotiku layaknya penyakit, membuatku kehilangan kesadaran antara yang nyata dengan yang semu. Boleh jadi asumsi itu benar, namun aku tahu betul mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu, dan aku juga tahu momentum yang tepat untuk menangkap peluang yang bagus agar bisa selangkah lebih maju ketimbang hari-hari kemarin. Konsekuensinya adalah aku kehilangan banyak waktu dengan keluargaku, dengan Hesti, dan anak-anak. Namun ini semua demi kebaikan yang lebih besar, demi mereka dan demi kita semua.
Aku tak bisa berbohong bahwa semakin banyak informasi yang kudapat maka semakin gila juga aku dibuatnya. Setiap kali aku dan Mas Bagus menemukan petunjuk dari narasumber yang kami temui, mimpi buruk itu selalu kembali saat aku tertidur. Sebuah mimpi yang benar-benar mengerikan terus menghantui dan menjeratku agar aku tetap terjebak di dalamnya. Gerbong kereta terbakar dan sosok Ahmad yang begitu membuatku bergidik bukan hanya sekali atau dua kali saja hadir dalam mimpiku, tapi berulang-ulang sepanjang beberapa bulan ini. Bukan hanya hadir dalam tidurku yang begitu pulas, bahkan ia tak bisa absen sejenak saat diriku tengah memejamkan mata sebentar selama lima menit untuk beristirahat, bayangan itu selalu muncul untuk menggentayangiku.
Selama beberapa minggu ini aku memang jarang berbicara dengan anak-anak, siasat licikku untuk diam-diam pergi ke Cianjur bersama Mas Bagus setiap Senin sampai Jumat memang menyita waktuku seharian sejak matahari terbit hingga bulan bersinar terang. Dan dari ujaran kemarahan Hesti, bahkan aku sampai tak tahu mengenai detail-detail kecil yang tengah dialami oleh keluargaku. Sialnya sekarang bukan hanya mimpi buruk yang menghantuiku, namun perasaan bersalah atas penelantaran mereka juga membuntuti di belakangnya, kadang sesekali di benakku juga terlintas pemikiran apakah aku sama buruknya dengan Mas Bagus di mata keluargaku karena kearoganan ini. Dan karena kesabaran Hesti sudah diujung tanduk, yang mana itu juga menyadarkanku akan prilakuku yang sudah sangat keterlaluan kepada mereka, akhirnya aku berusaha untuk menjeda penelusuran ini lebih lanjut untuk kembali memprioritaskan keluargaku. Setidaknya sampai rumah baru kami selesai dan kami bisa pindah ke sana dan hidup dengan lebih nyaman ketimbang tinggal di kontrakan petak ini.
Tetapi kalau ditelusuri lagi, minggu-minggu yang melelahkan tersebut tidak begitu sia-sia. Setelah kunjungan pertama yang membuat ban mobilku rusak dan berujung dengan pemecatanku dari kantor, kami kembali lagi ke Cianjur dengan perbekalan yang lebih matang. Fokus pertama masih tetap sama, yaitu untuk bisa masuk ke bekas kontrakan yang dulu dihuni oleh Ahmad untuk mencari barang bukti yang lebih banyak, beserta kejanggalan lainnya. Namun si pemilik kontrakan tetap bersikeras untuk tidak mengizinkan kami masuk ke dalamnya, ditambah lagi sekarang muncul rumor yang menjijikkan yang beredar di kampung sekitar kontrakan tersebut. Kata warga sekitar, mereka sering melihat penampakan pocong yang berkeliling di sekitar kontrakan itu kalau malam, mereka mengaitkannya dengan arwah Ahmad yang tidak diterima baik di langit dan di bumi karena ia telah melakukan bunuh diri dan mengakibatkan penderitaan yang besar bagi orang lain dalam tragedi kereta maut tersebut, dan akhirnya arwah itu berubah jadi pocong yang gentayangan di sana selamanya hingga hari pembalasan. Entah siapa yang mengarang cerita tersebut, namun aku yakin ada maksud terselubung di balik beredarnya cerita itu, yang tentunya menurut keyakinanku bertujuan untuk melindungi kontrakan ini sebagai barang bukti kejadian, atau setidaknya ada bangkai yang disembunyikan oleh pelaku asli dari pengeboman kereta itu.
Sialnya, cerita dari mulut ke mulut ini sampai masuk ke salah satu kolom berita di koran, walaupun bukan jadi berita utama yang dipajang di sampul depan, dan cuma terpampang di kotak berita kecil di pojok kiri di antara berita-berita tak penting lainnya. Hal ini membuatku muak, bisa-bisanya mereka mengasumsikan hal itu dengan almarhum adikku. Namun untungnya dari cerita bodoh tersebut muncul ide cemerlang dari otakku yang beberapa bulan ini terus bekerja lembur, ide ini mungkin jadi satu-satunya cara bagiku dan Mas Bagus untuk bisa masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut.
“Begini, karena masyarakat sekitar udah terlanjur percaya sama cerita pocong itu, gimana kalo kita manfaatin cerita itu buat kita masuk ke sana?” kataku kepada Mas Bagus saat itu ketika kami berhenti di salah satu warung kecil untuk menumpang kencing di toilet.
“Maksudnya gimana? Aku nggak ngerti.” terangnya yang memang selalu tak pernah bisa menangkap perkataanku pada ucapan yang pertama.
Lalu aku menjelaskan strategi itu kepadanya dengan perlahan-lahan. Mulanya, kami membeli sebuah kain kafan pada siang hari di daerah pemakaman yang cukup jauh dari kampung tersebut agar tidak ada orang yang mencurigai kami, lalu kain kafan itu kami kotori dengan tanah merah agar semakin terlihat meyakinkan, dan pada malam hari, Mas Bagus akan memakai kain kafan itu untuk mengitari daerah-daerah di dekat kontrakan Ahmad agar tidak ada orang yang berani mendekat ke sana sekaligus mengawasi situasi sekitar pada saat malam kami beraksi, nah momentum inilah yang akan kugunakan untuk menerobos masuk ke kontrakan dengan aman. Dan benar saja, Mas Bagus memprotes itu semua dengan alasan tak etis rasanya berpura-pura jadi hantu Ahmad dan berkeliling untuk menakut-nakuti orang-orang, katanya apabila kami tertangkap, itu akan jadi validasi kuat bahwa kami sebagai keluarga tersangka ikut menebar teror dalam bentuk yang lain kepada masyarakat, padahal aku yakin alasan sebenarnya adalah karena ia juga mempercayai kisah pocong tersebut, dan takut kalau kami bermain-main dengan kepercayaan masyarakat, atau apesnya bagaimana kalau ia bertemu dengan pocong yang sebenarnya.
“Itu cuma cerita bodoh, nggak mungkin pocong itu nyata.” ujarku yang berusaha meyakinkannya.
“Kalo beneran ada gimana?” tegasnya dengan penuh keyakinan.
“Oke … Mas mau tukeran sama aku? Aku yang jadi pocong, Mas yang masuk ke dalem?”
Dia berpikir sejenak, aku tahu bahwa ia tak sepandai itu. Umpamakan benar kami bertukar peran, lalu selanjutnya apa? Apa yang akan ia cari di dalam rumah kontrakan itu? Ia juga pasti kebingungan dan masih dibayang-bayangi bagaimana kalau nanti ternyata si pocong malahan ada di dalam kontrakan itu.
“Kayaknya nggak usah deh, kamu aja yang masuk ke dalem.” jawabnya dengan kumis agak bergetar karena ketakutan.
Akhirnya malam itu kami beraksi sehabis isya, Mas Bagus tampil sempurna sebagai pocong yang melompat-lompat di sekeliling kontrakan itu. Dan benar saja, karena situasi di Cianjur yang masih berbentuk perkampungan berbeda sekali dengan kota Jakarta, lokasi sekitar jadi terasa sangat sepi dan mencekam saat malam datang, membuat penyamaran Mas Bagus benar-benar meyakinkan dan mempermudah diriku untuk menerobos masuk ke dalam kontrakan dengan mendobrak pintu depannya yang masih disegel garis polisi berwarna kuning. Suara dobrakan yang agak keras tersebut tetap tidak bisa membangkitkan nyali para tetangga yang mengontrak di sekitar untuk keluar rumah dan mengecek keadaan karena mereka mungkin mengintip dari jendela dan melihat sosok pocong yang berkeliling sekitar rumah mereka. Bahkan yang lucunya lagi, ada dua orang pemuda desa yang melintas dan melihat pocong itu dari kejauhan, dan seketika mereka langsung lari terbirit-birit tanpa menoleh sedikitpun.
Saat aku masuk, kondisi bagian dalam begitu berantakan layaknya kapal pecah, barang-barang berserakan dimana-mana, selayaknya tempat yang baru saja digeledah. Dan yang apesnya lagi ternyata tak ada barang penting yang bisa kutemukan di sini, kecuali pakaian-pakaian Ahmad yang ia bawa dari kampung. Barang-barang tersebut diletakkan begitu saja berantakan di lantai dan tidak dibawa oleh polisi. Aku memeriksa ke sekeliling ruangan, mencari-cari di sekitarnya, siapa tahu ada petunjuk yang bisa dijadikan alat bukti baru atau sumber informasi lainnya.
Setelah mencari agak lama dalam ruangan yang cukup gelap, mataku akhirnya tertuju kepada dinding di ruang tengah yang dijadikan kamar tidur oleh almarhum Ahmad. Di sudut kanan dekat kasur, ada beberapa nomor telepon yang ditulis di dinding berwarna hijau muda dengan menggunakan pulpen bertinta hitam, tidak ada keterangan nama pemiliknya sama sekali, aku pun segera mencatatnya dengan pulpen yang kubawa di saku celanaku, kira-kira totalnya ada enam buah nomor telepon yang kutulis di sepanjang pergelangan tanganku karena aku tidak membawa kertas atau buku untuk menyalinnya. Setelah kira-kira sepuluh menit kemudian aku pergi meninggalkan kontrakan itu bersama Mas Bagus yang wajahnya sudah begitu pucat karena menahan takut sedari tadi. Ia lalu segera melepaskan kain kafan tersebut dan menyimpannya di bagasi belakang mobilku sebelum akhirnya membuangnya saat perjalanan pulang ke Jakarta.
***
Usaha kami selama beberapa hari selanjutnya adalah menelpon satu persatu nomor yang kami peroleh dari bekas kontrakan Ahmad di warung telepon. Dua dari enam nomor tidak mengangkat panggilan, dan sisanya menjawab dengan tidak kooperatif, mereka merasa ketakutan saat mengetahui bahwa kami, dua orang kakaknya Ahmad, yang menghubungi nomor mereka. Jangankan memperoleh informasi, mengetahui siapa nama mereka dan hubungan mereka dengan Ahmad saja begitu sulit. Entah sudah berapa banyak uang receh yang kugelontorkan untuk menelpon nomor-nomor tersebut berulang kali, dan Mas Bagus juga sudah mulai merasa kesal kepada mereka semua sekarang karena tak kunjung mendapat respon positif.
“Susah banget sih nyebut nama doang, kan kita nggak nanya macem-macem. Sialan banget!” geram Mas Bagus.
“Sabar Mas, kalo gini emang harus pelan-pelan sampe mereka yakin dan percaya kalo kita bukan orang jahat. Perlu waktu lebih lama emang, tapi aku yakin salah satu di antara mereka pasti bakal ada yang mau bantu kita.”
Benar saja, semua berjalan sesuai dugaanku. Setelah beberapa hari menelpon mereka dari sebuah wartel di Cianjur, yang mana sehari bisa sampai tiga kali panggilan dalam selang beberapa jam, tepatnya satu di pagi hari dan dua di malam hari, mempertimbangkan kalau-kalau dari salah satu nomor tersebut merupakan rekan kerja Ahmad, maka usaha kami akan sia-sia kalau menghubunginya pada waktu kerja, dan akhirnya ada salah seorang dari nomor tersebut yang mau membantu kami. Ia mengaku namanya adalah Aji, dan benar saja, ia merupakan rekan kerja almarhum Ahmad di pabrik. Aji menjelaskan kepada kami melalui telepon bahwa ia mau membantu kami apabila identitasnya dirahasiakan, dan tak boleh ada satu orang pun yang tahu bahwa kami mendapatkan bocoran info darinya. Kami sepakat dan akhirnya ia mau dihubungi kembali pada hari sabtu sehabis maghrib, yang kebetulan juga bertepatan dengan berakhirnya jam kerjanya di pabrik, karena pabrik beroperasi enam hari seminggu.
Sehari-hari kami tetap bersiaga di daerah dekat-dekat kontrakan Ahmad, kami terus mencari info dari orang-orang yang melintas maupun yang sedang singgah di warung-warung, kami tidak bisa berdiam dan mengandalkan informasi dari satu sumber, siapa tau kami menemukan petunjuk yang lainnya. Dan pada hari yang telah disepakati, kami kembali ke wartel di jam yang ditentukan, dan benar saja Aji mengangkat teleponnya saat kami hubungi. Mulanya ia bercerita mengenai sosok Ahmad yang merupakan buruh biasa di pabrik yang sama dengannya. Mereka bekerja di sebuah pabrik sepatu dengan jam kerja yang lumayan parah, beberapa karyawan bahkan sering dipaksa lembur tanpa menerima upah tambahan. Namun Aji bilang bahwa Ahmad punya kepribadian yang sangat baik, tak pernah mengeluh atas tekanan itu, dan selalu membawa kesan positif kepada buruh-buruh yang lain. Aji juga bercerita bahwa waktu itu dirinya merupakan salah seorang yang ditolong oleh Ahmad saat masih hidup. Ia bercerita bahwa Ahmad lah yang memberi pinjaman uang kepadanya saat ia benar-benar membutuhkannya untuk biaya pengobatan ibunya yang tengah sakit. Lalu dengan cara mencicil selama beberapa kali Aji berusaha untuk membayar hutangnya kepada Ahmad. Semua cerita yang dikatakan oleh Aji tidak membuatku heran sama sekali, karena sebagai kakaknya, aku sudah mengetahui sifat asli Ahmad sejak kecil, dan aku rasa cerita ini juga tidak terlalu membantu, karena aku di sini bukan mencari berita baik, melainkan konflik utama atau hal-hal janggal yang bisa kubawa pulang untuk jadi petunjuk baru.
Akhirnya aku dan Mas Bagus justru terfokus pada cerita kedua yang dituturkan oleh Aji. ia berkata bahwa pernah suatu hari ada seorang rekan kerja mereka yang merupakan buruh perempuan sedang sakit dan tetap memaksakan diri untuk bekerja, hal ini membuatnya tidak bisa menjalankan pekerjaannya dengan maksimal sehingga produktivitasnya di pabrik hari itu terganggu. Saat itu kepala pabrik yang sering melakukan sidak ke area kerja menyadarinya dan langsung memarahi serta memaki-maki buruh perempuan itu di tempat kerjanya dengan kata-kata yang begitu kasar dan menyakitkan, dan hal ini didengar secara langsung oleh semua buruh yang tengah bekerja di saat yang bersamaan, memberikan mereka tekanan mental yang luar biasa dan rasa takut akan kekuasaan absolut yang dibalut dengan kesan negatif dari si kepala pabrik. Lalu di momen itulah Ahmad yang merasa iba datang menghampiri mereka berdua dan berusaha membela si buruh perempuan itu, hal semacam ini tentu menjadi pemandangan yang tidak biasa dan tentunya tak disukai oleh si kepala pabrik yang merasa bahwa baru kali ini ada anak buah yang berani menentangnya secara terang-terangan, ia merasa perilaku Ahmad bisa jadi ancaman nyata yang menginspirasi buruh-buruh lain untuk melawannya. Sejak saat itu Ahmad jadi punya masalah besar dengan si kepala pabrik yang tak berkesudahan. Ketika ingin melanjutkan ceritanya, Aji tiba-tiba berubah jadi sangat ragu dan bertindak seperti orang yang tengah ketakutan. Seketika ia tak melanjutkan ceritanya dan langsung menutup telepon, bahkan ketika kami menghubunginya kembali, ia tak menjawab.
Cerita itu benar-benar sangat mencurigakan, khususnya ketika mengarah kepada pokok permasalahan utama yang begitu penting bagiku, dan ketika Aji sudah mulai menyinggung tentang kepala pabrik, aku merasakan nada bicaranya seperti berubah. Aku yakin ada yang tidak beres dengan semua ini, dan lagi-lagi muncul dugaan bahwa ada sosok besar yang mengancam orang-orang sekitar, termasuk Aji agar informasi ini tidak bocor ke luar, apakah itu si kepala pabrik, atau ada orang lainnya, yang jelas Aji menutup telepon tanpa menyebutkan nama si kepala pabrik tersebut sehingga kami kehilangan informasi berharga di tengah jalan. Kini aku semakin yakin bahwa Ahmad sebenarnya tidak bersalah, ya walaupun belum sampai ke pokok permasalahan mengapa ia berada di kereta yang berisi bom bunuh diri tersebut, namun dengan adanya tambahan informasi yang baru kami dapat dari Aji, sekarang kami tahu harus kemana untuk melanjutkan penelusuran kami. Aku dan Mas Bagus akhirnya berusaha mencari pabrik yang memproduksi sepatu di dekat situ, dan kami berhasil menemukannya, namun karena hari sudah terlalu malam maka kami putuskan untuk melanjutkan penelusuran esok hari di hari minggu.
Sayang sekali pada hari minggu pabrik tutup, oleh karena itu tak ada buruh maupun karyawan lainnya yang bekerja di tempat itu kecuali satpam yang berjaga di posnya. Kami dengan naifnya memberanikan diri untuk bertanya kepada satpam tersebut, barangkali mengingat cerita dari Aji tentang tabiat Ahmad yang baik kepada orang-orang sekitar, si satpam mau untuk memberi kami informasi yang kami butuhkan. Dengan polosnya kami memperkenalkan diri sebagai kakak kandung dari Ahmad, mantan buruh pabrik yang pernah bekerja di sini dan kami sedang mencari tahu mengenai kegiatan Ahmad sehari-hari selama bekerja di pabrik ini beberapa bulan ke belakang layaknya dua orang detektif profesional. Kami begitu bodoh seakan-akan dunia tidak tahu siapa Ahmad dan statusnya saat ini. Satpam tersebut tentu saja mengusir kami segera dan tak mau buka mulut sedikitpun.
Kunjungan pertama itu tak membuahkan hasil, namun kami tak patah semangat, di hari-hari berikutnya kami terus mendatangi pabrik itu saat jam makan siang dan jam pulang kerja dengan harapan memperoleh narasumber baru yang dapat membantu kami setelah kami tak mendapat kabar lagi dari Aji. Hal tersebut ternyata lebih sulit dari yang kami bayangkan sampai-sampai menguras energi kami hingga tak tersisa. Bayangkan saja, setiap hari kami harus menempuh perjalanan di pagi hari dari Jakarta selama beberapa jam menggunakan mobilku untuk sampai ke tempat ini, dan saat kami sampai, kami akan berdiri di depan pintu gerbang pabrik dan mencoba berbicara dengan siapapun yang melintas, sayangnya hampir seratus persen dari keseluruhan orang-orang tak ada yang mau diajak bicara dan cenderung menghindar saat berpapasan dengan kami. Para buruh hanya keluar masuk pabrik tanpa menggubris kehadiran kami yang berdiri berjam-jam di pintu gerbang depan selama berhari-hari, mereka bahkan enggan menatap kami seolah-olah kami tak ada. Entah mereka semua tak punya hati atau jangan-jangan isi kepala mereka sudah diatur sedemikian rupa oleh kepala pabrik agar tetap diam.
Entah sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli bensin, makanan, dan rokok kretek untuk dihisap Mas Bagus, aku tidak peduli, kuras saja semua tabunganku sampai habis, tapi setidaknya berikan aku imbalan berupa informasi penting yang bisa menjadi secercah harapan untuk penyelesaian kasus ini. Setiap siang berganti ke sore hingga matahari telah terbenam, aku tak henti-hentinya berdoa dalam hati agar aku tidak pulang dengan tangan kosong, namun kehendak tuhan selalu berkata lain, aku dan Mas Bagus kembali ke Jakarta pada larut malam untuk kesekian puluh kali dengan tangan kosong dan sedikit sisa semangat untuk kembali ke pabrik itu esok paginya.
***
Di perjalanan pulang malam itu, Mas Bagus menunjukkan tanda-tanda frustasi yang cukup ekstrim. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya membakar dan menghisap rokoknya tanpa putus. Matanya sudah begitu sayu, bibirnya kering dan pecah-pecah, lalu jemarinya bergetar tak karuan ketika memantik api untuk membakar ujung rokoknya, ia lalu mulai membuka pembicaraan denganku.
“Wan, kenapa orang kayak kita selalu bernasib sial ya?” katanya setelah empat puluh lima menit tadi cuma bisa diam dan merokok.
“Nggak tau Mas.” jawabku dengan setengah hati.