Semua salahku, aku meninggalkan Irma sendirian di pantai siang itu. Tak pernah terbersit di benakku bahwa aku akan kehilangan anak sulung yang begitu kusayangi. Irma, buah hati yang memberikanku kebahagiaan pertama saat melahirkannya, kini telah tiada. Tak ada yang bisa mengalahkan rasa duka dari seorang ibu yang kehilangan anaknya. Siang itu diriku rasanya seperti tercabik-cabik, rohku seperti melayang keluar ke udara, dan langit seketika runtuh menimpa kepalaku dan menimbunnya begitu dalam sampai ke dasar bumi.
Tak ada jasad maupun sehelai pakaian yang ditemukan setelah dilakukan penyisiran selama beberapa hari, bahkan setelah lautan mengambil paksa nyawanya, ia tak sudi untuk memulangkan jenazahnya kepada kami. Aku tak pernah merasa kehilangan yang sebesar ini, sedari kecil diriku tak pernah merasakan perasaan memiliki anggota keluarga karena besar di panti asuhan. Dan sekarang, di saat aku telah memilikinya dan berusaha merawatnya dengan sebaik mungkin, dunia merenggutnya tanpa permisi, membuat salah satu pilar dari rumah yang telah kubangun runtuh dan menghancurkan salah satu ruangannya. Nak, maafkan Mama ya.
Perasaan hampa yang menyelimuti diriku masih melekat sampai hari dimana kami sekeluarga harus pindah ke rumah baru kami. Saat-saat yang seharusnya kami nanti dan penuh suka cita malah berubah jadi parade hening perpindahan perabotan dari mobil kolbak ke ruang-ruang kosong yang akan kami tempati setelahnya. Selang beberapa jam, ruangan tersebut sudah terisi dengan barang-barang, namun ketidakhadiran Irma tetap saja membuat rumah ini terasa hampa di mataku. Bapak, Mas Bagus, Mbak Nur, dan Arif hadir di rumah baru kami untuk membantu pindahan sekaligus untuk mengikuti pengajian pada malam harinya. Sayangnya, malam itu pengajian bukanlah bentuk rasa syukuran kami atas rumah baru ini, melainkan ajang pelepasan kepergian putri kami yang tak kunjung ditemukan setelah pencarian selama beberapa hari yang tak membuahkan hasil. Aku dan Mas Iwan dengan berat hati mengikhlaskan untuk melepas kepergian Irma untuk selama-lamanya, terbuai di lautan yang membawanya perlahan menuju surga yang didamba-damba.
Terlalu banyak ucapan belasungkawa yang datang ke kami saat itu, berbanding terbalik dengan beberapa bulan lalu, yang mana makian dan kutukan sering kali dilemparkan kepada keluarga kami karena peristiwa besar di akhir Desember. Tanganku bergetar saat menyalimi teman-teman sekolah Irma yang datang ke rumah dengan berlinang air mata, beberapa anak perempuan memelukku dengan erat seolah-olah merasakan kehilangan yang sama. Di pojok ruang tamu kulihat Sekar, Ayu, dan Nabila yang tak henti-hentinya menangis, mereka mungkin tak bisa mempercayai bahwa kunjungan Irma ke rumah Sekar beberapa minggu yang lalu adalah akhir perjumpaan mereka semua. Teman-teman Bimo dari komplek lama kami turut hadir didampingi oleh orang tuanya yang juga merupakan tetangga-tetanggaku dulu, kami menerima banyak simpati dan dukungan dari orang-orang yang sebelumnya bahkan tak mau berbicara dengan kami selama berbulan-bulan.
Yang kusadari setelah semua orang pulang dan hanya tersisa kami sekeluarga di rumah adalah ketidaksiapan Evan untuk menerima kehilangan tersebut. Di kamar yang seharusnya ia tempati bersama Irma, hanya tersisa dirinya sendiri dan ranjang kosong yang seharusnya ditiduri oleh almarhum kakaknya setiap malam. Tak ada orang yang bisa diajak bicara atau bermain bersama lagi sekarang, hanya sebuah foto berbingkai kayu di meja belajar, dengan sosok Irma yang merangkul dirinya yang mengenakan jaket tebal berwarna biru dongker saat liburan keluarga kami di puncak dua tahun lalu. Aku sendiri masih tak siap untuk berbicara dengan Evan terkait hal-hal yang harus ia terima di kemudian hari, sehingga baik aku, Evan, dan Mas Iwan, sama-sama menyendiri dalam duka dan tak berbicara satu sama lain tentang Irma. Kepergian putri kecilku yang begitu mendadak dan tragis seolah melumpuhkanku untuk sementara waktu yang entah kapan pulihnya tak bisa kuprediksi.
Aku memang dirundung duka yang mendalam sampai-sampai lupa bahwa suamiku juga manusia biasa yang bisa merasakan sakit yang sama sepertiku, Mas Iwan juga orang tua dari Irma, dan tentu saja ia terluka karena peristiwa ini. Selama kurang lebih dua minggu suasana rumah begitu dingin, tak ada kebersamaan yang datang untuk menghangatkan kami sekeluarga di sini. Semua aktivitas berjalan secara individual, hanya pada saat makan malam kami semua berkumpul di meja makan untuk membicarakan makanan dan kenyamanan kamar kami masing-masing. Aku dan Mas Iwan juga tak pernah bergairah lagi sejak kepergian Irma, aku masih tak bisa membelainya dengan mesra, dan ia juga tak bisa memelukku dengan hangat. Kami tidur masing-masing, tak saling bicara maupun menunggu untuk terlelap bersama, setelah kutidurkan Bimo, aku langsung memejamkan mata sambil memunggunginya yang entah berapa lama masih terjaga tanpa kata-kata seolah menanti kedatangan sang Purnama.
Hari-hari yang kujalani rasanya semakin berat, ruang-ruang yang seharusnya terisi oleh berbagai keceriaan dan emosi-emosi lainnya terasa membeku sekarang. Untungnya saat itu aku melihat Evan yang tengah duduk termenung di pinggir ranjangnya seorang diri, aku seakan-akan disadarkan oleh Yang Maha Kuasa, bahwa aku masih memiliki dua orang buah hati yang membutuhkan kehangatan dari sosok ibu mereka, alih-alih penelantaran karena dirundung duka yang tak berkesudahan. Saat angin siang melintasi jendela kamar Evan dan mengibaskan rambutnya, aku masuk dan menunduk agar posisi mata kami sejajar. Aku tak mengucapkan sepatah katapun, hanya melihat kedua bola matanya yang menatap kosong ke lantai dan perlahan mulai dibanjiri air mata, saat kedua mata kami saling pandang, di situlah aku memeluknya erat seakan-akan ini menjadi pembuka untuknya, memberikan kepastian bahwa ia tak sendirian dan semuanya akan baik-baik saja. Pelukanku mungkin menjadi sinyal baginya untuk tidak perlu mengkhawatirkan keadaan, membiarkannya menangis sesuka hatinya tanpa larangan, namun mengingatkannya bahwa ia harus tetap kuat dan bahagia tanpa hadirnya Irma di sisinya.
***
Mas Iwan tentu merasakan hal yang jauh lebih menyiksa ketimbang diriku, setelah kepergian adiknya beberapa bulan lalu, kini putri kesayangannya juga harus meninggalkannya. Aku yakin ada penyesalan yang menggerogoti batinnya sekarang, mengingat akhir-akhir ini ia terlalu sering mengabaikan kami di rumah dan pergi terlalu lama, dan saat titik balik untuk memperbaiki dirinya datang, dunia malah merenggut hal yang begitu ia cintai sampai-sampai tak sempat mengucapkan kata-kata perpisahan kepadanya. Kesengsaraan ini seakan tak habis-habis baginya, karena ia harus bergulat dengan kenyataan bahwa Irma tak pernah kembali dalam bentuk apapun, berbeda dengan Ahmad yang masih bisa ia makamkan dengan layak dan khidmat. Tak ada pusara, tak ada jenazah yang bisa ia antar menuju liang lahat yang jadi tempat peristirahatan terakhirnya, dan tak ada tanah merah yang bisa ditaburi kelopak bunga berbagai warna sebagai pengingat bahwa yang terbaring di dalamnya pernah menjalani kehidupan yang bahagia bersama dirinya.
Satu bulan berlalu begitu cepat, dan Mas Iwan masih saja terjebak dalam kehampaan tersebut. Ia masih tak bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskan segalanya hingga detik ini, sementara aku tak bisa tinggal diam, masih ada Evan dan Bimo yang jadi harapan untuk dibesarkan dengan penuh cinta hingga keduanya dewasa. Alih-alih terkurung di lubang yang sama dengan Mas Iwan, aku berusaha untuk memanjat dan memperbaiki sisa-sisa reruntuhan rumah yang telah kami bangun bersama. Aku memberikan atensi lebih kepada Evan yang sudah memahami arti dari kehilangan, dan terus membujuk Mas Iwan agar mau membuka diri demi masa depan keluarganya. Namun rasanya semua itu perlu waktu, saat ini Mas Iwan hanya bisa bangun dari tidurnya, duduk di sofa, dan makan seperlunya apabila ingat, dan masih tak bisa memperoleh kembali seratus persen semangat hidupnya.
Dalam situasi yang berat seperti ini, kekhawatiranku berfokus kepada Evan yang harus segera kembali bersekolah pada tahun ajaran baru nanti. Oleh karenanya aku sendiri lah yang mencarikan sekolah baru untuknya, lalu menemaninya untuk datang ke sana pertama kali saat tahun ajaran baru dimulai. Lokasinya tak begitu jauh dari rumah, sekitar dua kilometer, namun tetap saja bukan masalah jarak, melainkan sebagai bentuk dukungan orang tua lah yang mendorongku untuk mengantarnya setiap hari. Syukurnya di tempat baru ini Evan tak mendapat perundungan oleh teman-teman sekolahnya, meskipun banyak guru maupun murid yang mengetahui latar belakang Evan pada saat itu.
Bimo kini sudah bisa diajak berbicara dengan agak lancar, tingkahnya makin menggemaskan dan setiap hari dirinya semakin aktif untuk mengeksplor ruangan-ruangan di rumah kami. Rasa ingin tahunya yang besar juga menjadi kendala bagiku, karena sesekali Bimo biasa terdiam sambil melihat foto Irma yang terpajang di bingkai samping televisi dan bertanya mengenai keberadaannya sekarang. Aku tak bisa bilang bahwa ia berhasil mengorek luka lama yang bahkan belum kering sepenuhnya, tetapi rasa penasaran yang timbul dari anak kecil itu sangatlah wajar, mengingat Bimo sering kali menghabiskan waktunya bersama Irma saat kami tinggal di kontrakan petak kemarin. Dengan berjalannya situasi di rumah yang mulai kembali normal perlahan-lahan, Mas Iwan masih tetap tak bisa berpindah dari kekosongannya. Tak banyak yang bisa kuperbuat untuk mengembalikan semangatnya, hanya sekedar mengajaknya untuk berdoa agar Irma senantiasa bahagia di sisi-Nya.
Seminggu sekali aku menelpon Mbak Nur untuk menanyakan situasi keluarga di sana dan juga meminta nasihat terkait cara-cara berdamai atas kepergian Irma, mengingat Mbak Nur juga pernah berada di fase yang sama, dimana ia keguguran saat tengah hamil tua, saat itu janinnya sudah berwujud sempurna layaknya bayi normal pada umumnya, namun jantungnya tak berdetak sedikitpun sehingga kulitnya sedingin es dan tak ada tangisan pecah ketika Mbak Nur menggendongnya di ranjang rumah sakit tersebut. Dan tak berselang lama setelah peristiwa memilukan yang menerpa dirinya saat itu, ia mendapati bahwa suaminya tengah berselingkuh dengan wanita lain yang jauh lebih muda dan lebih cantik dari dirinya. Perceraian pun tak terhindarkan, setelah itu Mbak Nur memilih untuk tidak menikah lagi dan berfokus untuk mengurus Bapak di rumah hingga saat ini. Saat kuajukan pertanyaan mengenai cara berdamai dengan kehidupan ini, ia menjawab dengan begitu tenang.
“Hidup emang begitu, kadang kita merasa ada di atas awan, kadang kita juga bisa merasa ada di dasar jurang. Nggak perlu khawatir, kamu cuma perlu yakin dan nikmatin semuanya. Toh Gusti Allah nggak kemana-mana, dia nggak bakal ngasih ujian yang nggak bisa dipikul sama hamba-Nya.”
Wejangan sederhana seperti ini lah yang kubutuhkan sekarang, bukan karena perkataannya seratus persen benar, melainkan karena kata-kata itu membuatku yakin bahwa aku tidak sendirian dalam memikul beban ini, sosok Mbak Nur bagiku sudah seperti kakak kandung sendiri, kehadirannya yang mungkin sering kulupakan malah jadi kunci untuk membuka jalur hidupku ke arah yang lebih baik di saat semuanya terasa buntu seperti sekarang. Setelahnya aku hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih kepada Mbak Nur dan berharap semoga dirinya dan keluarga di kampung selalu sehat.
***
Kalau kondisinya begini terus, keuangan kami bisa terancam. Mas Iwan sudah tidak bekerja selama beberapa bulan semenjak pemecatannya, kami tidak punya pemasukan dan hanya mengandalkan uang tabungan Mas Iwan yang juga sudah terkuras banyak karena pembangunan rumah dan aktivitasnya untuk menginvestigasi kasus Ahmad di Cianjur selama berminggu-minggu. Sementara kami masih punya Evan dan Bimo yang memiliki banyak kebutuhan yang harus dibayar, mulai dari makanan, fasilitas, pendidikan, dan lain-lainnya. Dan saat ini Mas Iwan masih tak mau berdiskusi secara terbuka mengenai itu semua, ia berdalih bahwa tabungannya masih cukup untuk beberapa lama, namun bagiku itu tetap bukan pilihan yang tepat karena apabila sewaktu-waktu uang tersebut habis maka bisa jadi kami akan ditimpa masalah baru yang memperburuk situasi rumah.
“Aku mau cari kerja,” ujarku saat kami berdua tengah makan siang bersama di meja makan, sementara Evan sedang berada di sekolah. “Kita nggak bisa begini terus-terusan, kita butuh uang lebih buat biaya Evan sama Bimo.”
Mas Iwan tak menggubris dan terus menyuap nasi ke mulutnya.