Kedatangan Om Arif ke rumah sepertinya cukup membantu Mama dan Papa dalam menjalankan urusannya. Sehari-hari mereka berdua sibuk pergi ke tempat tujuan masing-masing, meninggalkanku dan Bimo bersama Om Arif di rumah. Sebenarnya aku kurang terlalu dekat dengan Om Arif, meskipun kami pernah bertemu beberapa kali saat lebaran dan terakhir saat pemakaman Paman Ahmad. Aku juga lebih suka memanggilnya dengan sebutan Paman, karena Paman terdengar lebih berwibawa ketimbang Om. Ia tak terlihat seperti orang dewasa, dan aku tidak terlihat seperti sepupunya, karena usia kami hanya terpaut sekitar sembilan tahun.
Om Arif tidak banyak bicara, ia lebih suka membaca buku-buku yang ia bawa dari kampung ketimbang berinteraksi denganku maupun Bimo, kalaupun ada hanya sebatas formalitas agar tugas-tugas yang diberikan oleh Papa selesai, yaitu memastikan aku dan Bimo sudah makan, mandi, dan khusus untukku, mengerjakan PR-PR dari sekolah. Aku dengar dari Papa bahwa Om Arif tidak bersekolah di sekolah umum seperti yang sedang kujalani sekarang, ia hanya belajar ilmu agama di sebuah pondok pesantren di kampung. Ia tidur sekamar denganku, sebelum tidur ia biasa bertadarus dengan suara agak nyaring sehingga membuatku kesulitan untuk tidur dengan normal. Perawakannya kurus dan tidak terlalu tinggi, dengan kulit sawo matang khas kulit orang-orang desa yang biasa terkena matahari siang, rambutnya hitam dan agak melengkung di beberapa bagian, dan hidungnya mancung dengan rahang yang tegas.
Melihat dari sikapnya yang terkesan cuek, bisa kusimpulkan bahwa Om Arif adalah seorang introvert. Dan sepertinya ia satu-satunya adik yang jarang mendapatkan perhatian dari kayak-kakaknya yang lain, termasuk Papa, karena terlihat dari caranya berinteraksi dengan Papa yang terkesan secukupnya dan cenderung mengiyakan apapun yang dikatakan Papa agar semuanya tetap berjalan normal. Aku tak pernah mendengar Om Arif membantah sedikitpun perkataan Papa, ia juga tak pernah menanyakan alasan terkait hal-hal yang harus ia kerjakan, dan juga mengeluh atas apapun yang sedang dan telah dikerjakannya. Cara-caranya bersikap cukup unik, dingin, tenang, namun terkadang menyebalkan, karena ia tak bisa memberikan atensi apapun kepada kami sebagai keponakannya, sehingga aku merasakan tidak ada koneksi kekeluargaan yang hangat antara diriku dan dirinya.
Entah apa yang biasanya ia lakukan di rumah Kakek di kampung, tapi aku rasa Om Arif cukup terobsesi dengan pelajaran-pelajaran agama, peribadatan, dan ritual-ritual lainnya. Berbeda dengan keluarga kami yang hanya beribadah secukupnya sebagai penggugur kewajiban. Barang-barang yang ia bawa untuk beribadah cukup lengkap, dari buku-buku, sajadah, tasbih, sarung, baju koko, hingga beberapa buah Quran dengan berbagai ukuran. Walaupun aku tidak terlalu menyukainya, setidaknya menurutku ia lebih baik ketimbang Pakde Bagus yang memiliki kesan lebih buruk, ya bisa dibilang Pakde Bagus itu lebih sering malas-malasan, tak bisa diandalkan, dan berbau rokok kretek. Aku benar-benar benci berada di dekatnya, karena entah tangan, nafas, atau keringatnya berbau tengik bercampur tembakau kering yang menyengat, mungkin karena residu dari lemak-lemak yang menumpuk di badannya dan konsumsi rokok kretek dan kopi hitam yang berlebihan setiap hari mempengaruhi aroma tubuhnya.
***
Papa memang tak pergi setiap hari, namun saat ia sedang berada di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menulis di buku catatan bersampul hitam yang ada di meja kamarnya, membuka beberapa lembar buku tulis lusuh dan mencari-cari kalimat-kalimat penting di dalamnya, dan termenung dalam waktu yang cukup lama. Sepertinya barang-barang itu merupakan bukti-bukti yang dikumpulkannya dari penelusurannya selama beberapa bulan ke belakang. Tetapi kami masih punya waktu untuk makan bersama saat siang dan malam hari. Kadang kala saat Mama pulang kerja lebih cepat atau sedang libur, kami berlima bisa makan malam bersama di meja makan. Dan sebulan sekali aku, Bimo, dan Papa pergi ke mall untuk belanja kebutuhan bulanan, biasanya Mama memberikan catatan barang-barang apa saja yang harus dibeli di supermarket, karena ia tak bisa ikut dikarenakan pada hari Sabtu dan Minggu ia tetap masuk kerja.
Jadwal libur kami hampir tidak ada yang sama, sehingga sulit untuk merencanakan agenda keluarga untuk ke luar rumah. Sepertinya Papa juga masih trauma untuk pergi tamasya, karena perjalanan terakhirnya begitu buruk dan membuatnya tak berani untuk mengambil resiko lagi. Saat ada Papa di rumah, Om Arif tetap melakukan tugas-tugasnya, lalu ia meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol denganku atau mengajak Bimo bermain dengan mainan-mainannya, sangat berkebalikan ketika tidak ada Papa di rumah. Sepertinya itu hanya bentuk pencitraan semata agar dirinya tetap mendapatkan kepercayaan Papa untuk tinggal di sini, di tempat yang lebih baik ketimbang di rumah Kakek di kampung. Aku yakin, mengingat cerita-cerita yang pernah Papa ceritakan waktu itu, makanan di sana begitu tidak enak dan terbatas, sehingga Om Arif tak pernah bisa betah menjalani hidupnya di sana. Belum lagi tentang Kakek yang katanya galak dan suka memarahi anak-anaknya, bisa jadi itu faktor utama dia sangat bersemangat ketika Papa menyuruhnya tinggal bersama di rumah ini.
Saat libur sekolah, aku biasa main ke rumah dua orang sahabatku, Imam dan Deni. Mereka merupakan teman satu kelasku, dan kami biasa pulang bersama dan menghabiskan sore dengan bermain bola di lapangan yang terletak tidak jauh dari rumah. Sebenarnya di rumah yang sekarang, aku memiliki banyak teman, mereka adalah tetangga-tetanggaku dari RT yang sama maupun yang bersebelahan, termasuk Imam dan Deni. Namun ketimbang yang lain, aku lebih dekat dengan mereka berdua sekarang. Kadang-kadang saat hari minggu aku dan Deni bermain PlayStation di kamar Imam, kadang juga kami membaca komik di rumah Deni, dan sesekali mereka juga bergantian main ke rumahku. Saat mereka bertanya dimana Mama, aku menjelaskan bahwa ia tengah bekerja dan hanya libur di hari Senin.
Aku cukup senang berada di rumah ini, meskipun rasanya sekarang semua benar-benar berbeda tanpa kehadiran Kak Irma. Aku tak lagi punya teman bicara yang bisa memahamiku sekarang. Hal ini membuatku jadi lebih dekat dengan Imam dan Deni, karena mereka lah satu-satunya yang bisa jadi teman ceritaku di saat Papa dan Mama tak ada. Bimo juga sekarang sudah makin mahir berbicara dengan kata-kata yang kupahami, namun berada terlalu lama di dekatnya membuatku lelah, karena dirinya benar-benar energik dan tidak bisa diam sejenak. Biasanya siang hari saat aku baru pulang sekolah ia akan berlarian ke sekeliling rumah, menggeletakkan mainan-mainannya di lantai, lalu naik ke sofa dan turun lagi, masuk ke kamarku dan mengajak bicara Om Arif yang tengah sibuk dengan buku-bukunya, lalu kembali ke luar saat Om Arif menyuruhnya bermain di ruang tamu. Aku merasa sedih ketika Bimo sesekali bertanya mengenai keberadaan Kak Irma kepadaku, saat itu terjadi aku hanya bisa bilang bahwa Kak Irma sedang pergi ke surga.
***
Kata-kata Kak Irma yang pernah dikatakannya kepadaku sewaktu kami masih tinggal di rumah kontrakan ternyata benar-benar terjadi, Papa masih sering pergi ke Cianjur selama beberapa tahun untuk membongkar kasus Paman Ahmad. Terbukti sekarang sudah genap dua tahun semenjak kedatangan Om Arif di rumah, dan selama itu pula ia tinggal sekamar denganku dan tidur di bekas ranjang Kak Irma. Dalam lubuk hati sebenarnya aku tak rela kalau kasur itu ditempati olehnya, namun apa daya aku tak bisa mengatakannya kepada Papa. Dan saat ini Om Arif jadi makin bertambah tinggi, aku sudah kelas tiga SD, dan Bimo sudah lancar berkomunikasi dan akan masuk TK tahun depan.
Om Arif masih melakukan tugas-tugasnya, namun tak seperti dulu lagi dikarenakan Bimo sudah cukup besar untuk makan sendiri dan tidak mau tidur siang karena memilih menonton TV sampai menjelang sore. Beberapa kebiasaan yang jadi rutinitas Om Arif juga sudah berkurang, ia tak lagi membaca kitab-kitabnya yang dulu sering dibacanya di sela-sela waktu luang, ia juga sudah jarang bertadarus kecuali malam Jumat, dan yang paling terlihat adalah saat aku pulang sekolah pada siang hari, ia senantiasa meninggalkan rumah untuk bermain dengan teman sebayanya yang ada di sekitar rumahku, membiarkanku dan Bimo berdua di rumah sampai maghrib datang. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli mengenai keberadaannya sejak awal, namun aku khawatir apabila sewaktu-waktu ia meninggalkan Bimo seorang diri di rumah di saat tidak ada orang lain dan tanpa pengawasan sedikitpun. Sebagai anak kecil yang memiliki keingintahuan yang besar, Bimo bisa saja mencoba hal-hal yang membahayakan dirinya, apalagi karena ia sering menonton tayangan di TV, maka kemungkinannya jadi makin besar. Pernah sepulang sekolah aku memergoki Bimo sedang naik ke atas meja makan dan ingin melompat ke lantai sambil mengenakan kain lap yang ia ikatkan di lehernya sehingga kibasan sisi satunya berkibar di punggungnya layaknya pahlawan super. Untungnya aku segera mencegahnya sebelum ia melompat dari sana.
Saat Mama dan Papa berada di rumah, mereka sering bertengkar, aku rasa ini terkait masalah keuangan yang jadi pemicu perdebatan panas yang berlangsung selama lebih dari sekali itu. Papa sudah lama tidak bekerja, mungkin ia pernah sesekali mencari pekerjaan serabutan namun hasilnya tak seberapa. Hal terpaksa ia lakukan karena sudah tidak bisa kembali melamar pekerjaan di bank lain seperti dulu, riwayat keluarga kami yang bermasalah karena kasus Paman Ahmad membuat tak ada satupun kantor yang mau menerimanya. Sementara Mama sudah tidak bekerja sebagai tukang bersih-bersih di restorannya, kudengar Mama pernah bercerita ke Papa bahwa ia dinaikkan jabatan sebagai penanggungjawab restoran karena kinerjanya yang bagus dan pemilik restoran sudah hampir pensiun.
Permasalahan besarnya adalah uang tabungan Papa sudah terkuras begitu banyak, sehingga hanya tersisa sedikit dan mungkin akan habis dalam waktu dekat. Kemudian Mama menyarankan kepada Papa untuk berhenti pergi ke Cianjur dan merelakan untuk tidak lagi melanjutkan penelusuran kasus Paman Ahmad, karena hal itu memakan biaya yang banyak, ditambah lagi di tengah keluarga kami sekarang ada Om Arif yang juga hidup bersama, sehingga pengeluaran bulanan akan semakin besar. Tidak hanya itu, tahun depan Bimo akan masuk sekolah, tentunya akan ada sejumlah uang yang harus dipersiapkan, dan bulan depan aku juga harus melunasi biaya pembayaran study tour dari sekolahku atau terancam tidak akan ikut tahun ini. Di sisi lain, Mama juga menginginkan anak-anaknya ikut les agar memiliki keterampilan atau pengetahuan lebih, entah itu les bahasa, musik, maupun olahraga.
Namun Papa enggan menanggapinya dan berusaha mengulur waktu dengan menghindari berargumen dengan Mama berkali-kali. Hal ini tentu tidak akan berakhir baik dan malahan jadi bom waktu yang sewaktu-waktu mungkin bisa meledak kapan saja. Dan benar saja, di salah satu malam saat keduanya sama-sama memiliki waktu luang untuk berdiskusi, perselisihan terjadi. Papa tetap bersikeras tak mau menghentikan penelusurannya, yang mana dua tahun lalu prediksinya hanya berkisar beberapa minggu untuk menyelesaikan kasus Paman Ahmad, nyatanya sampai sekarang ia masih belum mendapat titik terang. Baginya kasus Paman Ahmad begitu penting karena menyangkut nama baik keluarga, baik itu keluarga besarnya maupun keluarga kecilnya, dan beberapa perkataannya mungkin ada benarnya ketika ia bilang bahwa apabila kasus ini tidak terbongkar, dan status Paman Ahmad masih tetap jadi teroris seperti yang dipercayai seluruh masyarakat sekarang, bukan tidak mungkin di kemudian hari ancaman-ancaman, diskriminasi, dan perlakuan buruk dari lingkungan akan selalu beriringan dengan hidup kami.
Mengenai sejumlah uang yang harus dimiliki oleh keduanya, Papa bilang bahwa ia sampai sekarang terus berusaha untuk mendapatkannya dengan cara apapun, asalkan halal. Ia juga berkata bahwa tidak mungkin dirinya tak prihatin dengan kondisi keuangan sekarang. Dan terkait kehadiran Om Arif, bagi Papa justru karena dengan adanya dirinya, Papa bisa tetap konsisten dan bersemangat karena mendapat dukungan moral yang lebih dari hadirnya anggota keluarga yang lain di rumah ini, padahal bisa kukatakan secara jujur bahwa Om Arif belum pernah kulihat sama sekali berbincang dengan Papa terkait masalah Paman Ahmad, dalam hal ini dirinya juga sangat cuek seolah-olah kematian kakaknya hanyalah angin lewat biasa, sikap ini berbanding terbalik dengan Papa yang dirasa terlalu peduli kepada adik-adiknya yang lain sampai mengorbankan segalanya yang justru bisa jadi lebih penting.
Tetapi bagiku yang saat itu tengah mencuri-dengar perdebatan mereka di ruang keluarga dari balik pintu kamar, yang paling menyakitkan adalah jawaban Papa terkait keinginan Mama untuk mengikutsertakan anak-anaknya dalam les. Aku masih ingat jawaban dingin Papa yang benar-benar mencengangkan dan membuatku hilang minat untuk melanjutkan mendengarkan perbincangan keduanya.
“Terakhir kali Irma sama Evan ikut les renang, berguna nggak? Kalo berguna harusnya Irma sekarang ada di sini. Nyatanya apa? Enggak kan? Kemana Irma sekarang?”
Aku tahu pasti kata-kata itu membuat hati Mama hancur, meskipun ia juga tahu bahwa rasa kehilangan dan rasa bersalah yang membayangi Papa jauh lebih besar daripada miliknya, tetapi tetap saja tak sepantasnya ia berkata seperti itu kepada Mama. Dan untuk kesekian kalinya Mama kembali harus mengalah kepada suaminya. Ia tak tahu bagaimana cara mengubah arah pandang Papa yang dirasa tak sesuai dan kerap kali membahayakan masa depan keluarganya, dan bagi Mama, apabila ia sampai kehilangan keluarga satu-satunya, berarti kiamat terbesar dalam hidupnya telah datang, mengingat sebelumnya Mama sama sekali tak pernah merasakan kasih sayang dan kehangatan dari sebuah keluarga, tentunya ia tak mau kembali berada di posisi itu.
***
Pada hari minggu di pertengahan bulan April, dua buah bom bunuh diri kembali meledak di dua titik yang berbeda pada hari yang sama. Bom pertama meledak di Jakarta, di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung pada siang hari, dan bom kedua di sebuah restoran mewah dengan banyak turis asing di Surabaya pada malam harinya saat jam-jam makan malam. Kedua tragedi ini menewaskan lebih dari seratus lima puluh orang dan puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini menjadi lanjutan dari serangan terorisme terburuk selama satu dekade, menyusul tragedi bom bunuh diri di kereta yang terjadi dua tahun sebelumnya.
Akibat dari serangan tersebut, keluarga kami kembali menjadi sorotan. Pasca konferensi pers yang digelar oleh polisi sehari setelahnya, mereka mengumumkan bahwa dua serangan bom bunuh diri tersebut didalangi oleh jaringan ekstrimis yang sama dengan bom di kereta, dan lagi-lagi nama Paman Ahmad kembali disebutkan pada saat itu dikarenakan masih dalam satu afiliasi yang sama. Media kembali mendatangi rumah kami untuk memberitakan nasib terkini keluarga kami yang merupakan keluarga mantan tersangka pada peristiwa bom bunuh diri sebelumnya, namun kali ini tidak hanya rumah kami yang disorot, melainkan rumah Pakde Bagus, dan rumah Kakek di kampung juga. Seperti biasa kami sekeluarga enggan berkomentar, dan bedanya kali ini Papa tidak menelpon satu persatu anggota keluarga lainnya untuk mengarahkan mereka agar bersikap sama, mengingat mulai renggangnya hubungan antara Papa dan Pakde Bagus yang sudah lama terjadi sebelum pindahnya kami ke rumah baru ini.
Aku pun juga tak mau ambil pusing mengenai berita yang akhirnya beredar mengenai keluarga kami di sekolah. Belajar dari pengalaman sebelumnya di sekolah yang lama, aku sekarang menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman yang penasaran terkait hal tersebut agar tidak kembali mendapat perundungan seperti dulu. Tetapi jawaban yang kuberikan agaknya kupelintir sedikit agar tidak menimbulkan kebencian mereka terhadapku, meskipun mungkin terdengar kejam saat seringnya kubilang bahwa aku tak begitu mengenal Paman Ahmad dengan dekat, dan dia sudah lama tidak berhubungan dengan keluarga kami selama bertahun-tahun hingga peristiwa bom bunuh diri itu terjadi. Bukannya cemas mengenai nasibku sekarang, di saat-saat seperti ini aku malah merindukan Kak Irma. Aku jadi teringat saat-saat kami mengalami perundungan yang sama di sekolah dan berusaha saling menguatkan satu sama lain kala itu. Jujur aku merindukan caranya merangkul bahuku saat berada di jok belakang mobil sepulang sekolah saat Papa menjemput kami. Sikapnya yang selalu membuatku merasa aman, dan bagaimana caranya menyembunyikan berbagai masalah di hari-harinya yang berat agar aku tak merasa iba terhadapnya kini telah tiada. Aku merasakan kehilangan sosok kakak yang begitu peduli dan mengayomiku bahkan di saat-saat terburuk dalam hidupnya.
Hal membahagiakan terakhir yang kuingat darinya adalah saat kami berlibur ke pantai sebelum kami meninggalkannya sendirian di sana. Waktu itu kami bermain dengan ombak-ombak kecil dan pasir di pinggiran, namun ia terus berjalan ke tengah hingga air sudah setinggi dadanya. Dia selalu menenangkanku di saat diriku diliputi rasa khawatir. Saat itu ia berkata,
“Nggak apa-apa kok, kan kita bisa berenang. Anggep aja kayak di lagi les.”
Dan keraguanku seketika sirna begitu saja meskipun suara deburan ombak terus menerjang silih berganti, aku akhirnya berani berenang di sampingnya selama beberapa menit. Hal itu mungkin adalah kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepadaku. Saat kami kembali dari tempat parkir, kami tidak menemukan dirinya yang seharusnya sedang bermain di pantai siang itu. Tak bisa kubayangkan betapa ketakutannya Kak Irma saat itu, sendirian di tengah gulungan ombak besar yang menariknya terus ke tengah laut, makin lama makin jauh dari bibir pantai dan pasir putih yang ada di sekitarnya, dengan keadaan lemah ia mengumpulkan tenaga untuk berenang kembali, namun arus bawah begitu kencang membawanya pergi. Dalam batinnya ia berusaha tidak takut, merasa yakin bahwa dirinya bisa bertahan, mungkin sesekali berteriak minta tolong ke udara yang tetap bergeming. Dan akhirnya ia hanya sendirian, terombang ambing di sana dalam kebisuan, tak ada yang menjawab permintaan tolongnya, hingga samudera menenggelamkan seluruh tubuhnya dengan begitu lembut dan melepaskan jiwanya ke angkasa.
***
Ketika berita mengenai bom bunuh diri menjadi lebih hangat dari tahun-tahun sebelumnya, sikap Papa kembali berubah. Ia menjadi lebih agresif sama seperti saat-saat pertama kali media mendatangi kami ketika nama Paman Ahmad dijadikan tersangka. Rutinitasnya pun seketika kembali berubah, ia tak lagi pergi ke Cianjur dalam waktu tiga hari, melainkan jadi lebih intens sehingga terkesan mulai mengabaikan keluarganya lagi. Mungkin ia panik dan takut kalau sewaktu-waktu diskriminasi dan teror dari keluarga korban akan kembali menghampiri kami dalam waktu dekat, atau ia malah merasa momen ini bagus untuk menyelesaikan kasusnya karena media sedang hangat-hangatnya mencari berita tentang keluarga kami, dan akhirnya ia bisa mendapat sarana untuk mengungkapkan fakta sebenarnya yang telah ia cari sendiri dengan perjuangan selama bertahun-tahun ini. Namun hal ini tidak memicu simpati dari Mama, keresahan di wajahnya setiap kali pulang kerja dan mendapati bahwa Papa tidak ada di rumah berhasil membuktikannya secara jelas kepadaku.
Mama jadi lebih perhatian kepadaku dan Bimo, ia takut hal yang sama kembali terulang, bukan cuma tentang diskriminasi, melainkan pengabaian dari Papa yang kembali terjun untuk menggali obsesinya lebih dalam lagi setiap harinya. Lalu seperti biasa Mama menasihati Om Arif agar tidak terpancing emosi apabila dirasa nantinya akan ada hal-hal yang menyinggungnya dari luar, karena sekarang ia berada di rumah kami dan belum pernah merasakan hal tersebut terjadi sebelumnya. Setelah beberapa hari, akhirnya ronde kesekian dari pertengkaran Mama dan Papa terjadi lagi. Dan lagi-lagi isinya masih sama, terkait masalah keuangan, obsesi Papa yang tiada habisnya, dan masa depan kami sebagai anak-anaknya. Sekarang rasanya aku sudah terbiasa mendapati hal-hal tersebut, namun aku malah kasihan dengan Bimo yang harus mendekam di kamar Mama dalam keadaan pintu terkunci saat keduanya tengah bertengkar. Aku tak tahu pada jam-jam tersebut, yang mana biasanya pada malam hari selepas jam sembilan malam, apakah Bimo sudah tertidur pulas atau belum, sekiranya belum tentu saja ia akan merasa kebingungan ketika mendengar suara Mama dan Papa saling bentak satu sama lain dengan nada tinggi dari ruang keluarga yang harusnya digunakan untuk berkumpul bersama dan menikmati momen-momen kebahagiaan.
Setelah malam itu keduanya makin terlihat jarang berinteraksi satu sama lain, suasananya hampir sama seperti ketika mereka berdua tengah berduka selepas kepergian Kak Irma, tapi bedanya sekarang mereka sama-sama dalam keadaan memendam amarah satu sama lain. Sebagai pengamat yang menyaksikan ini setiap hari, aku sedikit banyaknya mungkin bisa paham mengenai perasaan keduanya, dimana Mama yang selalu merasa dirinya harus mengalah dan menoleransi kesalahan-kesalahan Papa sebelumnya, yang mana juga tidak berperan semestinya sebagai seorang suami dan kepala keluarga yang baik dalam mengemban tanggungjawab terhadap bahtera rumah tangga dan kelangsungan hidup orang-orang di dalamnya. Sedangkan Papa pasti selalu berpikiran bahwa Mama bukanlah istri yang bisa memahami perasaannya seutuhnya, tidak suportif dan melimpahkan semua permasalahan yang terjadi di keluarga ini kepadanya secara berulang-ulang sampai sekarang. Dan tentunya di tengah perang dingin tersebut lagi-lagi akulah yang jadi korbannya. Karena keduanya terlalu sibuk mengurus urusannya masing-masing agar kapal ini tidak karam, mereka jadi tidak bisa bersatu untuk memperhatikan anak-anak mereka. Ini semua bukan tentang bagaimana mereka memberiku makanan yang cukup, uang jajan, ataupun mengantarku ke sekolah setiap harinya, melainkan mengenai keberadaan mereka yang kubutuhkan, bukan cuma sekedar ada, tetapi juga hadir di sepanjang kehidupanku saat ini.
Sebagai anak umur delapan tahun, aku telah merasakan banyak hal yang tak seharusnya kurasakan di usia itu. Apakah ini normal aku pun juga tak tahu, dan aku yakin tiap keluarga punya masalahnya masing-masing, tapi kenapa masalah yang ada di keluargaku begitu berat dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk mengatasi itu semua, aku hanya bisa melampiaskannya dengan bermain bersama Imam dan Deni setiap hari libur. Terkadang, aku juga bercerita kepada mereka mengenai betapa rumitnya kehidupan yang kujalani dan mempertanyakan apakah semua ini ada akhirnya atau akan tetap seperti ini selamanya, untungnya mereka selalu bisa membuat perasaanku jadi lebih baik dengan berbagai cara sederhana yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.