Dad, Our House is Burning!

Daffa Amrullah
Chapter #8

BAB VIII, PAK IWAN: PANGGILAN DARI MARNI

Kematian putriku yang begitu tragis telah meluluhlantakkan jiwaku, bagai disambar petir secara bertubi-tubi tanpa henti. Rasanya semangat hidupku tak lagi bermekaran meskipun mentari terus terbit dan terbenam tanpa henti. Yang aku bisa hanya membaringkan diri, duduk, dan menatap ke luar jendela, berharap suatu hari nanti ia bisa pulang melalui pintu depan dan memelukku lagi seperti sebelumnya. Kenangan di minggu-minggu akhir hidupnya kini menghantuiku terus menerus, dimana kilasan-kilasan balik akan wajahnya yang kutinggalkan saat masih tertidur dan kutemui kembali saat sudah terlelap silih berganti menerjang kepalaku. Kata-kata yang kuucapkan kepadanya untuk terakhir kali juga masih terngiang di telingaku, larangan untuk jangan ke tengah sana karena ombaknya begitu besar terus berputar berulang-ulang, meracuni isi kepalaku dan melemahkan tubuhku. 

Semua kompleksitas perasaan ini bermuara kepada satu titik, yaitu rasa penyesalan akan pengabaian yang telah kulakukan kepada keluargaku yang selama ini sering kuperbuat. Dan sekarang semua itu berubah menjadi dilemma seiring berjalannya waktu, dikarenakan kebingunganku mengenai mana yang benar dan mana yang salah untuk selanjutnya dilakukan. Sebelum tragedi hilangnya Irma di pantai itu, aku tengah menelusuri kasus Ahmad, dan baru saja mendapat titik temu yang akan menuntunku kepada jawaban yang sebenarnya, namun aku meninggalkannya secara sukarela demi memprioritaskan kebahagiaan keluarga kecilku. Dan sekarang, Irma sudah tiada, keluarga ini tak lagi sama, kebahagiaan juga sudah memudar, dan aku tak bisa mengembalikannya jadi seperti semula, haruskah aku melanjutkan tujuan awalku atau malah tetap bertahan dalam situasi yang hampa seperti ini dengan tidak adanya tujuan hidup yang bisa diraih lagi. Apabila memilih yang pertama, apakah diriku berdosa? dan apabila memilih yang kedua, apakah perjuanganku selama ini menjadi sia-sia?.

Aku mengingat waktu-waktu di dalam hidupku yang bertahun-tahun kuhabiskan untuk bekerja dan menabung demi membangun rumah ini, bata demi bata, dari gundukan tanah hingga menjadi bangunan permanen seperti sekarang, agar keluargaku bisa hidup damai di dalamnya kelak, namun rasanya sekarang bangunan ini bagaikan cangkang kosong yang tak ada artinya. Aku masih berusaha untuk berjuang agar bisa terlepas dari jeratan penyesalan di masa lalu, berhenti untuk berandai-andai apabila aku melakukan hal demikian maka hasilnya akan demikian. Namun aku tidak bisa, aku masih terjebak dalam kubangan yang sama, tenggelam dalam kegelapan yang pekat dan membutakan. Kucoba berdoa berulang kali, namun tak pernah ada jawaban dari Yang Maha Kuasa.

Di suatu siang, saat Evan tengah bersekolah dan Hesti bekerja seperti biasa, tiba-tiba suara telepon rumahku berdering. Rasanya aku tidak begitu bersemangat untuk mengangkatnya, tapi siapa tahu itu panggilan dari orang yang penting. Saat kuangkat, kudengar pelan suara yang tak asing di telingaku, diselingi bunyi nafas yang naik turun, kukenali suara itu sebagai Marni yang tengah menelpon dari Malaysia.

“Marni? Kenapa tiba-tiba nelpon? Bukannya harusnya kamu kerja sekarang?” tanyaku heran.

“Iya … tapi aku lagi minta waktu buat istirahat satu jam. Gimana keadaanmu Mas?”

Aku terdiam sesaat, agak terkejut karena sudah lama tak ada yang menanyai kabarku saat ini.

“Ummm … nggak terlalu baik, kenapa emangnya?”

“Aku denger … katanya sekarang Mbak Hesti kerja di Jakarta ya?” tanyanya dengan agak ragu. “Bener Mas?”

“Iya, dia kerja di restoran gitu sekarang.”

“Oh … kamu nggak apa-apa kan Mas?” lanjutnya tanpa menyinggung kenapa Hesti lah yang bekerja sekarang, bukan diriku. “Mbak Hesti soalnya bilang semenjak Irma meninggal, hidupmu agak kacau. Aku nggak tau seberapa parah keadaan aslinya sih, tapi kalo denger cerita dari dia … aku rasa itu bener-bener kacau.”

“Emangnya kapan dia nelpon kamu?”

“Beberapa hari lalu, kayaknya agak malem, mungkin pulang kerja dia mampir ke wartel dulu. Aku yakin Mbak Hesti udah buntu, nggak tau mau cerita ke siapa lagi sampe akhirnya dia beraniin diri buat nelpon aku.”

“Jadi … dia cerita banyak ya?”

“Yap,” katanya singkat, lalu terdengar agak menghela nafas. “Ada yang ngunjungin kamu lagi nggak sejak pindahan? Mas Bagus? Mbak Nur? Atau sodara yang lain di Jakarta mungkin?”

“Nggak.”

“Aku kira akhir-akhir ini kamu lagi deket sama Mas Bagus.”

“Bisa dibilang gitu, tapi sekarang udah nggak lagi soalnya kami punya sedikit masalah … masalah yang lumayan gede sih sebenernya,” jawabku dengan santai. “Gimana kabarmu di Malaysia? Semuanya baik-baik aja kan?”

Lihat selengkapnya